Sunday, December 28, 2008

Banjir (lagi) di Permata Depok Regency??

Jika Anda percaya bahwa banjir bisa terjadi tanpa perlu kehadiran hujan, maka tengoklah apa yang terjadi di Permata Depok Regency kali ini untuk membuktikan kepercayaan Anda tersebut. Foto-foto fenomena kali ini bisa ditengok berikut.




Yang menggelikan tapi tetap ironis dari kejadian ini adalah banjir di lokasi ini terus terjadi secara rutin dari tahun ke tahun. Laksana hari raya besar yang patut ditunggu. Selain itu, banjir kali ini terjadi tanpa hujan sama sekali alias di tengah hari panas. Tanpa tindakan yang konkrit, developer tidak pernah berhasil (jika memang berupaya lho) untuk menekan insiden ini. Padahal, insiden ini pernah dituntut oleh warga untuk diselesaikan dan dicegah tapi apa daya kedunguan dan ketidakpedulian masih melekat di dalam pemikiran para pelaksana pembangunan seperti manusia mayoritas di negeri ini. Jika musim hujan saja belum tiba sudah begini kejadiannya, bagaimana jika musim hujan sudah datang yah?

Padahal keledai saja tahu untuk tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali, apakah sebutan yang pas untuk "mereka" yang terus menerus jatuh ke lubang yang sama?

Permata Depok Regency (PDR) merupakan perumahan yang - konon - dibangun dengan menganut sistem cluster oleh developer dengan label PT Citrakarsa Hansaprima. Daftar dosa developer ini bisa ditengok di sini, sini, sini dan sini. Mungkin tampak belum terlalu panjang daftarnya, namun jika melihat trend selama ini maka daftar tersebut besar kemungkinan masih akan terus bertambah seiring masih konsistennya mereka dengan pola kerja dan manajemen yang telah dilakukan selama ini. Apalagi jika ditambah komplain-komplain lainnya (yang dianggap remeh oleh kebanyakan kita) yang belum terdokumentasi di sini. Sangat memprihatinkan dan memalukan...

Monday, December 22, 2008

No title

Jika bumi menanggung langit nan luas, pernahkah ia meminta awan mendatangkan hujan detik ini juga? Ada doa istimewa yang membuat langit tidak ragu mengajak awan mengirim sejuk hujan ke muka bumi. Doa tersebut memuat bait-bait cinta yang tulus saling menjaga. Tanpa langit, bumi akan terbuka tak terjaga. Dan tanpa bumi, langit akan bernyanyi sendiri sunyi tanpa arti.

Cintalah yang menjaga mereka berdua saling mengisi dan saling menjaga. Tidak hanya karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Hyang Kuasa, namun karena berdua mereka memiliki perbedaan yang mulia bekerja satu terhadap yang lainnya.

Seperti halnya juga samudera yang maha dalam, pernakah ia meminta sungai dari puncak hingga kaki gunung mengirimkan airnya untuk dimuarakan ke laut? Juga ada doa yang abadi yang membuat hutan-hutan dan segala sumber mata air di sepanjang tubuh sang gunung untuk mengalirkan murni air yang mereka tampung ke bibir laut bagi sang samudera. Doa abadi tersebut memuat janji-janji cinta yang tak pernah teringkari. Tanpa gegunung nan tegar, samudera akan ditelan daratan tanpa perlawanan. Dan tanpa samudera, gunung-gunung akan luruh ketika sungai mengalir kering.

Cintalah yang mengolah kasih mereka berdua untuk saling melengkapi dan saling melindungi. Tidak hanya karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Hyang Mulia, namun karena berdua mereka memiliki perbedaan yang kokoh mengikat satu terhadap yang lainnya.

Cinta adalah satu-satunya hal yang Tuhan ciptakan bukan karena “untuk”, namun karena “agar”. Sedangkan segala yang lainnya pasti masih memuat hutang budi dan balas jasa yang membuatnya tetap mengandung kondisi. Sedangkan cinta tak akan pernah demikian.

Kuskus Tbn, G&A

Monday, December 15, 2008

Ibu Indonesia Tahun 2008...

Dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad berjudul "Pelacur".

Selain gaya penulisan GM yang selalu 'luar biasa', kali ini aku lebih tersentuh lagi setelah membaca dan mencoba meresapi bagaimana perasaan dan pemikiran yang ada dibalik kisah yang disampaikan dalam Catatan tersebut.

Kisah tersebut seperti mesahihkan pendapatku tentang keberagamaan di Indonesia. Kaum yang nista dan dihinakan oleh kaum agamawan semakin terpinggir, padahal mereka mungkin adalah satu-satunya kaum yang masih jujur menjalani dan menjadi saksi hidup. Ketika semakin banyak orang-orang yang mengaku suci dan atau membela kepentingan umat [bukan 'umat manusia'], aku semakin jauh lebih salut dengan orang-orang yang tampak bekerja hina dan nista tapi mereka tidaklah pernah munafik dengan hidup yang mereka jalani. Oleh karena itu aku sangat setuju dengan GM bahwa Nur Hidayah adalah Ibu Indonesia Tahun 2008.

Untuk mengenal siapa Nur Hidayah, silahkan Anda membaca Catatan tersebut dan silahkan tinggalkan komentar dan pendapat Anda juga sudah menonton film dokumenternya.

Wednesday, December 10, 2008

judulnya OK's banget!

