Thursday, December 27, 2007

If you curious how traffic jam occur in Jakarta...


If you really curious how traffic jam occur in Jakarta, maybe you could take a look at what the mathematician conclude when they try to solve the traffic jam mystery. Using mathematical model, they solve the causes of traffic jam as follow:
Their model revealed that slowing down below a critical speed when reacting to such an event, a driver would force the car behind to slow down further and the next car back to reduce its speed further still. The result of this is that several miles back, cars would finally grind to a halt, with drivers oblivious to the reason for their delay. The model predicts that this is a very typical scenario on a busy highway (above 15 vehicles per km). The jam moves backwards through the traffic creating a so-called ‘backward traveling wave’, which drivers may encounter many miles upstream, several minutes after it was triggered.
As clearly seen recently in Jakarta, population of cars have increase dramatically while length of the road is not rise significantly. If you want to find out what causes any congestion occur while you drive your car or motorcycle, it is almost certain that they caused by backward traveling wave by following activities:
  1. Pedestrians crossing the road. If you notice, the more pedestrians crossing the road given the size of the zebra-cross, the the longer you will be stuck in the traffic jam. (See picture). In this case, it is not only the driver who suffer from the situation. The pedestrians also facing difficulties to cross the road for sure - and safe.
  2. Stop by public transport, especially angkot and bus. The number of bus or angkot, and the longer they stop by at a particular spot of the road, it will increase the wave of backward traveling. You may see the case at the mall or market.
  3. Distances among U-turns and numbers of junction. The closer a distance between two U-turns, it is most likely to increase the wave of backward traveling. Not only because queuing U-turns maneuver of cars but also because cars who is stuck in the queuing and wish to change the line. If the U-turns also quite close with a junction then it will adding up the wave.
Therefore, if you ask me what is the solution for heavy traffic jam in Jakarta? I believe, the only single solution is reduce numbers of cars on the road and re-arrange the traffic flow - including pedestrians flow. Mass rapid transport system, e.g Bus Way or Angkot Way, is one necessary policy but not a panacea for road congestion in Jakarta. While adding more road is only a pain killer.

The next problem - and this is the most difficult one - is how much are you willing to give up not driving your cars or riding motorcycles? How much are you willing to crossing the road at the appropriate location, i.e zebra-cross???

Monday, December 24, 2007

Quote of the day: Pengorbanan adalah "memberi"

Pengorbanan adalah ”memberi”. Di dalamnya, waktu tak terulangi. Seperti yang dilakukan Ibrahim, kata kuncinya adalah ”ikhlas”. Tak ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak. Baginya, tak ada ”kelak”. Waktu tak diperlakukan sebagai lingkaran dengan ujung yang akan bertaut kembali.
By Goenawan Muhammad
Catatan Pinggir, Majalah Tempo Edisi. 44/XXXVI/24 - 30 Desember 2007

Hindu party? Get real!!

First of all, I am not against the idea of having religion based party. When I read the news about New Hindu Party for 2009 general election, I could not help myself to wonder. Why Hindu?

You may answer it simply by "Why not?". There is no Hindu party in Indonesia, while there are Hindu's people in Indonesia that need to be represented politically. Or, the "philosophical' reason behind this new Hindu party as mentioned here,
Ngurah Arya (the founder) believes that now Dharma calling for reinventing the good politics in Indonesia. We should keep Dharma to lead this country and maintain our ancestor legacy. May this is the true calling, the call of Dharma for Dharma.
I cannot stop myself for keep inquiring, why Hindu? What is the specialty of Dharma in politics? Ok, let's keep that "too sophisticated" question behind. Instead, lets talk about the number. How many Hindu's voter in Indonesia? If you get my question, then you maybe able to figure out how many representative would be possible to get by the party? For your information, Hindu population in Indonesia not more then 5 % approximately from total population. Just by that simple figure, you should be realize that Hindu will always be minority groups in Indonesian politics. Also, are there any non-Hindu groups in Indonesia that will vote for Hindu's party? I believe, NONE of them!

Why don't you re-allocate that money for political garbage - establishing branches, campaign, etc - into more economically productive sector. For instance, why don't you initiate and established an Indonesian-Hindu university? That is sound more beneficial since it will impacted on accumulation of Indonesian-Hindu's (human) capital. Julian Simon said, "human is the ultimate resource!" So, why don't used the money for enhancing them??

Tuesday, December 18, 2007

KHL = Kecuali Hari Libur


Aku menerima email yang berisi foto dan peringatan tentang sebuah rambu lalu-lintas yang memuat singkatan "baru". Aku sendiri belum mengecek kebenaran tentang keberadaan rambu lalu-lintas tersebut. Namun, jika ternyata benar mungkin Anda akan menjadi tahu dan waspada jika menemukan singkatan KHL seperti di rambu lalu-lintas tersebut.

Kalau Anda ingin tertawa silahkan saja lho...


Catatan: foto di atas bukan hasil potretanku sendiri. Aku menerimanya dari salah satu mailing list yang aku ikuti. Jadi, mohon maaf jika si empunya foto melihat. Maka, dengan ini Aku telah mengklarifikasi perihal hak cipta atas foto tersebut.

Saturday, December 15, 2007

Quote of the day: On Microcredit

I study economics, that is why I love the following quote on "The Velocity of Circulation" from the episode of serial Numb3rs - Money for Nothing - as follow:
"The efficiency of microcredit is something like the capillary action of a paper towel absorbing liquid. The economic structure of a community is like a paper cloth - people connected by commerce. The difference is, as money enters the fabric of economy, it actually creates more money. Say a woman has money to buy material and sells clothing at a market. The woman then brings back cash to her village, buys food and other essentials for her family. Money gets absorbed, spreads around, and soon more people have cash to spend and invest."
Can you figure out how many economic concepts in the above quotes? If you watch the movie and pay attention with the graphical illustration on how the velocity of microcredit circulation works, then you will be amaze. I hope so, if you like (read: study) economics...

Saturday, December 01, 2007

Buddha

Tidak bisa lebih setuju lagi terhadap opini yang ditulis Pak Gede Prama di Kompas hari Sabtu, 1 Desember 2007. Pak Gede Prama menulis artikel yang berjudul Cinta, Kedamaian, Pencerahan. Yang membuatku setuju sejak awal tulisan adalah kutipan berikut:
"Albert Einstein - fisikawan besar abad ke-20 - berpendapat agama yang bisa memenuhi kebutuhan intelek manusia masa depan adalah agama Buddha."
Terlepas dari agama yang ditunjuk, dalam hal ini Buddha, aku tergugah mendalami apa yang dimaksud dengan kebutuhan intelek manusia masa depan? Dan Pak Gede Prama memberi jawaban yang membuatku setuju untuk kedua kalinya, yaitu kedamaian. Jadi, agama apa pun selama dia bisa memberikan bukti dari ajarannya yang mengarah pada kedamaian merupakan agama yang mampu memenuhi kebutuhan intelek manusia. Sementara ini, aku hanya melihat bahwa Buddha-lah yang telah mampu secara konsisten menunjukkan semangat perdamaian tanpa cela di dalam ajarannya.

Hari-hari belakangan ini, ketika semakin banyak agama yang kian memperkuat stigma sebagai agama utama, semakin menjauhkan semangat agama sebagai pembawa pesan perdamaian. Agama yang semakin kronis dijadikan alat politik, alat kekuasaan, dan media progpaganda bahkan agitasi untuk melakukan tindak kekerasan adalah agama yang lebih tepat disebagai ideologi ketimbang wahyu Tuhan.

Sai Baba berkata, "The greatest spiritual practice is to transform love into service". Jika kita meyakini bahwa agama yang kita anut mengandung cinta dan kedamaian, mari mentransformasikan semangat cinta dan kedamaian dalam keseharian kita dengan berlatih laksana Buddha. Seperti disarankan Pak Gede Prama,
"Meminjam cerita Zen, setiap kata hanya jari yang menunjuk bulan. Bahkan kata-kata Buddha digabung dengan Krishna pun tidak bisa mengantar manusia menemukan pencerahan, terutama bila sebatas dimengerti lalu lupa. Apa yang kita tahu adalah sebuah tebing. Apa yang kita laksanakan dalam keseharian adalah tebing lain. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya adalah latihan."

Friday, October 26, 2007

Update: double cute picture!

I want to update the previous posting on "double good news!". Please take a look at "double" cute picture below.

The first "cute" picture definitely cute baby.
Secondly is the picture of cute father-mother with their cute baby. Hope that the parents will 'hate' me a lot by saying them 'cute'. But hey parents! Please keep in your mind that both of you are cute but not as cute as the baby.

Once again, CONGRATZ!
Alas! I forgot to ask what is the baby's nickname...






*Photos are downloaded from Paksi & Beby photo album. I did not get official permission from the owner to share them. But since the link has been spreading out in my office mailbox, thus I may assumed that it can be access freely. :)

Tuesday, October 09, 2007

spanduk: biasakan "tangan kanan" di Depok


Walikota Depok melalui spanduknya (lihat foto) menghimbau sebagai berikut:
Marhaban ya Ramadhan
Mari kita biasakan makan & minum dengan tangan kanan
sebagai cermin moral budaya bangsa
serta ajaran Rasulullah S A W
Apakah ada yang salah dengan himbauan tersebut? Kalau anda membacanya sekali, tentu tidak akan terlihat salah sama sekali. Secara tata bahasa pun tidak ada kesalahan. Tapi menurutku, yang salah - dan cukup fatal - adalah ide yang dimuat oleh himbauan tersebut.

Menurut pemahamanku, himbauan tersebut ingin mengajak warga Depok untuk "membiasakan" makan dan minum dengan tangan kanan. Pertanyaan kritis dari himbauan tersebut adalah apakah selama ini warga Depok "belum biasa" untuk makan dan minum dengan tangan kanan? Apakah mayoritas warga Depok banyak yang 'kidal'?

