Sunday, January 30, 2005

(always) In my dreams

Aku pikir, aku sudah menemukan beberapa lagu yang membekas di hati. Terlalu banyak untuk kususun urutannya di sini. Aku yakin, beberapa lagu tersebut juga pasti membekas--entah seberapa dalam--dihati beberapa diantara anda sekalian. Bagaimana bekas itu bisa timbul, sejuta cerita bisa disusun di blogger masing-masing bertahun-tahun mungkin lamanya.

Buatku pribadi, lagu ini baru kusadari adalah yang paling membekas di hatiku dulu, kini dan seterusnya. Pertama kali mendengar lagu ini sekitar tahun 1988, kalau tidak salah sebagai soundtrack film seri "Lucan" di TVRI. Adakah diantara anda yang ingat, tentang film tersebut?? Waktu itu aku belum mengerti bahasa Inggris sama sekali, dan aku hanya ingat melodinya saja hingga aku dewasa.

Ketika kuliah di tahun-tahun terakhir (kira-kira 12 tahun kemudian!), aku mendengar lagu ini dan akhirnya mengetahui, grup musik yang menyanyikannya, judul dan liriknya (bahkan aku bisa mendownload-nya, thanks to Bos Ucup dan Audiogalaxy). Kembali lagu ini mempertegas bekas yang pernah ditanamkannya--hanya melodi--waktu dulu. Ketika kemudian kini kudengarkan setiap waktu, aku selalu hanyut dalam lagu ini.

Saat ini, aku begitu tenggelam dalam lagu ini. Inilah satu-satunya lagu yang paling menggambarkan perasaanku yang sesungguhnya. Segala apa yang kukerjakan seperti coba digambarkan dalam lagu ini. Aku tak sanggup menceritakan bagaimana rasa lagu ini dikaitkan dengan perasaanku sesungguhnya. Jika anda mengerti lagu tersebut, mungkin kira-kira begitulah perasaanku saat ini...

Berikut lirik lagu tersebut:

There was a time some time ago
When every sunrise meant a sunny day, oh a sunny day
But now when the morning light shines in
It only disturbs the dreamland where I lay, oh where I lay
I used to thank the lord when I'd wake
For life and love and the golden sky above me
But now I pray the stars will go on shinin'
You see in my dreams you love me

Daybreak is a joyful time
Just listen to the songbird harmonies, oh the harmonies
But, I wish the dawn would never come
I wish there was silence in the trees, oh the trees
If only I could stay asleep
At least I could pretend you're thinkin' of me
'Cause nighttime is the one time I am happy
You see in my dreams

We climb and climb and at the top we fly
Let the world go on below us
We are lost in time
And I don't know really what it means
All I know is that you love me
In my dreams

I keep hopin' one day I'll awaken
And somehow she'll be lying by my side
And as I wonder if the dawn is really breakin'
She touches me and suddenly I'm alive

And, we climb and climb and at the top we fly
Let the world go on below us
We are lost in time
And I don't know really what it means
All I know is that you love me
In my dreams

And we climb and climb and at the top we fly
Let the world go on below us
We are lost in time
And I don't know really what it means
All I know is that you love me
In my dreams oh oh oh oh in
In my dreams


In My Dreams
REO Speedwagon
(Words & Music: Kevin Cronin & Tom Kelly)
From: Album "Life As We Know It"


├ůs, 30jan2005

Monday, January 10, 2005

Kenapa...

Putih...
selimut putih menutupi gelap
suram pepohon kering
dingin membeku

Tiada senyum dibalik wajah itu
bagaimana mempertahankan ceria
dalam kerasnya cuaca...

Lalu membayangkan asa
kenapa aku ada
di sini hari ini...??

Thursday, January 06, 2005

Ketika...

Ketika aku berjanji pada angin musim dingin untuk tabah melewati kerasnya hari, aku tidak menyangka bahwa aku akan ada di situasi seperti sekarang ini. Sepi seakan tak putus mengurung, mendekap erat, memetakan setiap jengkal tubuhku dan perlahan mengikis jiwaku. Setiap akhir pekan, aku bagai menuai nelangsa... Mengukur setiap sudut ruangan, meski sudah pasti tak akan berubah setelah sekian purnama aku menempatinya. Sudah berkali entah berapa, jalan melepas selimut debu putihnya berganti kerikil-kerikil keras nan basah oleh lelehan air beku itu. Tak ada lagi tapak-tapak bercampur baur menciptakan garis di lapang luas seolah menunjukkan betapa janji dan hidup tak pernah linier. Betapa pun kukatakan aku tabah, tetap saja setiap senja aku menunggu gelap datang agar segera menelan jeritan sepiku.

Ketika rasa itu belum sedikit pun berkurang, aku pun merasa sia dalam usaha. Apa yang kubuat tak pernah bisa berdaya menjadi gemilang. Aku terus menciptakan kesalahan, dan tak satu pun upayaku jadi bernilai. Aku tak tahu harus bercerita bagaimana, ketika yang kudengar selalu betapa aku tak mampu... memberi apa pun, menyemangati, menunjukkan bukti, segera cepat, dan masih banyak lagi kealpaan yang terus menerus jadi bagian diriku tanpa ada satu pun yang boleh kuanggap buah upayaku. Ketika itu, aku merasa tak pernah berusaha.

Ketika kegagalan demi kegagalan ku telan, siapakah yang mau mendengar? Tak tahu pula pada siapa aku mohon didengar. Namun, kulihat itu bukanlah kegagalanku melainkan kecewanya karena kealpaanku. Aku menyesal, dan aku berusaha berubahnya. Aku tak putus semangat, maka kucoba lagi dan kucoba lagi. Meski pasti aku bagai keledai dungu yang sesekali masih terperosok ke lubang yang sama, tapi aku berusaha mengingat bilakah aku menemui lubang tersebut. Namun, mungkin upaya mengingat lubang itu tidaklah penting baginya karena sekali jadi keledai maka hanya kasihan yang layak untuk kesalahanku.

Ketika segala yang kuperbuat terlupakan... Iya, terlupakan maka yang boleh diingat hanyalah kesalahan dan kegagalan. Tak ketinggalan keburukan dan kelemahan. Aku tak pernah ingin menggali kesombongan akan keberhasilan, namun secuil apresiasi bolehlah kujadikan acuan agar yang baik dan benar bisa berulang dari usahaku. Namun, bilakah itu ada di matanya?

Ketika kata-kata cinta masih ingin kuucapkan lantang melewati benua dan samudera luas, aku kian merasa tenggelam dalam nista. Cinta tak pernah mengenal kasih dalam narasiku, melainkan air mata karena tangis bukan karena bahagia. Meski terdengar aku tak mengucapkannya lagi, jauh di dalam lubuk hati masih keras kugemakan kata-kata cinta dan sayang baginya meski tak pernah disambut tulus mengurai dalam jelmaan sebait kata-kata atau sekedar senyum dan tangis bahagia.

Ketika itu semua, aku hanya boleh mengucap syukur dan doa harap... agar segalanya jadi kian lebih baik, tak perlu lah keadaanku yang demikian.