Judul rubrik Indonesiana di Majalah Tempo yang aku maksud berbunyi sebagai berikut:
"Baliho Anti-Orang Kidal"
Bagiku judul tersebut OK's banget dan sangat mewakili "kesan" yang sesungguhnya. Latar belakang rubrik tersebut, pernah aku posting di sini, dan sini. Aku cukup lega hati karena ternyata aku tidak sendirian yang resah dan sebal dengan baliho di Depok tersebut.

Tuesday, December 09, 2008

tentang Maryamah Karpov



Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul “Maryamah Karpov: Mimpi-Mimpi Lintang” karya Andrea Hirata akhirnya terbit. Berikut ini adalah ulasan sederhana atas Maryamah Karpov. Patut dicatat bahwa tiga buku terdahulu dari Tetralogi Laskar Pelangi memberikan kesan tersendiri yang cukup kuat bagi para pembacanya, termasuk aku. Oleh karena itu, kesan pertamaku terhadap Maryamah Karpov pasti akan sangat bias oleh keberhasilan tiga buku sebelumnya.

Meskipun sempat terkejut dengan ketebalan bukunya, aku memilih untuk tidak pikir panjang dan mulai membaca Mozaik pertama yang berjudul Dibungkus Tilam, di Atas Nampan Pualam dengan harapan bahwa kualitas buku tersebut akan membuktikan dirinya sendiri terlepas dari tebalnya isi buku seperti halnya episode pertama Laskar Pelangi yang juga cukup tebal. Melewati mozaik-mozaik berikutnya aku cukup terpuaskan dan mulai kagum dengan masih konsistennya gaya penulisan Andrea Hirata dalam buku tersebut: mengandalkan latar belakang budaya dan bahasa Melayu Belitong dan sekitarnya serta humor yang sangat berkesan baik dari penggunaan kata dan kalimat atau penokohannya. Meskipun latah kosakata teknis akademis dengan bahasa-bahasa latin masih bertebaran di sana sini. Maryamah Karpov memuat lebih banyak lagi detil tokoh-tokoh yang menarik dan lucu. Sampai di tahap ini, Maryamah Karpov belum mengecewakanku.

Beberapa bagian yang menarik menurutku antara lain kisah tentang Arai yang akhirnya diterima oleh Zakiah serta berhasil mempersuntingnya menjadi istri. Adegan yang menggambarkan bagaimana Arai akan bertemu pertama kali dengan Zakiah setelah sekian tahun tidak bertemu sangat menghibur. Adegan yang paling mengharukan bagiku adalah saat prosesi pernikahan Arai dan Zakiah yang diakhiri dengan Arai yang mengaji dengan sepenuh hatinya (Ingat ketika Arai pertama kali menjadi anggota keluarga Ikal!). Selain kisah Arai, kisah lain yang sangat mengharukan adalah kisah Ayah-nya Ikal yang hampir naik pangkat tapi batal karena surat yang salah kirim. Juga kisah kedatangan dokter gigi Budi Ardiaz Tanuwijaya yang lama tidak mendapatkan pasien serta upaya Ketua Karmun yang menghebohkan untuk bisa membawa pasien pertama untuk sang dokter. Belum lagi kisah tentang asal muasal pemberian nama panggilan warga yang sangat kocak.

Hingga separuh tebal buku yang kubaca, aku mulai merasakan kekurangan yang terakumulasi perlahan namun pasti, dan terbukti hingga akhir buku kemudian. Sejujurnya, aku berharap terlalu banyak dengan karakter Maryamah Karpov karena terkait dengan judul, dan terutama A Ling yang sangat terkait dengan kisah pada tiga buku sebelumnya. Karakter Maryamah Karpov tidak mendapat porsi yang “cukup”, sehingga tak banyak bisa kuutarakan di sini. Tapi, yang paling kurang berkesan adalah kisah tentang A Ling yang baru mulai dibahas menjelang akhir. Hampir separuh buku berkisah terlalu berat di bagian upaya Ikal membuat perahu selama 7 bulan dengan tangannya sendiri. Walaupun bagian tersebut berhasil dikurangi fokusnya dengan kisah pelayaran yang penuh marabahaya dan cuilan riset sejarah tentang perompak dalam Mozaik ke 61 Pirates of the Caribbean yang menarik. Sebenarnya, detil-detil kisah yang ditawarkan sangat menarik tapi aku merasa banyak sekali yang tidak terkait langsung dengan A Ling. Ini agak menyebalkan untukku.

Kesimpulan: harus tetap kuakui bahwa Maryamah Karpov masih bisa dikatakan berhasil menawarkan kisah yang menarik. Detil-detil kisah dan penggunaan bahasanya sangat baik dan menghibur. Satu hal yang tetap sama ketika membaca buku ini dari halaman pertama hingga akhir, unsur kelucuan tak pernah berhenti dan sangat menggelitik. Kelucuan favoritku adalah ketika Mahar menunjukkan televisi portable bekas merk Sanyo yang dijadikan mustika keramat dalam lomba benda-benda mistik dengan Tuk Bayan Tula. Terlepas dari keistimewaan tersebut, aku merasa Maryamah Karpov tidak berhasil menjaga momentum puncak yang sudah dihantarkan oleh ketiga buku sebelumnya. Kisah Ikal dan A Ling terasa mudah sekali selesai dan menjadi penutup kisah panjang empat buku tersebut. Agak melankoli tapi kering detil. Padahal, kisah ini merupakan kisah yang ditunggu-tunggu dan ending-nya sangat patut disayangkan jika hanya demikian.