Andaikan sekarang boleh kita survei tentang kebiasaan fungsi tangan kanan versus tangan kiri bagi masyarakat Indonesia, termasuk Depok; maka aku yakin bahwa 99 persen lebih masyarakat Indonesia umumnya dan Depok khususnya sudah menggunakan tangan kanannya untuk makan dan minum. Secara budaya dan adat istiadat, masyarakat Indonesia sudah sejak kecil diajarkan dan didoktrinasi bahwa tangan kanan adalah "tangan baik" sedangkan tangan kiri adalah "tangan jelek". Sehingga, untuk makan dan minum atau segala hal yang baik (misal: bersalaman, menerima pemberian, dsb) maka secara alamiah orang Indonesia pasti menggunakan tangan kanannya. Sedangkan untuk membersihkan diri (setelah buang air besar maupun kecil) atau mengambil kotoran maka tangan kirilah yang didaulat melakukannya.
Jadi, kenapa sekarang masyarakat khususnya warga Depok masih perlu dihimbau (baca: diingatkan!) untuk makan dan minum dengan tangan kanan? Padahal selama ini dan mungkin hingga nanti - entah kapan - tangan kanan masih akan tetap menjadi tangan "primadona" untuk makan, minum, salaman, menerima pemberian, dan lain-lain hal yang baik-baik.

Aku mencoba menduga-duga apa akar ide dari spanduk tersebut. Beberapa dugaan yang terpikirkan olehku adalah sebagai berikut:
  1. Menurut penasehat Walikota Depok, yang kemudian diamini oleh sang Walikota sendiri (lihat foto-foto tim Depok tersebut di spanduk) bahwa kini telah terjadi pergeseran kebiasaan makan dan minum warga Depok dari sebelumnya biasa menggunakan tangan kanan menjadi tangan kiri. Oh ya?
  2. Walikota Depok ingin menunjukkan kepada warga Depok bahwa ia dan seluruh staf-nya (lihat lagi foto-foto staf pemerintahan Depok di spanduk) selama ini telah memiliki moral budaya bangsa Indonesia dan menjalankan ajaran Rasul dengan baik sehingga diharapkan warga Depok juga mengikuti jejak mereka. Oh ya? (Lagi!)
  3. Karena spanduk ini adalah dalam rangka untuk menyambut bulan suci Ramadhan, maka salah satu tema yang cukup berkaitan dengan bulan suci tersebut adalah makan dan minum. Oleh sebab itu, salah satu hal yang bisa dihimbau adalah tentang penggunaan "tangan kanan" untuk makan dan minum. Wah, apakah seremeh itu?
Jika memang dugaan no.3 yang paling mungkin mendekati ide dasar spanduk tersebut, tidakkah itu terlalu sia-sia dan tidak menunjukkan prioritas? Daripada memasang spanduk yang "retorik" seperti itu, tidakkah lebih baik memasang spanduk yang menghimbau tentang ibadah yang kusyuk, atau pesan untuk menjaga perdamaian, atau jauhkan diri dari narkoba? Tidakkah ada persoalan atau pesan yang jauh lebih "penting" dari sekedar mengingatkan "kebiasaan" yang sudah menjadi "kebiasaan" sejak dulu?

Cobalah anda bayangkan lagi, apakah dugaan maksud dan tujuan spanduk yang diluncurkan oleh Walikota Depok tersebut. Bolehlah berbagi denganku agar bisa terpuaskan sedikit banyak kebingungan akan manfaat dipasangnya spanduk tersebut.

Monday, October 08, 2007

new gadget: iPod nano


Welcome Apple! It's been almost two week since I bought by new gadget: Apple iPod nano Black 8GB. Honestly, I have research quite long for several apple products. And many compliments about iPod especially are true indeed, by my experience with this black iPod. There are several things that makes me really in love with my iPod:
  1. It's very light and small enough (but not too small), so it is really ergonomics to carry on or to put into your pocket.
  2. Although the sound quality probably not too superb, but standar-universal earphone jack makes the iPod become more applicable to use withother device. For example, I bought FM modulator so I can play my iPod in my car-cassette player. It's very simple. Or, I can use my old earphone to hear the playlist in the iPod. It saved my budget a lot.
  3. The feature and user-interface are really superb. Only using soft touch and small movement along the jog interface, you can reach the menu and select the song based on your own preference: album, artist, song title, genre, and many more.
  4. 8Gb capacity is really huge, in fact! I've already save more than 800 songs there and it seems I started to run out of albums and songs to add in. That's great!
There are many other advantage of this iPod. But, let me have all of those advantage by myself and I'll let you keep or even share yours. In short, iPod is more than just a good music player for your style but the functionality and features are outweighing the advantage of usual music player in the market.


Wednesday, October 03, 2007

salt, power plant, and urinate

In the era of searching new source of energy, especially clean-renewable one, the following information is really an interesting effort that needs to be considered by Indonesia.

The news about Norway's Statkraft will tries to build salt power could be considered as a proof that there's still another possible and potential energy resource that obviously suitable with Indonesia's endowments, environmentally clean and emission-free. The idea of this power plant is as follow:
The plant uses seawater and fresh water separated by a membrane. The fresh water creates pressure as it enters the seawater via the membrane and this pressure is converted to energy.
Another name for this kind of power plant is "osmotic power plant". Osmotic or osmosis is the passage of water from a region of high water concentration through a semi-permeable membrane to a region of low water concentration. This kind of process is easily observe with our body which often create almost similar energy when we want to urinate. Isn't that interesting?

Just for your thought of fun with salt, please watch this demonstration video on how salt could generate power.

Thursday, September 27, 2007

kemalaikatan

Aku ingin mengajukan sebuah istilah baru yaitu KEMALAIKATAN. Kata tersebut untuk menambah istilah KESETANAN yang sudah kita kenal selama ini. Sebelumnya, kita kerap menggunakan istilah "kesetanan" untuk pengemudi mobil atau motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan cenderung ugal-ugalan (mohon dicatat, dulu pengendara motor belumlah sebanyak belakangan ini). Jika kita melihat pengemudi atau pengguna jalan yang tidak disiplin, akan mudah sekali kita mengumpat "Setan!". Atau, jika menggunakan tata bahasa yang adab kita akan mengatakan, "Pengemudi atau pengguna jalan tersebut melaju sambil kesetanan".

Namun, menurutku saat ini istilah "kesetanan" sudah tidak layak lagi untuk terutama bagi pengendara motor yang jumlahnya semakin banyak dan cenderung tidak memiliki disiplin, etika, dan adab berkendara di jalan raya yang semakin padat. Mereka cenderung semaunya sendiri, tidak memiliki kesadaran bahwa manuver dan gerakan yang mereka lakukan kerap membahayakan bagi sesama pengendara motor lain maupun pengemudi mobil apalagi pejalan kaki. Hal tersebut terutama akan sangat terlihat ketika kita tengah berada di suatu kemacetan. Yang lebih miris adalah jika mereka mengalami kecelakaan yang melibatkan mobil, sudah hampir pasti bahwa pengendara motor akan 'merasa' benar dan pengemudi mobil 'pasti' salah.

Kisah "malaikat-malaikat" jalan raya di Jakarta tersebut bisa dibaca di sini . Salah satu bukti "kemalaikatan" para pengendara motor dapat ditunjukkan oleh kutipan berikut:
SIKAP seenaknya para pengendara motor juga tercermin dari kebiasaan mereka menggunakan jalur jalan yang berlawanan pada pagi dan sore hari, ketika lalu lintas di Jakarta sedang macet-macetnya. Kebiasaan ini umum dilakukan para penglaju dari kawasan pinggiran Jakarta, termasuk dari Bekasi, Ciputat, dan Tangerang.
Belum lagi ditambah pernyataan berikut ini:
Hingga kini, pengedara sepeda motor masih menjadi pelanggar rambu-rambu dan marka jalan nomor satu di Jakarta, disusul kendaraan umum...
Dengan situasi tersebut, aku ingin menggunakan analogi bahwa jika "setan" selalu salah dan sangat dibenci maka "malaikat" dianggap selalu benar dan sangat dicintai. Oleh karena itulah, jika pengguna motor begitu "bernafsu" dalam mengendarai motornya serta bertindak seenaknya sendiri. Apalagi ketika mengalami kecelakaan lalu selalu "pasti" menyalahkan pihak lain (tanpa mau sama sekali introspeksi, apakah mungkin kecelakaan tersebut terjadi karena gaya mengemudi yang tidak adab?); maka mereka dapat disebut dengan istilah "KEMALAIKATAN".

Baca juga sebuah surat terbuka untuk para "malaikat" jalan raya tersebut. Sayangnya, aku sudah jenuh jika berbaik-baik dalam puisi dengan mereka seperti itu.

Tuesday, September 25, 2007

filosofi jurang


Eep Saefulloh Fatah dalam opininya hari ini yang berjudul Menegakkan Politik Lingkungan, menyebutkan satu istilah yaitu "kesadaran yang kasip" yang berarti "kesadaran yang datang terlambat".

Aku sudah lama menyimpulkan tentang "kesadaran kasip" tersebut yang kusebut sebagai "filosofi jurang". Orang Indonesia - tak peduli latar belakang ekonomi, sosial budaya, dan pendidikannya - umumnya menganut "filosofi jurang".

Filosofi ini maksudnya adalah orang tidak akan percaya jika di depannya terdapat sebuah jurang sebelum orang tersebut telah berada di jurang tersebut. Jadi, setelah ia masuk ke dalam jurang tersebut beberapa saat sebelum dia menyentuh dasar jurang baru ia percaya dan mengakui bahwa "Betul, ternyata memang ada jurang di depan saya".

Jika "kesadaran yang kasip" masih bisa ditoleransi oleh pepatah "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali". Namun, "filosofi jurang" tidak mentolerir keterlambatan. Karena, keterlambatan hanya milik mereka yang belum sampai masuk jurang. Kalau sudah masuk jurang, ya sudah...