Singkat kata, aku sempat berharap bahwa Maryamah Karpov akan menutup Tetralogi Laskar Pelangi dengan ‘wah!’ seperti membaca Tetralogi Pramoedya Ananta Toer atau kisah Harry Potter. Namun, sayangnya harapanku belum terpenuhi. Walaupun demikian, untuk Anda yang sudah membaca tiga buku sebelumnya, Maryamah Karpov tetap wajib Anda baca untuk mengetahui bagaimana nasib kisah cinta Ikal dan A Ling atau menikmati kisah-kisah jenaka tokoh-tokoh yang diperkenalkan oleh Andrea Hirata.

Ulasan Maryamah Karpov yang lebih baik dan lengkap bisa dibaca di sini.

Undang-Undang No.44 Tahun 2008 tentang Anti-Pornografi

Di salah satu berita utama The Jakarta Post, Presiden SBY pun akhirnya menandatangani undang-undang "moral" tersebut. Yang menarik adalah alasan penandatanganannya sebagai berikut:
"The President signed it because it was already a national consensus,"
Betul sekali, undang-undang tersebut memang merupakan hasil "konsensus nasional" (karena pihak yang menolak atau menentang tidak pernah dianggap ada). Pernyataan "konsensus" tersebut sesungguhnya dapat berarti dua hal:

Pertama, Presiden hanya tahu bahwa undang-undang tersebut diterima oleh semua lapisan masyarakat. Jika yang pertama ini benar, berarti Presiden SBY tidak pernah mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat yang ia pimpin. Sungguh kasihan sekali Presiden yang tidak tahu apa-apa seperti beliau.

Kedua, Presiden tidak pernah membaca undang-undang tersebut karena memang tugas presiden hanyalah membubuhi tandatangan saja. Jika yang kedua ini yang benar, aku cukup maklum. Sebagai presiden yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia, SBY sebenarnya tidak mampu melawan DPR/MPR yang penuh dengan bandit-bandit politik, selain juga kelemahan mental yang dimiliki beliau karena ragu-ragu dan tidak tegas sebagai pemimpin. Apalagi menjelang pemilu 2009, setiap "bandit" politik (pastilah termasuk SBY) sedang mengambil ancang-ancang untuk mengambil simpati calon pemilih.

Jika yang pertama dan kedua benar sekaligus, maka semakin kuat alasanku untuk tidak ingin memilih SBY dan partainya di pemilu nanti. Juga partai-partai dan calon-calon presiden lainnya. Semua sama saja... apalagi yang bawa-bawa nama dan simbol tuhan...

Jadi, aku bisa melanjutkan dukungan untuk Civil Disobedience.

Sunday, December 07, 2008

seakan resonansi...

Artikel menarik dari The Jakarta Post berjudul "Idul Adha: Personal Piety Instead of the Common Good" sangat menggugah. Sedikit kutipannya sebagai berikut:

In Depok, some old ads, perhaps remaining from Ramadan, can still be found, calling for Muslims to recite more Koranic verses, to read basmallah (reading-initiation by mentioning God) before doing all activities and to use the right hand -- instead of the left -- in every supposed virtuous deed. Interestingly, a few of these ads include pictures of Depok's mayor -- one has him smiling and surrounded by people wearing songkok -- an Indonesian hat which usually symbolizes piety -- and women wearing scarves (jilbab).

In view of this, most of Indonesia's Muslims still emphasize that individual piety is to be shown in public. This, however, offers a paradox -- if not an absurdity -- with regard to the real life. Just go to Depok. You don't have to be a civil engineer or an urban planner to feel the poor quality of Depok's roads and streets. Most of them are becoming bumpier and more and more holes are filling with muddy water. Riding in a car is like dancing, because of the instability of our body. Enjoy it.

Why do these ads not talk about those damaged public facilities -- but instead call on Depok's citizens to read more Scripture, to recite magic formulas and to spread prejudice against left-handed people?

Meminjam istilah yang pernah diutarakan oleh seorang kawan, kutipan tersebut (dan keseluruhan artikel) di atas, seakan memuat resonansi kecil dari apa yang pernah kuposting sebelumnya.

Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga segala pengorbanan yang tulus dan tanpa pamrih (meski demi surga sekalipun) datang dari segala penjuru demi kedamaian dan kesejahteraan sekalian umat manusia.

Friday, December 05, 2008

jual laptop bekas!

Ada dua laptop second yang mau dijual. Keduanya dipakai pribadi dan sangat terawat!

1. Toshiba Tecra A3-S611
Intel Centrino Dothan (kalo gak salah!); tipis dan relatif ringan untuk laptop dengan layar 15inch; Windows XP Professional; Harddisk 40GB (sudah dipartisi); CD-RW/DVD-ROM; Infrared; Wi-Fi; belum ada Bluetooth.

Dibeli tahun 2005 pertengahan. Kondisi mulus. Dus (box) dan semua kelengkapan: manual book, etc. masih lengkap dan dalam kondisi sangat baik. Memori aslinya 256MB tapi sudah diupgrade jadi 512MB sewaktu membeli sebagai bonus. Kelemahan saat ini adalah baterai sudah drop, tidak optimal lagi - paling satu jam. Alasan dijual karena sudah punya pengganti. Harga penawaran Rp. 4 juta, kalau berminat bisa tawar.
Foto-foto terlampir:





2. Lenovo 3000-V200
Core 2 Duo T7200 Processor 2.0GHz; 1GB RAM; Harddisk 120GB; ringan dan kecil dengan layar 12 inch; Windows Vista Home; tidak ada Infrared; Bluetooth; Wi-Fi.

Dibeli tahun 2007 akhir, jadi baru saja genap satu tahun. Kondisi sangat mulus. Dus (box) dan semua kelengkapan: manual book, etc. masih lengkap dan dalam kondisi sangat baik. Belum ada kelemahan, baterai masih bagus kinerjanya dan tidak bermasalah. Alasan dijual karena perlu yang lebih kecil, jadi ganti baru. Harga penawaran Rp. 6 juta, kalau berminat bisa tawar.

Foto-foto terbarunya nanti diupdate deh.

Jika berminat, bisa menghubungiku - lihat detil kontak di CV, atau tinggalkan email/kontak Anda di kolom komentar. Terima kasih.

[update]: Foto untuk yang Lenovo




[UPDATE Dec.15 2008]: SOLD! Kedua laptop sudah terjual setelah dijemput langsung oleh pembeli dengan penawaran tertinggi. Terima kasih atas partisipasi Anda sekalian yang sudah mengontak via berbagai media: email, telpon, sms, dsb. Sampai jumpa di penawaran lainnya.

Tuesday, December 02, 2008

sejak kapan jati diri bangsa hilang?


Sejak kapan jati diri sebagai Bangsa Indonesia kita hilang? Atau pertanyaan yang lebih tepat adalah, sejak kapan Bangsa Indonesia diajarkan makan dan minum memakai tangan kiri?

Jati diri Bangsa Indonesia itu benar-benar hilang ketika di Depok semakin banyak jalan yang rusak tapi tidak pernah diperbaiki; ketika di Depok kemacetan semakin merajalela karena angkutan umum tidak ditertibkan; ketika di Depok pengelolaan sampahnya kacau dan mengorbankan kesehatan warga sekitarnya; ketika di Depok mulai sering terjadi banjir; dan...

Ketika Walikota Depok terlalu sibuk dengan jadwal photo session dan menjadi model berbagai spanduk, baliho, atau berbagai media promosi lainnya.

Sudahlah, Pak! Kami makan dengan tangan atau kaki, biarlah itu urusan dosa dan kebiasaan kami. Jati diri kami belum pernah tergadai ketika tangan kiri kami gunakan untuk mengambil sepotong tempe. Ibu kami, sejak kami kecil, sudah mengajarkan kami mana tangan yang "manis" dan mencuci tangan sebelum makan atau setelah buang hajat. Oleh karenaitu, mohon dengan segala hormat dan kerendahan hati, Bapak uruslah tugas dan kewajiban Bapak sebagai kepala daerah.

Monday, December 01, 2008

Tolak UPS di Permata Depok Regency!

Posting ini merupakan lanjutan posting "Permata Depok Regency Akan Jadi Gudang Sampah?!" beberapa waktu lalu. Beberapa peristiwa telah terjadi yang terangkum sebagai berikut:

Sosialisasi
Seperti sempat disinggung pada posting sebelumnya tentang rencana kegiatan Sosialisasi Unit Pengolahan Sampah (UPS) oleh Kelurahan Ratu Jaya, maka secara mendadak rencana Sosialisasi UPS yang sedianya dijadwalkan tanggal 16 November, dimajukan menjadi tanggal 15 November 2008. Entah apa maksud perubahan tanggal yang tiba-tiba tersebut.

Jadwal sosialisasi yang disebutkan dalam undangan pukul 9 pagi, ternyata molor hingga hampir 10.30 karena keterlambatan para punggawa pemkot Depok. Insiden ini seakan menandakan bahwa pihak Pemkot (yang diwakili oleh staf dari Kantor Dinas Lingkungan Hidup/KDLH) tidak serius dalam melakukan sosialisasi UPS di lingkungan Permata Depok Regency (PDR). Sosialisasi berlangsung panas dan penuh dengan sorakan dan kecaman dari warga PDR yang intinya MENOLAK pembangunan UPS. Kecaman yang jelas ditujukan ke pihak developer PT CITRAKARSA HANSAPRIMA dan pihak Pemkot Depok.

Pihak developer bersalah karena tidak menginformasikan tentang rencana lokasi UPS tersebut kepada warga PDR, bahkan terkesan menutup-nutupi informasi tersebut. Hal tersebut tercermin dari tidak transparan dan tegasnya jawaban dari pihak developer. Kesalahan ini semakin terus menambah daftar dosa yang telah dilakukan dan masih mungkin terus dilakukan oleh developer. [Lihat juga daftar dosa mereka di sini, sini, dan sini].

Sedangkan pihak Pemkot Depok bersalah karena tidak melakukan sosialisasi sebelum melakukan kegiatan pembangunan UPS. Selain itu, kesalahan Pemkot Depok yang paling fatal adalah sama sekali tidak memperhatikan dampak lingkungan yang pasti timbul jika membangun UPS di tengah pemukiman seperti PDR. Bagaimana mungkin mereka membangun UPS yang langsung bersebelahan dengan rumah warga? Ini bukti paling konkret bagaimana pemkot Depok tidak peduli dengan nasib warganya.

Setelah kecaman dan tudingan tiada henti dari warga dan ketetapan sikap warga yang menolak UPS, sosialisasi diakhiri tanpa titik temu. Hal ini sebenarnya sudah dapat diduga mengingat pihak pemkot Depok sama sekali tidak mengantisipasi sikap warga karena mereka memang tidak peduli. Gambaran kegiatan sosialisasi UPS di PDR bisa dilihat di album foto kegiatan sosialisasi tersebut.