Monday, September 24, 2007

double good news!

Just want to share double good news:

I am happy to welcome
Brama Vidya Putra
First son of my best friend - Paksi and Beby. May God bless you all.

What? I said "double"? Yes, hearing of baby birth news is worth "double" for me. One for the baby and the other one is for the parents, particularly the mother. Am I wrong?

Once again, have a great welcome for Brama! or Vidya? or Putra?* Picture will update soon.

*I should ask his father or mother first what is his nickname...

Thursday, September 20, 2007

selamat datang Ramadan

"Dalam wajah yang lapar, yang dekat dengan tubuh, dalam kekurangan dan kefanaan, manusia hadir mau tak mau mengalami dirinya bukan sebagai sebuah ide, bukan sebuah konsep yang abstrak. Perut yang meminta nasi dan tenggorokan yang sedikit bau basah tidak ada dalam Manusia dengan ”M”. Seraya bersentuhan dalam sifatnya yang konkret, manusia mengalami dan menyadari apa artinya perubahan, apa perlunya perbedaan dari waktu ke waktu, perbedaan dari satu situasi ke situasi lain."
Kutipan dari Catatan Pinggir Goenawan Muhammad (GM) yang berjudul "Puasa" mengingatkanku bahwa Ramadan sudah datang tahun ini dan aku ingin menghaturkan selamat menjalankan ibadah puasa untuk semua saudara-saudari Muslim.

Wednesday, September 19, 2007

Quote of the day: The things that will destroy us...

"The things that will destroy us are:
  • politics without principle;
  • pleasure without conscience;
  • wealth without work;
  • knowledge without character;
  • business without morality;
  • science without humanity; and
  • worship without sacrifice."
Great quote by Mahatma Mohandas K. Gandhi


Powered by ScribeFire.

Monday, September 10, 2007

Kenaikan Tarif Tol vis-à-vis Hasil Survei


Hasil survei yang dilakukan oleh Indonesia Development Monitoring (IDM) diberi judul oleh Detik.com dengan "Tarif Tol Naik, Kok Hasil Survei Malah Memuaskan". Judul berita tersebut bernada pertanyaan. Menurutku, kemungkinan tanggapan atas pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

Aku tidak memiliki laporan survey IDM ini secara lengkap. Namun, dari sumber yang berhasil kutemukan ditengarai bahwa survey IDM mengenai kepuasan penggunaan jalan tol terhadap kebutuhan dan performance jalan tol tersebut, konon dilakukan dengan tujuan umum untuk melihat seberapa persenkah kepuasan penggunaan jalan tol di daerah DKI Jakarta dan di luar DKI Jakarta yang terkenal akan kemacetan, yang berbanding dengan tingkat kebutuhan dan performance jalan tol itu sendiri(?).

Menurutku, ada kerancuan dalam menetapkan variabel dan kemungkinan hubungan (kausalitas). Yang aku pahami dari pernyataan tujuan penelitian tersebut adalah ada hubungan antara tingkat kebutuhan dan performance dengan kepuasan pengguna jalan tol. Misal, diduga bahwa seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan performance jalan tol maka kepuasan pengguna juga meningkat. Betul demikian? Menurutku, tidaklah sesederhana ini.

Survei dilakukan bulan Agustus 2007 (berarti jauh sebelum penerapan tarif tol baru) dan dilakukan di DKI Jakarta, Medan, Jawa Barat dan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan dengan jumlah total responden 1.200 orang yang terbagi menurut tiga (tertulis di sumber, dua?) kategori: Pengguna Kelas Atas, Kelas Menengah, dan Kelas Bawah. Lalu dari 1.200 responden tersebut ditetapkan 80% merupakan pengguna jalan tol dan 20% merupakan bukan pengguna jalan tol. Apakah maksud pemisahan ini sesungguhnya?

Jika anda responden yang tidak pernah menggunakan jalan tol, apakah jawaban anda tentang "performance" jalan tol masih sahih? Menurutku tidak! Artinya, survei ini mengandung 20% sampel yang tidak relevan sehingga temuan IDM ada kemungkinan over-estimate. Jika kita bisa melihat pemisahan antara 80% versus 20% tersebut, aku yakin akan ada hal menarik yang muncul untuk menguji kesahihan seluruh instrument survei ini. Misal, ada kemungkinan yang menjawab puas mayoritas berasal dari kelompok yang 20% tersebut. Bisa jadi kan?

Masalah lain dengan pemilihan responden adalah berapa besar komposisi responden di masing-masing wilayah survei di atas? Padahal kita tahu, jumlah jalan tol dan penggunanya yang terbesar di DKI Jakarta. Artinya, jika sebaran respondennya seimbang maka temuannya akan bias ke luar DKI Jakarta. Tidakkah ini akan mempengaruhi hasilnya? Belum lagi soal bagaimana pemilihan responden yang didasarkan pada pembagian tiga kelas penggunaan? Apa dasar pemisahan tersebut? Apa kriteria pengguna kelas atas, menengah, dan bawah? Bagaimana sebaran temuan menurut ketiga kelas tersebut?

Selanjutnya, survei ini menggunakan tiga(?) dimensi pengukuran yaitu Kebutuhan dan Performance yang terbagi lagi ke dalam beberapa atribut. Mulai dari sini saja menurutku sudah ada kejanggalan dan ketidakjelasan pelaksanaan survei ini. Misal, apa definisi kebutuhan? Jika ada dua orang responden, tinggal di sekitar atau dekat dengan akses ke tol. Lalu responden pertama pasti harus menggunakan tol karena lokasi kerjanya memaksa. Sedangkan responden kedua memiliki alternatif untuk tidak mengakses tol karena lokasi kerjanya tidak harus melalui jalan tol. Tidakkah tingkat kebutuhan kedua responden sangat berbeda? Artinya, mengukur kebutuhan responden hanya berdasarkan "pendapat" dan "persepsi" memiliki bias yang kental. Belum lagi jika kita perhitungkan responden yang masuk kategori 20% bukan pengguna tol. Tidakkah hasilnya jadi lebih "menarik" untuk dipertanyakan?!

Sebenarnya masih banyak lagi kejanggalan temuan survei IDM ini. Namun, sementara untuk menjawab pertanyaan judul berita di atas, kemungkinan yang terakhir adalah karena survei ini dilakukan sebelum ada kenaikan tarif tol. Jadi, meskipun survei mendapati bahwa 22,4% responden sangat setuju dan 32,6% setuju atas kenaikan tarif tol per 2 tahun yang didasarkan pada besaran inflasi, responden sesungguhnya tidak memberikan jawaban yang akurat karena mereka tidak mendapatkan pertanyaan yang spesifik. Maksudnya, jika mereka diberikan kemungkinan besaran kenaikan tarif tol secara nominal (bukan disuruh menghitung sendiri secara tidak langsung dengan 'inflasi' bla bla bla...), maka kita pasti akan menemukan bahwa betapa pun responden mampu membayar tol atau responden adalah pengguna tol yang intensif, maka sebagai konsumen si responden pasti akan menunjukkan sikap "price sensitive". Dengan kata lain, kenaikan tarif tol pasti akan mempengaruhi kesediaan (willingness) atau kemampuan (ability) mereka untuk menggunakan jalan tol.

Kesimpulannya, temuan yang mengatakan bahwa 64,2% responden menyatakan tidak terpengaruh oleh kenaikan tarif tol adalah omong kosong! Survei IDM patut dipertanyakan.


Powered by ScribeFire.

Tentang PLTN

Menurut Abram Perdana, ada tiga risiko ekonomi PLTN. Salah satunya, dan menurutku ini yang paling 'laten' adalah:
Ketiga, risiko tanggung jawab jangka panjang. Risiko ini terkait dengan ketidakpastian biaya dekomisioning dan penyimpanan akhir limbah nuklir. Karena dana dekomisioning dikumpulkan dari setiap kWh listrik yang dibangkitkan PLTN dengan metode discounted cash flow, selalu muncul kemungkinan dana tersebut tidak cukup dikemudian hari. Kemungkinan itu bisa disebabkan oleh eskalasi biaya yang tidak diperkirakan sebelumnya. Hal ini bisa terjadi mengingat menghitung biaya dekomisioning ibarat meramal masa depan, penuh ketidakpastian
Coba perhatikan kata-kata kunci yang aku sorot: risiko tanggung jawab jangka panjang, penyimpanan akhir limbah nuklir, dan penuh ketidakpastian. Ketiga kata-kata kunci tersebut adalah alasan utamaku saat ini untuk menolak PLTN di Indonesia. Menurutku, pemerintah Indonesia belum memiliki kesiapan dan pemikiran "jangka panjang". Padahal, nuklir memiliki implikasi jangka panjang yang serius. Selain implikasi positif yang sudah sering disebut-sebut, satu implikasi negatif yang jarang sekali terdengar dari para pendukung PLTN adalah bagaimana mengelola limbah nuklir dari PLTN tersebut.

Jika memang manfaat (benefit) dari emisi nol yang dihasilkan PLTN bisa melebihi biaya (cost) pengelolaan limbah nuklir, mungkin aku bisa setuju untuk PLTN dibangun. Namun, menurutku biaya yang ditimbulkan oleh limbah nuklir bukan hanya dari aspek pengelolaannya, melainkan juga dari aspek kegagalan pengelolaan atau eksternalitas jika terjadi kebocoran radiasi. Dan dampak kegagalan tersebut memiliki sifat jangka panjang dan skala dampaknya sangat luas. Inilah juga yang menurutku termasuk dari eskalasi biaya yang tidak diperkirakan sebelumnya. Dan oleh sebab itu, sudah siapkah pemerintah untuk menanggung eskalasi biaya tersebut? Kegagalan sikap pemerintah dalam menangani kasus lumpur Lapindo merupakan contoh betapa pemerintah tidak pernah siap menghadapi eskalasi "biaya" sosial atas suatu proyek pembangunan yang mengalami kegagalan. Apa yang terjadi jika kita mengalami "lumpur radioaktif" akibat limbah nuklir atau kebocoran reaktor PLTN?