Survey dan Pertemuan Lanjutan
Sebenarnya, warga PDR percaya bahwa UPS merupakan konsep yang baik bagi manajemen pengelolaan sampah. Artinya, masih terbesit kesediaan dari warga PDR jika ada UPS di lingkungan mereka. Hal tersebut terbukti dari tercetusnya ide untuk mempelajari bagaimana sistem UPS tersebut berjalan. Sebenarnya sangat disayangkan apabila warga PDR sendiri yang mengambil inisiatif mempelajari UPS, karena seharusnya pihak Pemkot Depoklah yang mengambil tugas ini. Namun apa daya, seperti layaknya pemerintahan di Indonesia, Pemkot Depok selalu lalai menjalankan perannya sebagai aparat negara.

Dengan didasari pemikiran tersebut, warga PDR telah melakukan survey dan studi banding ke beberapa UPS yang telah berdiri di Depok. Ada 2 UPS dan 1 TPS (Tempat Penampungan Sampah) yang disurvey oleh tim dari warga PDR. Hasil survey tersebut menemukan dan semakin mempertegas bahwa rencana dan lokasi pembangunan UPS saat ini tidak sesuai dan memiliki dampak lingkungan yang serius bagi warga PDR dan sekitarnya. Terlebih jika benar UPS tersebut akan menampung sampah untuk 1 kelurahan Ratu Jaya. Dengan luas UPS yang hanya 500 meter per segi, apakah hal tersebut memadai? Tentu tidak! Untuk itu, warga PDR kemudian menyusun sikap dan usulan terkait dengan rencana pembangunan UPS tersebut [Bisa dilihat di sini].

Pertemuan lanjutan kemudian dilangsungkan pada tanggal 29 November 2008. Rencananya akan dihadiri oleh pihak Developer, Pemkot Depok, perwakilan DPRD Depok, dan perwakilan warga. Namun, senasib dengan pertemuan sosialisasi UPS sebelumnya, pertemuan kali ini tidak bisa memberikan kepastian bagi warga PDR. Selain karena proses pembangunan fisik UPS masih terus berlangsung, pihak-pihak terkait tidak ada satu pun yang bisa memberikan keputusan dan jaminan bahwa UPS tersebut tidak memiliki dampak negatif bagi warga PDR.

Sikap Tegas Warga PDR: TOLAK UPS!
Melihat perkembangan demikian, warga PDR masih berpendapat bahwa pembangunan UPS di lingkungan PDR belum bisa diterima karena masih mengabaikan prinsip-prinsip kelaikan lingkungan dan ketidakjelasan peruntukan operasionalnya. Pembangunan UPS baru dapat diterima dan didukung jika peruntukkannya sesuai dengan kapasitas kerjanya yaitu untuk 2 RW saja, bukan untuk 1 Kelurahan Ratu Jaya; SERTA UPS tersebut dibangun dengan memperhatikan dampak lingkungan yang paling minim bagi warga sekitarnya. Hal tersebut, UPS harus dibangun cukup jauh dari pemukiman warga yang ada disekitarnya agar dampak buruknya bisa diminimalisir.


Update: Lihat juga resonansi topik serupa di Balance Life

masih tentang yoga...

Opini menarik ditulis oleh Toriq Hadad tentang yoga. Terutama bagian 'joke'-nya...

Friday, November 28, 2008

mahasiswa tidak mengerti lingkungan

Maksud judul posting dan foto kali ini didasari oleh beberapa hal berikut ini:
  1. Tempat sampah tersebut secara jelas sudah dibedakan antara yang organik dan non-organik
  2. Tempat sampah tersebut ada di dalam lingkungan salah satu kampus elit di bilangan Depok
  3. Tempat sampah tersebut berada cukup dekat dengan lokasi di mana mahasiswa/i sering berkumpul saat di luar jam kuliah

Atas dasar hal tersebut, fakta yang ditunjukkan oleh foto tersebut adalah:
  1. Ada botol dan gelas plastik bekas minuman yang diletakkan di tempat sampah yang tertulis "Organik"
  2. Tempat sampah tersebut hanya salah satu dari sekian banyak tempat sampah yang tertulis "Organik" tetapi tetap menampung (dimasuki?) botol atau gelas plastik
Jika aku menganggap bahwa si tempat sampah tidak bisa memilih mana sampah yang BERSEDIA dia tampung sesuai dengan peruntukannya, maka siapakah pihak yang tidak mengerti tentang mengapa si tempat sampah harus dibuat demikian?

Si mahasiswa/i kan? Dan mahasiswa kan MUSTINYA bisa memilih sampah apa yang seharusnya dimasukkan ke tempat sampah yang mana?

Foto: pribadi

Thursday, November 27, 2008

how much is a life of Indonesian student worth?


Can anybody stop complaining about morality for a while and wondering about the safety of our children that is at the edge of ignorance?

Protect our children not by cover them with blanket of "normative" morality. Instead, protect our children by providing them better facilities to go to their school and better education system that can make them think about their - bright - future life. Protect our children by keep them out from indoctrination of violence teaching.

But first, let's protect our children by giving them proper transport to their school. I cannot believe that our leader violate our children rights, instead of protecting them. Our leader only thinking about their own belly.

Photo: private

Wednesday, November 26, 2008

...not true?

When I read and wondering whether the evidence from following research findings that just recently being published is true or not:
"Some 73.1 percent of the teachers don’t want followers of other religions to build their houses of worship in their neighborhoods, it found."
My simple conclusion is "Religious rights and freedom in Indonesia just cease to exist". Then, I remember that friend of mine show me below photos... How could this be NOT TRUE...



Tuesday, November 25, 2008

catatan yang wajib dibaca...