Jadi, jika Carunia Mulya Firdausy dalam opininya menanyakan "PLTN, Mengapa Dikhawatirkan?". Jawabnya, kita harus khawatir dengan PLTN karena disamping manfaat yang jelas dan pasti kita akan peroleh namun kita juga harus memperhitungkan dengan sangat seksama biaya dan risiko jangka panjang dari PLTN ini termasuk biaya paling ekstrim yang mungkin terjadi jika PLTN tersebut mengalami kegagalan. Betul bahwa korupsi bisa diatasi, tapi apakah mengatasi korupsi saja sudah cukup dan apakah mudah mengatasinya? Sudahkah Indonesia berhasil dengan korupsi hingga hari ini? Korupsi hanyalah kemasan kasat mata yang saat ini jelas masih menjadi momok bagi negara. Tapi, apakah masih perlu menambah momok tersebut dengan kegagalan lingkungan akibat limbah dan kebocoran nuklir?

Jika pemerintah sudah siap dengan segala kemungkinan tersebut, bolehlah dibangun PLTN tersebut. Tapi, selama pemerintah belum sanggup maka sedianya pemerintah jangan berjudi dengan ketidakpastian dan ketidaksiapan.

Kelembagaan

Artikel Faisal Basri hari ini yang berjudul "Penguatan Kelembagaan Tercecer", menarik perhatianku dalam dua cara.

Pertama, aku merasakan sentimentil karena dia menyebut Norwegia sebagai salah satu contoh negara kesejahteraan (welfare state) yang memiliki kerangka kelembagaan (institutional framework) yang baik. Karena aku pernah mengecap kehidupan di negeri tersebut tersebut, aku sangat setuju tentang betapa baik kelembagaan di Norwegia. Tata kehidupannya pun relatif ideal, dimana dari sudut pandangku sendiri, masyarakat Norwegia memiliki prinsip hidup yang jelas antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat. Mereka bisa memisahkan dengan baik, mana yang berkaitan dengan urusan pribadi dan mana yang merupakan kemashalatan rakyat. Disiplin dan kejujuran jadi hal yang penting untuk dijadikan tingkah laku, bukan sekedar jargon pun ayat-ayat suci semata. Korupsi merupakan aib yang dianggap melanggar etika bangsa. Itu hanyalah sebagian kecil "sukses" Norwegia yang membuatku selalu terpukau dan kadang mendatangkan kerinduan yang sentimentil tadi.

Kedua, Faisal Basri berargumen tentang pentingnya menguatkan kelembagaan seperti dicontohkan oleh Norwegia dan negara-negara kesejahteraan lain: Swiss, Denmark, Swedia, dan Amerika Serikat. Namun, seperti juga ditulis oleh Aco (baca di sini), menjadi negara kesejahteraan dan kemudian memiliki kelembagaan yang kuat sangatlah tergantung pada pertanyaan bagaimana membiayai semua itu. Aku setuju dengan Aco bahwa menjadi negara kesejahteraan memiliki implikasi pajak, yang mana mereka pasti menerapkan dan mengenakan tarif pajak yang sangat tinggi bagi warganya. Untuk contoh di Norwegia, aku sudah mengalami sendiri bagaimana harus menyerahkan hampir separuh "honor" mengajar sebagai asisten dosen yang tidaklah seberapa sebagai pajak. Meski kemudian aku memperoleh 'pengembalian' (tax return), namun hal tersebut membuktikan bahwa pajak menjadi sangat vital bagi negara kesejahteraan.

Sayangnya, jika pajak ini dijadikan "sumber" pembiayaan bagi Indonesia saat ini, yang menjadi kekhawatiran adalah seberapa banyak rakyat bisa diperah untuk diambil pajaknya? Dan, yang ini lebih penting, apakah negara sudah memiliki etika dan sistem yang nyata untuk "mempertanggungjawabkan" semua penerimaan (baca: pajak yang dibayar masyarakat) bagi negara untuk "kesejahteraan"? Untuk hal ini, aku sangatlah skeptis dan pesimis. "It's hard habit to break", kata Chicago.

Menyambung tentang pajak dan kelembagaan tersebut, yang patut digarisbawahi adalah peran kelembagaan keuangan negara menjadi sangat utama dalam kaitannya dengan kelembagaan tersebut. Aku pernah bercerita tentang bagaimana "menarik"-nya cara Norwegia melakukan klaim pajak di sini. Maksudku adalah pemikiran yang sistematis dan komprehensif dalam menguatkan kelembagaan perlu dilakukan dengan memperhatikan situasi, kondisi dan pengetahuan masyarakat Indonesia. Sayangnya, Faisal Basri masih membahas secara umum kelembagaan di Indonesia. Padahal pertanyaan besar dalam hal kelembagaan di Indonesia adalah kelembagaan yang mana yang harus dikuatkan, bagaimana dan siapa yang bisa? Ini menjadi sulit untuk dirumuskan, bukan?

Norwegia dan negara-negara kesejahteraan lain menghadapi kemudahan dalam mengelola "kesejahteraan" negaranya karena beberapa hal: jumlah penduduk yang relatif kecil, luas negara yang tidak terlalu besar, tingkat keragaman masyarakat yang relatif homogen, dan faktor sejarah yang panjang dengan tingkat pembelajaran yang sudah optimal. Sedangkan Indonesia, faktanya memiliki penduduk yang besar dan beragam dan tingkat pendidikan yang masih relatif rendah. Semua itu mengakibatkan, tidak serta merta Indonesia bisa mengadopsi kerangka kelembagaan negara lain. Melainkan, Indonesia harus mencari dan mengembangkan kerangka kelembagaan yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Semua hal tersebut membutuhkan pemikiran yang menyeluruh, bukan sekedar merancang proyek atau program pembangunan lima tahunan!

Targetnya saat ini bukanlah menjadi negara kesejahteraan dengan ciri dan definisi yang sama persis seperti The Scandinavian. Mereka bisa kita jadikan rujukan. Targetnya saat ini adalah untuk menjadi lebih baik dan berubah ke arah yang semakin ideal bagi cita-cita kesejahteraan. Ideal di sini berarti semua orang merasakan perubahan tersebut dan merasakan kondisinya lebih baik.

Friday, September 07, 2007

"Green" cars? Sure?


"If someone says their car is more 'green' or 'environmentally friendly' than others then they would have to be able to document it in every aspect from production, to emissions, to energy use, to recycling,"
As I found recently that Indonesian automotive producers claim that their engine already complience with Euro2 emission standard. What does it mean to Indonesian consumers? Nothing, I believe so! Well, maybe few consumer already started to concern with such issue. But, do they know about real "green" or "environmental friendly" definitions? The above quote has really a deep meaning of "green".

I love to promote "green" car. But honestly, I only know few about what actually a "green" car is. As for my own car - it's a Japanese small city car of Suzuki Karimun - I proudly claimed that it consume quite efficient fuel. I used non-leaded (low?) fuel produced by Petronas, Primax 92 with expectation that it will also increase the efficiency of fuel consumption. So far, I manage to have 1 litre of Primax 92 for almost 15 to 16 km of driving. Since then, I really expect to have more green car in the future especially in Indonesia.

However, this news has inspire me more. Never expect car producers who claimed that their cars are more "green" than others. Like reading ads of motorcycle in Indonesia said that "our motorcyle already Euro2 standard". It's meaningless as the consumers (motorists) do not understand what does it mean and even the consumers do not have particular strategy to manage their fuel consumption efficiently. It's a complex issue that require a comprehensive strategy.

No worries, my dear friends. I do not wish Indonesia to be "green" very soon. Many people said that Indonesia is still in poor condition so then we have more right no to be so green. I am sure enough that you will 110% agree on that! Thanks God, I don not agree... there must be something that the poor Indonesia can do to be green. It's just a matter of willingness...

Thursday, September 06, 2007

Another (latent) failure...


In the case of energy conversion from kerosene to gas, it is obvious that government create double failure.

First, they failed to inform people about why people have to convert to gas. How can you expect people certainly willing to give up using kerosene after long time and convert into gas only in "one night stand" without knowing why and how? Transition and learning process are definitely need to be consider by all of those conversion supporter.

Second, they failed to communicate all of their program for sure including those energy conversion. This failure also applied for other government policies or program action as government staff and officers actually never been in the middle of their people. They never know exactly how is the situation among the people. They do not know how to talk to their people. Thus, whatever incentive they offered or policies designed by government they will always failed before launched because lack of communication capability.

That is why the above cartoon of Om Pasikom (kompas) so nicely one hundred percent correct!

Tuesday, September 04, 2007

Population Does Matter, right?


From Debnath Guharoy (Roy Morgan Consultant), in The Jakarta Post article "The 'Top 20 Cities' obsession doesn't make any marketing sense"
That amounts of 140 million people above the age of 14, all consumers in their own right. Only 25 percent of those 140 million people live in the top 20 cities, another 23 percent live in smaller towns and a massive 52 percent live in Indonesia's rural villages.
By then, you should be realized that we need to know particular information about population structure by age, gender, place of living (urban vs rural), and - if necessary - by region/province/district, etc. In fact, the analysis could be done further using various kind of statistical method or only simple descriptive approach for more detail information about population. The information exists indeed not only as much as those marketing people looking for, just like provided by many research marketing agencies.

What I want to say is actually for government at central and regional level only. Why don't you all just start to admit that population does matter?

Monday, September 03, 2007

(Malaysia) Police Brutality Poster: Great!


I just want to share what I've found in this blog, a very nice poster on Malaysian Police Brutality. Enjoy!

No Need to be Sorry!

Opini yang bagus oleh Hery Tjahjono di Kompas hari ini, berjudul "Jangan Lagi Mengemis Kata "Maaf"!". Memang seharusnya Indonesia - terutama para pemimpinnya - bisa bersikap tegas dan jelas dalam hal mau dibawa ke mana kewibawaan negara dan bangsa ini. Jika Malaysia boleh dan bisa menginjak-injak warga Indonesia yang berkontribusi baik langsung maupun tidak, legal atau pun belum legal (baca: ilegal), terhadap perekonomian Malaysia, maka Indonesia sudah seharusnya memperhatikan nasib warganya yang diinjak-injak di negara tetangga dengan cara menyelamatkan mereka dan "mengutuk keras" perlakuan semena-mena si tetangga tersebut. Tanpa perlu "mengutuk" dengan cara memutus hubungan diplomatik atau bersikap sama barbar dan diskriminatif-nya seperti tetangga tersebut, Indonesia cukup berpikir keras bagaimana caranya memberikan ruang hidup yang lebih baik bagi mereka yang teraniaya di negara yang "katanya" saudara "serumpun" itu. Seperti dikatakan oleh Tjahjono,
Maka para saudaraku, jangan lagi menuntut (baca: mengemis) kata "maaf" dari Malaysia. Itu justru refleksi dari tergerusnya martabat kita sampai ke titik nadir. Kita tak perlu maaf, kita perlu rasa hormat mereka. Dan itu tugas para pemimpin untuk bekerja lebih "sehat"!
Cara "mengutuk" yang konstruktif adalah panggil pulang tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Siapkan mereka dengan segala legalitas dan ketrampilan yang jauh lebih bermartabat. Jika memang para pemimpin bisa mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas, maka janganlah lagi berpikir untuk bekerja ke Malaysia yang tak sedikit pun memiliki hormat atas tetangga mereka. Masih banyak negara lain yang jauh lebih maju, lebih besar, yang sangat menghargai kerja dan kemanusiaan tanpa memandang "rumpun" bangsa mana. Go to hell with "serumpun"-lah!

No need to be sorry! We are a great nation, so think and act like one!

Sunday, September 02, 2007

Quote of the day: Kekuasaan dan Agama

"Abad ke-20 adalah abad yang kian mengingatkan bahwa mustahil ada kekuasaan yang dapat selamanya kencang dan mampu sepenuhnya mengisi ruang kehidupan - apalagi mengisinya dengan kepastian. Bahkan agama tidak dapat dipakai untuk menopang takhta dan kepastiannya."

Turki by Goenawan Mohamad
Catatan Pinggir, Majalah Tempo Edisi 27/27 Agustus - 02 September 2007

Rest in Peace: Badeng


Today, Saturday September 1st 2007 is the most heartbreaking moment for me.

A best friend of mine and my family has died at 9 pm, after got sick with tumor at his mouth for several weeks. His name is Badeng, our lovely black dog. He has been become our family member for exactly 12 years last August and become one of the longest being with us after our first dog Ken Ken who died at 5 years old. One thing that makes me very sad is that I could not have a chance to see his very last moment and to say farewell and thank you for his kind friendship that he had shown us – me and my family – for 12 long years.

Have a nice journey, Badeng. Rest in peace and be happy when you meet the Lord Hyang Agung. Thank you so much for your memorable kind presence, loyalty, and friendship. I will miss you so much, you naughty dog! We love you so much, Badeng.

Friday, August 31, 2007

Jasa Marga dengan motto "caveat emptor"

Caveat emptor is Latin for "Let the buyer beware"

Rasanya aku semakin sepakat bahwa apa pun badan usaha yang dikelola oleh pemerintah melalui berbagai departemen pasti tidak efisien dan cenderung memberi pelayanan buruk bagi para konsumen.

Kenaikan tarif tol kali ini pun seakan menunjukkan betapa PT Jasa Marga sebagai pengelola tol yang diarahkan (atau dikelola - apa lah bedanya) oleh Departemen Pekerjaan Umum tidak memiliki kinerja yang baik, bahkan sangat merugikan bagi para konsumen. Tentang kenaikan tarif tol kali ini, ada beberapa hal yang mengecewakan dari sikap pengelola tol yaitu:

  1. Sosialisasi tentang pelaksanaan kenaikan tarif tol tersebut yang tidak dilakukan sama sekali. Meskipun mereka mengakui bahwa mereka "terlambat", namun itu tidak merupakan jawaban atas usaha sosialisasi yang seharusnya mereka lakukan. Dengan kata lain, pengakuan terlambat itu cuma 'alasan' saja. Tidak patut diterima sama sekali
  2. Penentuan besaran kenaikan tarif tol tersebut tidaklah transparan, baik dari segi teknis perhitungan hingga argumen ekonomi di belakang nilai tarif tol baru yang diterapkan. Seperti kebanyakan perusahaan yang berurusan dengan kepentingan publik, alasan "merugi" selalu digunakan yang pada gilirannya menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memang "merugikan" konsumen.
  3. Terlepas dari besaran kenaikan tarif tol tersebut, kinerja pengelola tol sendiri tidak pernah mengalami perbaikan. Kasus-kasus klasik yang terjadi seperti pengaturan lalulintas tol yang macet, derek gratis yang hanya judulnya saja gratis tapi tetap saja memungut bayaran, hingga kenaikan tarif tol yang konsisten dilakukan tanpa kompensasi perbaikan merupakan contoh riil yang tidak bisa dipungkiri tapi selalu diabaikan oleh pengelola jalan tol.
Yang menurutku agak aneh adalah pernyataan dari Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak tentang fungsi jalan tol:
Fungsi jalan tol hakikatnya adalah untuk lalu lintas jarak jauh. Apabila masyarakat keberatan dengan mahalnya tarif tol untuk lalu lintas jarak dekat, mereka tidak usah menggunakan fasilitas jalan tol
Pertanyaan yang penting di sini adalah berapa km-kah jarak tempuh yang dianggap "jarak jauh"? Jika dari Taman Mini hingga Bintaro dianggap "jarak jauh", bagaimana dengan dari Taman Mini hingga Cilandak misalnya? Pernyataan si Dirjen tersebut menunjukkan bahwa dia tidak memiliki argumen sahih lainnya sehingga pada gilirannya membuat argumen "fungsi sesungguhnya" dari sebuah jalan tol lalu menyalahkan konsumen yang hanya ingin menggunakan sedikit fasilitas tersebut. Artinya, pengelola jalan tol menggunakan prinsip caveat emptor. Jadi, wahai para konsumen hati-hatilah jika ingin menggunakan fasilitas publik karena para pengelolanya hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri tanpa peduli terhadap para konsumennya.


Powered by ScribeFire.

Thursday, August 30, 2007

Malaysia menyesal... Untuk?!

Malaysia menyatakan deeply regret alias menyesal atas insiden pemukulan wasit karate Indonesia oleh 4 orang polisi Malaysia. Apakah Indonesia puas? Banyak orang yang tidak puas, saya tidak terlalu peduli.

Tapi satu hal yang saya peduli, apa arti yang sesungguhnya deeply regret atau menyesal tersebut? Bisa ada beberapa kemungkinan arti tersebut:
  1. Malaysia 'menyesal' atas terjadinya insiden tersebut;
  2. Malysia 'menyesal' telah melakukan pemukulan terhadap wasit karate dari Indonesia
  3. Malaysia 'menyesal' karena si Indon (baca: wasit karate dari Indonesia) ternyata mengalami luka serius akibat dipukul 4 orang polisi Malaysia;
  4. Malaysia 'menyesal' karena si Indon (baca: wasit karate dari Indonesia) ternyata masih hidup setelah dipukuli 4 orang polisi Malaysia;
Silahkan pilih yang mana?
Mungkin orang-orang di Malaysia sana sesungguhnya akan pilih No.4. Karena orang Indonesia dan Malaysia sesungguhnya serumpun (sepaham?), maka Indonesia mungkin belum menerima 'penyesalan' tersebut....

Tuesday, August 28, 2007

ECON 16200: Sharing Two Story

I started ECON 16200 Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (Environment and Natural Resource Economics) course today by informing students with reading list and suggested books related with this course. The other thing that I've been share with them today is two – supposed to be – interesting story on resources and environmental issue.

First, I distributed a two pages summary of Kenneth Boulding essay titled "The Economics of the Coming Spaceship Earth". I was quote them from Chapter 1 Box 1.1 "Natural Resource and Environmental Economics" book of Roger Perman et.al (see page 9). You may see the summary here. I believe Boulding discussion on sustainable economy in the year 1966 is becoming more relevant to see further for current and following years. Boulding initiated analysis about economic versus resource-constraint situation by contrasting two type of economy: "Cowboy economy" and "Spaceman economy". For me, the most interesting discussion from Boulding is that he already predict about today's global warming as follow:
The shadow of the future spaceship indeed is already falling over our spendthrift merriment. Oddly enough, it seems to be in pollution rather than exhaustion, that the problem Is first becoming salient. Los Angeles has run out of air, Lake Erie has become a cesspool, the oceans are getting full of lead and DDT, and the atmosphere may become man's major problem in another generation, at the rate at which we are filling it up with junk.
Does it sound like an influx-prophecy?

Secondly, I continued sharing the students with The Mystery of Easter Island. The island somehow told a story about the most extreme environmental destruction in the world and many researches indicate that it was man-made implications. Jared Diamond (2005)[*] said, "The overall picture of Easter is the most extreme example of forest destruction in the Pacific, and among the most extreme in the world: the whole forest gone, and all of its tree species extinct". The Easter Island case is one way to share concern for the future of humanity, especially using economic approach to answer several questions such as:
  • Will the environment be a constraint to human welfare?
  • What are the trade-offs: between people and nature; between the current and future generations?; and between poor and rich societies?, and finally
  • How can they be resolved?
I don't know whether the student excited or not with that two story. Hopefully, they will realize that our earth needs our attention with all knowledge that we have or gain. Since we are economist (wannabe), then obviously we should learn and use economics tools to answer the existing natural resource and environmental problems




[*] Diamond, Jared (2005). Collapse: How societies choose to fall or survive, London: Penguin Books, Ltd. p.107

Malaysia = Tukang Pukul?