"Prediksi yang dibuat, juga oleh para pakar ekonomi, terbentur dengan kenyataan bahwa dasarnya sebenarnya guyah. ”Kenyataan yang sangat menonjol,” tulis Keynes, ”adalah sangat guyah-lemahnya basis pengetahuan yang mendasari perkiraan yang harus dibuat tentang hasil yang prospektif.” Kita menyamarkan ketidakpastian dari diri kita sendiri, dengan berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu. Ilmu ekonomi, kata pengarang The General Theory of Employment, Interest, and Money yang terbit pada 1936 itu, hanyalah ”teknik yang cantik dan sopan” yang mencoba berurusan dengan masa kini, dengan menarik kesimpulan dari fakta bahwa kita sebetulnya tahu sedikit sekali tentang kelak."
Catatan tersebut selain mengangkat pemikiran Keynes, juga mengetengahkan sejarah pemikiran ekonomi yang cukup penting untuk diketahui terkait dengan bagaimana sistem ekonomi bekerja sepanjang sejarah. Bagiku pribadi, catatan ini mengingatkanku betapa pentingnya mengetahui dan belajar mengenai Sejarah Pemikiran Ekonomi. Sayang, mata kuliah ini tidak populer di kalangan mahasiswa...

Lengkapnya, silahkan baca Di Zaman Yang Meleset oleh Goenawan Mohamad.

No yoga in Indonesia (soon)?

Just like a true neighbor!

After Malaysia make such things like this silly rule, Indonesia would like to follow as well very soon. Great lah!

Monday, November 24, 2008

Quote of the day: non-violence vs permanent evil

I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent.
by Mahatma Gandhi - Indian political and spiritual leader (1869 - 1948)

And that permanent evil could create stigma from others that if your group or follower conducting violence systematically (based on believe, for instance). So, do not blame us if those stigma undoubtedly difficult to be removed from our mind.

No yoga in Malaysia?

It is another silly policy by scared stiff Malaysian government. I am still wondering, why Malaysia is so afraid with other culture or religion? [Another related news with Indonesia perspective]

They are too afraid with Indonesian music and banned the music to be aired in their radio. Now, they are afraid that yoga could corrupt their religious practices so they also banned it. What a ridiculous mindset and coward. If their religion as good as they believe in, why should worry with other practices? Like Gandhi said, "A living faith cannot be manufactured by the rule of majority." No matter how hard they are trying to show their greatness, it makes them look "truly ugly".

Lesson learned from Malaysia is do not be afraid if you have true faith. What is faith if it is not translated into action? And Malaysia shows a clear example of faith that translated into discrimination and numerous petrified actions.

Tuesday, November 18, 2008

welcome new "Newspaper"...

It's been two days since I received extra newspaper in front of my door. I was a subscriber of The Jakarta Post, and now another newspaper attempted to ask me to be subscriber for this new newspaper. So, please welcome The Jakarta Globe.

It looks good, full color and a lot of news or articles. I feel that it was too much information on it, but it served in full color so it well compensated then. If you are interested, please enjoy the reading.

Wednesday, November 12, 2008

Permata Depok Regency akan jadi Gudang Sampah?!

Setelah sempat hanya menjadi rumor selama beberapa bulan, akhirnya judul posting ini akan menjadi kenyataan. Di lingkungan Permata Depok Regency (PDR) akan dibangun Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang akan digunakan untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan oleh Kelurahan Ratu Jaya. Setidaknya, hal tersebut sudah dikonfirmasi melalui dua hal: (1) Sudah dimulainya kegiatan pembangunan di tempat yang rencananya akan menjadi lokasi UPS tersebut, (2) Sudah beredarnya edaran dari RT/RW setempat mengenai berita tersebut dan tanggapan warga.

PDR merupakan perumahan yang dibangun oleh PT Citrakarsa Hansaprima, sebuah pengembang perumahan di wilayah Depok. Sebelumnya, aku pernah memuat posting tentang kinerja (buruk?) dari developer ini dan kali ini tampaknya mereka melakukannya lagi. Dan, mereka kali ini melakukannya dengan jauh lebih fatal dari yang sudah-sudah.

Warga PDR secara prinsip menolak keberadaan UPS tersebut. Bukan hanya karena tidak ada persetujuan sebelumnya dari warga, namun karena UPS tersebut dibangun ditengah-tengah kawasan pemukiman. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat tidak tepat dan sangat merugikan. Mengapa harus membangun tempat penampungan dan pengolahan sampah di tengah-tengah pemukiman? Sebagai analogi saja, apakah Boss pemilik Developer bersedia di belakang rumahnya dibangun sebuah tempat penampungan sampah? Tentu tidak kan!

Dari pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok pun setali tiga uang. Pemkot yang Walikota-nya bergaya bak selebriti (karena fotonya terpampang dengan berbagai pose di setiap sudut kota Depok!), sangat tidak menghargai aspirasi rakyatnya dan cenderung berusaha mencari solusi mudah yang asal jadi. Dan, rencana pembangunan UPS tersebut tanpa dikonsultasikan dan mendapatkan ijin dari warga terus dilaksanakan. Rencananya, akan ada sosialisasi pada tanggal 16 November 2008 nanti. Tapi, jika pembangunan UPS tersebut sudah dijalankan, itu namanya bukan SOSIALISASI dong, melainkan PEMBERITAHUAN! Alias PEMAKSAAN! Jadi, beginilah gaya manajemen pemerintahan Kota Depok yang Walikota-nya religius, sangat peduli dengan budaya bangsa. Memaksakan kehendaknya kepada rakyat.