Setelah sekian banyak membaca berita bahwa "majikan" Malaysia memiliki hobi memukuli para pembantu rumah tangga asal Indonesia, maka tambahan berita tentang wasit olahraga karate asal Indonesia yang dipukuli oleh polisi Malaysia hari ini membuat aku ingin mengambil kesimpulan bahwa di Malaysia penuh dengan tukang pukul. Atau, malahan aku sebenarnya ingin sekali berkesimpulan bahwa orang Malaysia semua "sakit". Entah sakit jiwa, sakit mental, atau sakit apalah. Hal tersebut karena yah itu tadi, mereka ternyata sangat ringan tangan dan mudah sekali memukul.

Meskipun demikian, orang Indonesia janganlah meniru orang Malaysia demikian. Bahkan, jika kelak bertemu orang Malaysia cobalah berterimakasih karena telah menunjukkan apa arti sesungguhnya dari "Malaysia is Truly Asia".

PS: Sangat disayangkan bahwa Presiden SBY cuma bisa prihatin (baca di sini). Tadinya aku mengharapkan dia akan bereaksi yang sama kerasnya seperti soal "kawin sebelum jadi taruna" terhadap Malaysia.


Powered by ScribeFire.

Friday, August 17, 2007

Dirgahayu!


Today is the Indonesian Independence Day.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-62.
Merdeka!

Quo Vadis Virginity

After posting about Indramayu District Head "silly" policy on Virginity Test, I have curiosity about what does it mean to become virgin? In this case, I use the same meaning of virgin both for male and female[*]. When I am trying to look for definition, I found this web that defining various definition of virginity and you are welcome to provide your own definition. Meanwhile, it also mention about several consideration for offering new definition of virginity. You are recommended to think about several situations and ask yourself about how such situations will be adequate to give a meaning for virginity. Those situations are:
  1. Is someone who is raped or molested no longer a virgin?
  2. Is actual intercourse the only act that counts when determining ones virginity?
  3. If he/she willingly engage in other intimate sexual acts but do not have intercourse, is it fair to still consider himself/herself a virgin?
  4. Is the current definition of virginity, and all the social stigma attached to it, biased toward girls? Is this right?

So, what do you think of those situations? My very simple and whole conclusion is virginity simply health or biological condition. Judgment or consideration about virginity should be only based on that factor. If you put your social stigma, religious and norms label on this definition then used it for yourself and not to put them on others. That is why I am still feeling sick and tired when I read or hear people (especially religious leader and government officer) talking about morality and at the end put women as a convict.



[*] Using Indonesian language, virgin for female called “perawan” while for male one called “perjaka”. I believe the difference is also construct – not only by language factor – but socio-culture factor where female being in sub-ordinate position compare to male

Thursday, August 16, 2007

test keperawanan? Cape' deh...

Menarik dan ruarrr biasa!!

Mengutip kata-kata dari Ibu/Mbak Megakarti di NEWSdotCOM: Kantor Berita Republik Mimpi, "Inilah akibatnya kalau Bupatinya laki-laki!", maka akan ada test keperawanan bagi para siswi SMU di Indramayu.

Jika kugunakan pendekatan Kesehatan Reproduksi, pertanyaan umum yang seharusnya diajukan adalah apakah test tersebut signifikan akan mengurangi insiden seks pra-nikah atau video mesum?

Terlepas dari kontradiksi perlukah juga kita melakukan test keperjakaan (untuk para siswa) - salah satu kontradiksi yang pasti akan dikemukakan oleh kaum perempuan, menurutku sangatlah tidak relevan dan tidak signifikan test "seksualitas" seperti ini dilakukan, apalagi jika tujuan utamanya adalah mencegah seks pra-nikah atau pelanggaran moral seperti video mesum dan foto-foto seronok/porno.
Seperti diutarakan oleh si Bupati,
Jika hasil pemeriksaan medis diketahui terdapat siswi SMP/Mts dan SMA/SMK/MA tidak perawan lagi atau kegadisannya sudah hilang, maka orangtuanya akan dipanggil sekolah.
"Orangtuanya akan diingatkan untuk lebih waspada dalam mendidik putrinya sehingga jangan hanya bisa menyalahkan sekolah atau gurunya saja," kata Bupati Irianto MS Syarifudin.
Yang lucu di sini adalah apakah si Bupati mengetahui apa saja penyebab keperawanan atau kegadisan bisa hilang? Bukankah hilangnya keperawanan atau kegadisan bisa juga disebabkan oleh faktor di luar hubungan seksual? Bagaimana kita mengetahui penyebab pasti hilangnya sebuah keperawanan atau kegadisan?

Atau, bagaimana nasib para perempuan yang teridentifikasi "masih perawan/gadis"? Perlukah kita sanjung-sanjung perempuan tersebut, dan - ini biasanya solusi dari kaum tradisionalis - segera saja dinikahkan agar jangan sampai hilang keperawanannya dengan cara di luar institusi perkawinan.

Kesimpulanku, jika fokus kebijakan hanyalah untuk mencari "kebenaran" (takut disalahkan atau mencari kesalahan orang lain) seperti yang diutarakan si Bupati maka terjadilah penciptaan kebijakan-kebijakan "nyeleneh" seperti ini. Sama halnya seperti kebijakan razia perempuan "malam" (baca: perempuan yang kebetulan keluar di waktu malam hari) yang terjadi di Tangerang dan kebijakan-kebijakan berbau "penegakan moral" lainnya. Dan, jika diperhatikan secara seksama, ujung dari semua masalah dan solusi yang ditawarkan para pemimpin gerakan "penegakan moral" ini adalah memberangus dan menindas kelompok perempuan. Cape' deh...

Benar-benar negeri dan orang-orang yang aneh...

Update: Ternyata bukan hanya Bupati Indramayu saja yang "nyeleneh", bahkan kebijakannya tersebut juga didukung oleh pejabat-pejabat nyeleneh lainnya. Pejabat di Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Pendidikan (Dindiknas) menyatakan mendukung penuh kebijakan tersebut. Duh cape' deh lagi... cape' banget!

Monday, August 13, 2007

On Water Shortage, Once Again!


I really want to say, "I've told you so!". But it seems useless as well like last time I wrote this post try to remind all of you about this latent problem.

This article highlighted two problem that will not be able to solve in immediate time by Indonesian government: coordination and anticipation. (Please note, I have a great doubt that the two problem will - not only unable to solve - but also 'never' be able to see and realized. They are too blind and too greedy to know that there is a serious problem in this country).

The above example of government authority statement on "water shortage that is still in normal condition" (as seen on cartoon above) is one inevitable evidence and indication of the failure of Indonesia's today government. What is the name of the president and the vice president?

Friday, August 03, 2007

Mahasiswa FEUI dan amnesia

Hari ini benar-benar menggelikan sekaligus menyebalkan. Selain itu, keduanya bisa aku jadikan satu kesatuan perasaan yaitu miris. Perasaan tersebut dipicu oleh dua orang mahasiswa/i yang datang menyerahkan tugas mereka yang sudah lewat dari tenggat waktu yang ditetapkan. Semua momen tersebut diawali ketika aku memberikan tugas dengan instruksi yang berbunyi sebagai berikut:
Tugas Review Artikel: Perekonomian indonesia

Bacalah dengan seksama artikel yang berjudul “Struktur Spasial-Sektoral dan Ekonomi Indonesia di atas lalu tulislah review Anda atas artikel tersebut.

Review yang Anda tulis sedianya mencakup: identifikasi persoalan atau pertanyaan mendasar yang Anda identifikasi dari artikel tersebut. Kemudian, kaitkan dengan teori dan atau konsep ekonomi pembangunan dan kajian kebijakan-kebijakan ekonomi yang ada di Indonesia yang telah Anda pelajari di mata kuliah Perekonomian Indonesia. Akhiri dengan kesimpulan dan atau saran konkret Anda atas identifikasi persoalan/pertanyaan di bagian awal.

Analisis kritis sangat dihargai dalam review ini, yang sedianya dilengkapi dengan literature dan kepustakaan ilmiah yang mendukung. Penggunaan data empiris baik dalam bentuk grafik dan atau tabel akan dapat menambah kekuatan analisis dari review yang Anda susun. Jangan lupa menyebutkan pustaka, sumber data, dan rujukan-rujukan lain yang dikutip atau sajikan dalam review Anda.

Ketentuan Penulisan:

- Maksimal 3 halaman, sudah termasuk tabel, grafik dan daftar pustaka.

- Mengikuti kaidah penulisan ilmiah yang baku, plagiat sangat dilarang dan berat hukumannya

- Tidak perlu sampul depan, daftar isi, dan kata pengantar.

- Tipe huruf dan tata letak (batas margin, tipe kertas, dsb) disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing namun harus wajar.

Batas Waktu:

Dikumpulkan pada saat Ujian Akhir Semester (UAS). Susulan tidak akan diterima dengan alasan apapun, kecuali didukung bukti atas situasi yang sangat memaksa. Misal: sakit dengan rawat inap.

Perlu diketahui, UAS-nya berlangsung sehari sebelumnya (2 Agustus 2007). Aku menerima berkas tugas makalah tersebut kira-kira pukul 5 atau 6 sore setelah sesi UAS berakhir.

Semua mulai terjadi ketika keesokan pagi harinya, aku menerima kedatangan satu orang mahasiswi yang ingin menyerahkan tugas tersebut. Padahal, dalam instruksi sudah jelas dikatakan pada bagian "Batas Waktu" (lihat yang berwarna merah di atas) bahwa aku tidak menerima susulan dengan alasan apapun, kecuali karena sesuatu yang sangat memaksa. Bukankah ini berarti mahasiswi tersebut tidak "membaca" instruksi dengan benar?! Dan nampaknya pendapat bahwa mahasiswa/i tidak pernah membaca instruksi dengan benar adalah BENAR. Itu karena ketika aku periksa secara cepat saja setiap tugas yang dikumpulkan masih banyak yang ternyata melanggar instruksi tentang maksimal 3 (tiga) halaman. Bahkan ada yang menulis, "NB: Pak/Bu saya mohon maaf karena isi terdiri dari 4 halaman. Belum termasuk Lampiran". Aku hanya bisa tersenyum membaca "permohonan maaf" tersebut...

Kembali lagi ke cerita mahasiswi tadi, yang menjadi masalah buatku adalah ketika aku tanya,
"Kok terlambat?"
Si mahasiswi menjawab dengan ringan sekali,
"Saya lupa, Pak. Setelah ujian, saya langsung pulang jadi saya lupa mengumpulkan tugas"
Lupa?? Aku lanjutkan dulu dengan cerita mahasiswa kedua yang datang di sore hari, juga untuk menyerahkan tugas. Lagi-lagi saya tanya tentang kenapa terlambat. Si mahasiswa ini menjawab dengan ringan dan sambil tersenyum,
"Lupa, Pak. Saya benar-benar tidak ingat mengumpulkan tugas ini. Abis, banyak tugas-tugas yang lain"
Lupa?? (Lagi??). Oh ya, kedua orang mahasiswa/i tersebut juga aku tanya,
"Apakah anda tidak membaca intruksi di tugas tersebut?"
Jawab mereka,
"Baca, Pak"
Dan aku juga bertanya tentang apa saja yang mereka baca di dalam instruksi tugas tersebut. Namun, mereka tidak menyebutkan syarat tentang batas waktu (seperti yang diwarnai merah di atas). Jadi, kesimpulan bahwa mahasiswa/i tidak pernah membaca instruksi dengan benar adalah BENAR menjadi kesimpulan semakin sahih untuk disimpulkan.

Ketika berbicara dengan kedua mahasiswa tersebut, aku bertanya lagi - sambil menyimpulkan momen yang terjadi hari ini, "Mahasiswa FEUI sekarang sering amnesia, ya?" Mereka hanya tersenyum simpul (atau mau mengejekku karena menanyakan pertanyaan bodoh tersebut, ya?).

Jika pun para mahasiswa tersebut menggunakan alasan "karena banyak tugas maka (berhak) lupa dengan tugas lain", menurutku itu bukanlah suatu hal yang lumrah. Ditambah lagi jika memang sudah terlambat, janganlah menggunakan alasan "lupa" seakan-akan itu adalah alasan yang wajar dan bisa dimaklumi karena kehidupan mahasiswa sangat sibuk dengan begitu banyaknya tugas.

Tolonglah, wahai para mahasiswa! Tugas utama anda adalah belajar, dan bagian utama dari belajar adalah menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada anda semua sesuai dengan ketentuannya. Jika memang ada alasan yang sangat memaksa, maka bolehlah kita carikan solusi lain atas ketidaksesuaian-ketentuan. Selain itu, terimalah kenyataan jika anda telah melanggar ketentuan dan siap - konsekuen - menerima sangsinya. Jangan bilang, "Lupa, pak!"

Kok anda tidak lupa bawa telpon seluler dan kunci mobil Honda Jazz anda ya?

Aku sangat curiga, jangan-jangan mahasiswa/i tersebut sebenarnya tidak mengerjakan tugas tersebut sampai akhirnya sadar kalau mereka sudah lewat tenggat waktu. Ketika mereka terlambat, maka mereka berspekulasi menyerahkan saja meskipun menggunakan alasan "amnesia" (baca: Lupa, pak!). Dengan menggunakan logika hukum peradilan, jika terdakwa ada dalam kondisi yang tidak sehat, mengalami gangguan mental, dan atau amnesia maka segala tuduhan terhadap terdakwa dianggap gugur demi hukum. Bolehlah mereka tetap mengumpulkan tugas mereka dan mendapatkan penilaian yang sama dengan rekan-rekan mahasiswa/i lainnya. Ah, jika amnesia kenapa boleh kuliah di FEUI ya?

Yang aku sesalkan adalah mengapa aku masih mau menerima tugas mereka ya?

Wednesday, July 25, 2007

Antara Möller dan Sobary

Aku mengetahui kedua orang tersebut di judul, lewat media yang sama yaitu harian Kompas. Aku mulai membaca tulisan-tulisan Mohamad Sobary lebih dulu melalui versi cetaknya, sedangkan tulisan-tulisan André Möller mulai aku baca melalui versi onlinenya ketika aku belajar di negara tetangga tempat asal negara Bung Möller (semoga beliau tidak keberatan jika dipanggil dengan sebutan "Bung", dibandingkan "Pak").

Seingatku, keduanya tidak pernah menulis dalam konteks persoalan yang sama persis atau mendekati sama sekali. Namun, hari ini aku menemukan bahwa keduanya menyajikan tulisan yang memiliki konteks hampir bersinggungan (kalau belum boleh dibilang hampir sama) Mohon dicatat bahwa aku yakin sekali bahwa keduanya benar-benar tidak ingin menulis dengan konteks yang bersinggungan pun sama. André Möller memulai lebih dulu di artikel rubrik bahasa pada hari Jumat, 20 Juli 2007 lalu yang berjudul "Warna Orang-Orang". Mohammad Sobary kemudian menyusul di rubrik Asal Usul, Selasa 25 Juli 2007 dengan judul artikel "Kemiskinan".

Jika anda memperhatikan dari judulnya saja, maka jelas sekali tidak ada kaitan sama sekali antara tulisan Möller dan Sobary. Namun, jika anda baca dengan seksama dan - mungkin sedikit memaksa - maka ada satu topik besar yang sama yang sedang dibahas oleh Möller dan Sobary. Topik tersebut yaitu masalah pelik dalma penggunaan bahasa Indonesia oleh bangsa Indonesia sendiri.

Möller membahas tentang penggunaan warna-warna dalam bahasa Indonesia yang lebih sering menggunakan serapan bahasa asing (Inggris) dibanding bahasa Indonesia sendiri. Seperti ditulis oleh Möller dibagian awal tulisannya:


Sekarang ada dua warna yang bunyinya sangat keren dalam bahasa Indonesia: ping dan orinj. Dengan kata lain, pink dan orange. Atau dengan kata lain lagi: merah muda dan oranye. Atau: merah jambon dan kuning kebakaran. Ah, yang terakhir itu terlalu bahasa Swendonesia. Namun, warna itu juga disebut (warna) layung atau lembayung. Mambang kuning dan merah jingga pun tercantum dalam Tesaurus Bahasa Indonesia.

Sebagaimana (jika mungkin) disadari oleh orang Indonesia, sangat mudah dalam berbahasa Indonesia untuk menyerap bahasa asing (Inggris) dan langsung mengaplikasikannya dalam bahasa Indonesia. Contoh lain, jika boleh menambahkan apa yang sudah disebutkan oleh Möller, yaitu warna silver atau dengan kata lain perak. Aku kurang paham, apakah itu bisa dikategorikan warna atau perhiasan. Belum lagi penggunaan gaya bahasa - aku dapat istilahnya dari Möller juga yaitu - Inggronesia, seperti: 'me-manage', atau 'men-challenge' (catat: kata ini sering sekali digunakan oleh salah seorang calon rektor Universitas Indonesia ketika beliau mengikuti debat calon rektor beberapa waktu lalu).

Semangat 'ketidakjelasan' berbahasa seperti disampaikan oleh Möller, menjadi lebih ironis dan tajam dampaknya setelah membaca tulisan Sobary. Seperti ditulis oleh Sobary dibagian awal tulisannya



Secara kebudayaan kita bangsa kaya. Tetapi, mengapa dalam berbahasa para politisi, para pejabat, para artis, dan bahkan juga para pengamat dan para ilmuwan kita begitu miskin? Tiap saat kita menyaksikan pameran kemiskinan
artikulasi, kemiskinan kosakata, kemiskinan metafora, dan kemiskinan idiom, atau ungkapan. Mengapa dalam berbahasa kita tampak miskin? Banyak kaum terpelajar yang bahasa Indonesianya belum lengkap.

Pemahamanku atas tulisan Sobary secara keseluruhan adalah betapa Indonesia tidak hanya miskin secara ekonomi namun juga miskin mental, budaya, dan yang penting bahasa. Sebagai contoh bahasa yang digunakan oleh calon rektor tersebut. Padahal bahasa adalah bentuk awal untuk berkomunikasi yang pada gilirannya membawa keadaan sosial ke arah kerjasama dan perubahan. Jika berbahasa saja miskin, bagaimana perubahan bisa disampaikan dan dimengerti? Bagaimana kemajuan bisa dicapai jika tidak ada yang tahu bagaimana caranya menyampaikan dengan "bahasa yang jelas" apa dan bagaimana kemajuan harus dicapai?


Setelah membaca tulisan Möller dan Sobary, aku jadi ingat untuk lebih sering membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk memastikan apakah aku sudah menggunakan kata yang tepat atau aku juga ternyata telah mengalami 'pemiskinan' bahasa (?). Padahal, aspek berbahasa bukankah tidak hanya terdiri dari kata-kata saja, melainkan juga susunan kata yang menjadi kalimat dan makna yang ingin disampaikan lewat susunan kalimat tersebut. Semoga belum terlambat untuk mempelajari lagi dan menyempurnakan penggunaan bahasa ibu sendiri.

Thursday, July 19, 2007

Sepak Bola Indonesia: Bravo!!