Ok, nantikan posting selanjutnya tentang UPS di PDR ini berikut analisis mengenai gaya manajemen pemerintahan Kota Depok dibawah kepemimpinan Walikota-nya yang narsis tersebut.

Inilah sebabnya "Ekskusi Mati" jadi tidak tepat...

Dari Opini Kompas berjudul "Terorisme Pasca Eksekusi" oleh Khamami Zada, beberapa hal berikut sangat tepat dan secara sederhana patut diperhitungkan:

"Sebenarnya, eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawan tidak menyurutkan gerakan terorisme di Indonesia. Mereka tidak gentar dan takut menerima eksekusi mati. Dalam ideologi teroris, tidak ada kata menyerah. Ada doktrin agama yang selalu menjadi spirit gerakan mereka, yakni mati syahid. Mereka meyakini, apa yang dilakukan adalah demi menegakkan agama Allah sehingga ketika mereka mati maka yang diperoleh adalah mati syahid dengan jaminan surga."

Jadi, meskipun MUI dan beberapa ormas Islam mengatakan sebaliknya, namun persepsi tersebut sudah mulai melekat di pikiran banyak simpatisan. Ok, sederhana saja, apakah setiap umat mengikuti setiap hal yang dikatakan MUI? Tidak kan! Buktinya FPI dan organisasi sejenis masih tumbuh subur dan aktif menjalankan aksinya.

"Berbagai adegan yang telah diperlihatkan Amrozi dan kawan-kawan, sejak melakukan aksi terorisme hingga dieksekusi mati, menunjukkan drama perjuangan. Ini pula yang terlihat dari pemberitaan di media (khususnya televisi) yang memperlihatkan betapa Amrozi dan kawan-kawan layak dijadikan ”pahlawan, hero, pejuang, dan pengobar semangat” dalam gerakan Islam."

Nah, ini dia maksudku sebelumnya bahwa diselesaikannya akhir perjuangan mereka dengan ditambah liputan media yang sangat lengkap, maka gelar sebagai "pahlawan, hero, pejuang dan pengobar semangat!" tak terelakkan. Dengan begitu, tidak tertutup kemungkinan bahwa akan ada yang terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka.

Tak mengherankan jika kelompok Islam garis keras banyak mengambil kesempatan untuk mendatangi Amrozi di Nusakambangan (Cilacap) dan mengunjungi keluarganya di Tenggulun (Lamongan). Mereka seolah memberi dukungan atas apa yang Amrozi dan kawan-kawan lakukan.

"Pemberitaan media yang begitu menegangkan bisa jadi telah memberi persepsi kepada masyarakat bahwa apa yang telah dilakukan Amrozi dan kawan-kawan adalah benar dan mereka sedang dizalimi oleh pemerintah dengan keputusan vonis mati. Apalagi, gambar-gambar yang ditampilkan televisi lebih banyak dalam suasana heroik yang mengobarkan semangat.

Akumulasi persepsi yang terus terbentuk oleh pemberitaan media ini bisa membalikkan persepsi publik bahwa Amrozi dan kawan-kawan hanya sebagai tumbal kepentingan politik internasional. Kondisi seperti ini bisa mempersubur aksi terorisme karena mereka dianggap sebagai pejuang agama yang dijamin mati syahid."

Tidak bisa lebih setuju lagi dengan kedua paragraf di atas. Kalau ingin membuat singkat pernyataan tersebut, maka versiku adalah: 1) hukuman mati merupakan solusi yang malah memicu aksi terorisme baru, 2) media massa terutama media cetak dan televisi ikut berkontribusi atas timbulnya aksi terorisme baru tersebut. That's why I feel that the death sentence is stupid and press is damned!


Monday, November 10, 2008

...dan akhirnya cita-cita mereka pun tercapai


Ketiganya akhirnya dieksekusi dan telah sampai diperaduan mereka yang terakhir. Satu hal yang tampak hanyalah hukuman atas perbuatan mereka. Namun, hal lain yang tampak akan semakin mencuat di masa depan adalah bahwa perbuatan mereka didasari atas cita-cita untuk menjadi martir. Dengan dieksekusinya ketiga orang tersebut, maka cita-cita mereka dan umat pengikut mereka pun tercapai sudah.

Masyarakat pun bersuka ria atas terpenuhinya cita-cita ketiganya. Mereka kini menjadi panutan dan idola baru, terbukti seperti rencana pesta untuk merayakan kematian yang sangat didambakan oleh banyak umat demi ajaran yang mulia. Bahkan seorang agamawan mengatakan bahwa hal yang ketiganya lakukan haruslah ditiru karena seperti apa yang diajarkan oleh para nabi sebelum mereka.

Selamat untuk Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera sekalian atas tercapainya cita-cita kalian menjadi martir umat. Selamat atas keteguhan dan 'senyum' yang tiada putus hingga akhir atas keyakinan perbuatan kalian. Selamat atas kekukuhan niat tanpa penyesalan yang telah dihasilkan dari aksi kalian. Salam untuk para malaikat di surga...

Bagaimana mengukur nafsu seks?

Artikel dari Putu Setia di Tempointeraktif.Com yang berjudul "Pornografi". Kutipan favoritku sebagai berikut:

Kenapa orang Bali, dari petani yang tak paham mengeja pornografi sampai gubernurnya yang jenderal polisi, menolak undang-undang ini? Banyak alasan, yang tak usah diperinci di sini. Yang paling utama (dalam ritual Hindu disebut utamaning utama), soal “penghinaan” itu. Pasal 1 berbunyi (draf edisi 4 September 2008): “Pornografi adalah materi seksualitas…” dan seterusnya. Lalu Pasal 14 berbunyi; “Perbuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi seksualitas dapat dilakukan untuk kepentingan dan memiliki nilai: (a) seni dan budaya (b) adat istiadat dan (c) ritual tradisional.