* Foto: Website PSSI


Aku bukanlah seorang pecinta sepak bola sejati. Karena itu, aku tidaklah tahu secara mendetail tentang dunia persepakbolaan di jagat raya ini. Namun kali ini, aku benar-benar peduli dengan sepak bola, terutama sepak bola Indonesia. Mengapa demikian?

Kemarin, Tim Nasional Sepak Bola Indonesia telah melaksanakan pertandingannya - yang sayangnya - menjadi pertandingan terakhir di ajang Piala Asia 2007 atau 2007 AFC Asian Cup. Membaca berita-berita suratkabar dan media massa lain hari ini, maka jelas sekali kekecewaan bangsa Indonesia karena kekalahan tim nasional Indonesia atas Korea Selatan kemarin. Namun, di sisi lain, terlihat juga sebuah optimisme yang cukup langka belakangan ini di Indonesia. Optimisme tersebut adalah bahwa sesungguhnya kita bisa bangkit dari keterpurukan. Tim Nasional Sepak Bola Indonesia adalah sebuah figur baru yang menunjukkan semangat tersebut.

Meskipun hanya melakukan persiapan selama 2 bulan untuk menghadapi Piala Asia 2007, prestasi dan permainan yang disajikan oleh para pemain Indonesia bisa dibilang luar biasa. Di tengah keterpurukan prestasi olahraga yang Indonesia alami di hampir semua cabang, sepakbola seakan memberi celah bercahaya terang bahwa kerja keras dan semangat untuk memperbaiki diri pasti akan membuahkan hasil yang gemilang. Dengan segala keterbatasan skill, pengalaman, serta stamina dibandingkan lawan-lawannya, tim sepakbola Indonesia menunjukkan bahwa mereka telah menemukan semangat Indonesia-nya.

Kita semua sepakat, sepakbola Indonesia telah bangkit. Jika kita boleh bercermin pada pengalaman ini, maka bolehlah pula kita secara nasional di berbagai sektor mulai dari sosial, ekonomi, budaya untuk bangkit dan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermartabat, mampu menjadi bangsa yang berhasil di berbagai bidang. Menurutku, tidaklah berlebihan jika tim sepakbola Indonesia kali ini kita jadikan ikon semangat Indonesia. Jadi, terima kasih untuk tim sepak bola Indonesia atas pelajaran yang telah kalian tunjukkan kepada kami. Sepak Bola Indonesia: Bravo!!

Friday, July 13, 2007

Hindu vis-à-vis symbols and old teachings

I read an article in The Jakarta Post special column for Bali (July 12, 2007). I Wayan Juniartha is the writer of that article. The article has evoke me with one experience happened long time ago. That experience made me wonder how to find a reasonable answer to other non-Hindu people when they served me with questions related with Hindu's ritual. Let me first discuss a bit about The Jakarta Post article then I link with that experience.

The article title “Scholars call for new ritual interpretations” initially discusses about Kuningan celebration at Serangan Island that focus to Hinduism rituals and its symbols in relations with environmental condition in Bali. One quote gives me confirmation that Hindu’s teaching for sure has a spirit of environmental conservations, however not all Hindu Balinese realizing it:
"Respect for nature, for land and water, is the core teaching of Balinese Hinduism. Yet, why do only a few people really care about ecological preservation? Why do most of us fellow Balinese believe that holding a religious ritual for (honoring) nature is more than enough to reverse the ecological disaster that is threatening the island?"
However, the above statement makes me wonder, what’s wrong with Bali or particularly the Balinese Hindu?? Then, it comes to the typical reply for every question I raise about Balinese ritual, “Nak mule keto!” (It’s already just like that!), without any further logical or sensible reasons. Now my experience will apply for an example.

Once upon a time, I got one question, “Why the Balinese (Hindu) cover a big tree with that black-white-chess pattern cloth and pray against that tree?” When I asked that with my parents and relatives in Bali, they gave me argument focus with a creature that living on such tree that if we did not serve them then it will harm you. It was definitely a scary reason, but it did not satisfy my curiosity and logic at all. Continuously, I got another reason that the tree had a special power to protect the village from danger or black magic. It is another non-satisfactory answer for me.

Someday, I found the answer from non-Bahasa Indonesia book that explaining about traditional method of environmental conservation. The book said that in traditional civilization, in order to maintain big tree capability to store up underground water stock, the elderly-wise leader during ancient era create such a psychological pressure or mental-suggestion for people to prevent them of cutting the tree. At that time, people would be very difficult to accept if we used biological-environmental argument related with the function of tree in hydrological cycle as a reason of prohibiting big trees for being cut down. But, they might be believe (due to their low education and lack of scientific knowledge) if we used some ‘magic things’ or ‘scary story’ to touch – indirectly – their consciousness on environmental conservation issue. Thus, ghosts or scary creatures or even special magical power that come up from the tree becomes a reason and being spread out across the society.


That argument become basis for answers that I always served to my non-Hindu friends when they asked me about similar cases. I always give some explanation about the reason and condition of ancient time of Hindu and add further explanation by connecting those traditional believe with today scientific arguments. For example, I used the relation between ghosts or magical power as native motivation with environmental conservation purposes as scientific motivation for question of why Balinese cover trees with cloth and pray against them. So far, I found that my friends who raised the question somehow accept that argument, in a sense that they did not continue debating the logic of that reason. Hopefully, they may understand that Hindu always covered by many symbols. It is not so straight and easy to interpret the symbols since those symbols already utilize for centuries (please remind them that Hindu is one of the oldest religion on earth!).


However, for Hindu followers per se, it is a must now that they face with a new century – a new era where ancient and old symbols or rituals need to revitalize to match with current condition. Just like the article said:
"Today's Hindu followers must have the courage to reinterpret those symbols, to make the ancient teachings relevant to the challenges we are currently facing"
I could not agree more with that statement. All religions and civilizations all over the world now have been challenged by vast changes. Ignorance, fanaticism, or radicalism of religious teachings and rituals will only lead human race to stagnation of knowledge and spirituality. While combining faith with non-stop searching for universal knowledge and anticipate the dynamic of society will maintain the existence of ones religion and increase the human contribution for peace and welfare. Let's keep wishing and trying!

Thursday, July 12, 2007

Borobudur??



This editorial is a simple contemplation for me. The second paragraph that said:
"Indonesia has failed to reap much benefit from these treasures because of ignorance and an unwillingness to preserve the sites. We can blame no one but ourselves for this failure to preserve and promote the country's heritage for the betterment of the people"...
just like admitting not worthy of our Borobudur to receive the World Seven Wonder title.

Please feel free to read the editorial as I posted below and comment on how we could reduce another failure on preserving and promoting our beloved country's heritage for the betterment of - not only the people today - but for future generations as well. I made some highlights on - I feel - very important paragraph that actually punched us very hard as Indonesian. One post made by a friend also quite interesting to read.


---------------------------------
Borobudur, no wonder

This newspaper ran interesting articles about two of the country's priceless but neglected heritage sites in its Sunday and Monday editions: Lake Toba and Borobudur Temple.

Indonesia has failed to reap much benefit from these treasures because of ignorance and an unwillingness to preserve the sites. We can blame no one but ourselves for this failure to preserve and promote the country's heritage for the betterment of the people.

The first report, on the Sunday Post's Travel page, described the vast volcanic Lake Toba in North Sumatra. The lake is believed to be the result of largest volcanic eruption more than 840.000 years ago. Few Indonesians, even among the Batak tribes living around the lake, know about the violent birth of Toba.

Local residents and tourist industry people only complain about the declining number of foreign visitors to the area because of its geographical handicaps, poor infrastructure and the lack of tourist attractions. With better knowledge of the lake's history, it would be easier to attract tourists by packaging the history of the lake.

The National Geographic television station has in the past aired a wonderful program about the eruption. After watching this program most people would find it ridiculous that more people visit Singapore's Night Safari -- which offers only animals from other countries -- than Lake Toba.

The story that appeared Monday is even more concerning for Indonesia, because in it we learn that Borobudur Temple, the pride of the nation, does not appear on the new list of the Seven Wonders of the World.

When asked about Borobudur, most -- if not all -- Indonesians will repeat the old, but incorrect, conviction that the temple belongs to the Seven Wonders of the World.

Since childhood Indonesians have been taught that the world's largest Buddhist temple is included among the world's seven wonders, although the claim is not supported by documented evidence.

Indonesian officials quickly played down the new list of the world's wonders, arguing that the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) was not involved in drawing up the list. They probably forget that 100 million people across the globe voluntarily participated in the voting, just like the American Idol process.

A private Swiss foundation on Sunday announced the results of the poll, where 100 million Internet and phone voters chose seven out of 21 short-listed sites, from an original list of 77. Borobudur did not even make the top 21.

According to Unesco's list of 851 world heritage sites, just seven are in Indonesia, including Borobudur Temple in Central Java and the Sangiran's early man site in East Java.

Other countries, like Brazil and Peru, have been much more active in promoting their historic sites and natural assets, realizing this is one of the most effective ways to attract visitors, and their money, to the country.

Many jealous Indonesians may say Borobudur is more deserving of the honor than India's Taj Mahal or the statue of Christ overlooking Rio de Janeiro. Whether or not this is true, Indonesia has not done enough to draw the world's attention to its attractions.

As in North Sumatra, the local government in Central Java has complained that visitor numbers to Borobudur have continued to decline despite efforts to provide more commercial facilities around the Borobudur compound.

Tourists are reluctant to visit Lake Toba because of its distance from Medan, and also because, unlike culturally rich Bali, tourists can only enjoy the beauty of nature. There are no attractive cultural programs on offer for visitors.

Visitors to Borobudur Temple are often annoyed by the presence of overzealous vendors. The government apparently believes the temple alone is more than enough to bring in tourists, so no extra effort is needed.

Borobudur is our cultural pride and Lake Toba is the crown of our natural riches. But pride alone is not enough when the nation fails to compete with other countries in attracting tourists.