Penyusun rancangan seolah berkata: “Ritualmu itu sangat primitif, seni budaya dan adatmu itu mengandung pornografi, tapi okelah, aku izinkan untuk dapat dilakukan.”

“Ini kan penghinaan? Padahal, adat di Bali dan agama Hindu tak memberi tempat untuk pornografi,” ini kata istri saya. Masalahnya, kriteria porno itu seperti apa, dan untuk mengukur nafsu seksual itu melalui apa, apa ada alat seperti termometer, misalnya?

Sepakat dengan Putu Setia! UU Pornografi tersebut sudah bermasalah sejak pasal-pasal awalnya. Untuk berkelit dari pasal Definisi Pornografi yang terlalu sarat dengan pengaturan MORAL dibandingkan pengaturan produk-produk pornografi sendiri, pasal-pasal yang memuat PENGECUALIAN malahan sangat tampak bersemangat mengesampingkan beragam aspek yang sangat multitafsir jika ingin dinilai apakah termasuk porno atau tidak.

Pengecualian terhadap seni budaya, adat istiadat dan ritual tradisional - yang pasti awalnya bertujuan ingin mengakomodasi tuntuan pihak yang menolak UU Pornografi - malah menjadi PENGHINAAN dan PENGHAKIMAN oleh si pembuat UU (baca: para anggota DPR yang TERHORMAT dan BERMORAL) bahwa betul ketiga hal yang dikecualikan tersebut bisa dan pasti mengandung PORNO.

Jadi, pertanyaan yang paling penting di sini adalah bagaimana caranya mengukur nafsu seks? Bagaimana caranya tahu bahwa laki-laki memakai celana pendek dibandingkan perempuan memakai celana pendek itu porno atau tidak?

Aku berani jamin, jika Anggota DPR dan para agamawan melihat laki-laki memakai celana pendek pasti tidak dianggap porno. Begitu juga halnya jika perempuan yang memakai celana pendek berkulit gelap apalagi hitam. Tapi, jika perempuan tersebut memakai celana pendek dan berkulit putih mulus (apalagi bokongnya besar!) sudah pasti akan dibilang PORNO! (Karena para Anggota DPR dan agamawan terangsang dengan spesifikasi demikian).

Maka sial dan terkutuklah perempuan yang cantik dan berkulit mulus. Kecuali mereka mau berpakaian tertutup hingga hanya terlihat mata mereka saja... Tapi, jika mereka juga memiliki mata yang indah berbinar dan menggoda hasrat? Butakan saja mereka! Sanggup?

Aku yakin Tuhan tidak pernah menciptakan manusia khususnya laki-laki se-"nafsu" itu... Tapi Tuhan memang menciptakan Anggota DPR dan Agamawan yang memiliki "nafsu" terselubung.
Suara Rakyat Suara Tuhan!

Saturday, November 08, 2008

Quote of the day: "Rok Mini" dan Kemiskinan

"Lama sebelum terpilih menjadi presiden Paraguay tahun 2008 ini, Fernando Lugo pernah menggugat, mengapa kaum agamawan begitu cemas dengan ”rok mini”, tetapi tidak sensitif terhadap kemelaratan dan kemiskinan yang sangat menyiksa lahir batin rakyat?"

Dan di Indonesia, yang cemas dengan "rok mini" bukan hanya agamawan tetapi juga politisi. Tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang peduli dengan kemiskinan. Bahkan, si miskin mati bergelimpangan ketika agamawan ingin menghapus noda dari hartanya dengan amal dan politisi ingin menambah keimanannya dengan menjeritkan nama tuhannya.

Thursday, November 06, 2008

apa sih definisi "pariwisata murni"?

Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta Pusat Sahat Sitorus, Rabu (5/11), mengatakan, UU Anti Pornografi dan Porno Aksi harus didukung. Jika ada yang melanggar, akan dikenai sanksi berupa peringatan, penyegelan, dan pencabutan izin usaha.

Namun, masyarakat tidak perlu takut karena industri pariwisata murni tidak pernah menjual pornografi atau porno aksi. Hiburan malam dan perhotelan yang menjadi basis industri ini pun bukan berarti harus dibumbui hal-hal berbau seks. (Kompas, 6 November 2008)

Sungguh! Aku bingung bagaimana mendefinisikan "industri pariwisata murni" itu. Menurut Pak Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta tersebut, industri tersebut haruslah tidak pernah menjual pornografi atau porno aksi. Jika ada sebuah cafe yang memutar musik dan ada pengunjungnya ber-disko atau ber-dansa dan mereka biasanya mengenakan pakaian jenis tank-top atau kaus tanpa lengan (khususnya perempuan), apakah kemudian bebas dari definisi pornografi atau porno aksi?

Aku sangat yakin, menurut definisi FPI dan MMI, cafe tersebut telah jelas-jelas melakukan aksi pornografi dan porno aksi. Dan, menurut definisi Pak Kepala Suku Dinas maka cafe tersebut tidak termasuk "industri pariwisata murni".

Mungkin Indonesia atau Jakarta seharusnya membangun Piramida seperti di Mesir, atau padang pasir seperti di Afganistan yang bisa dijadikan obyek "industri pariwisata murni". Barulah tidak akan ada warga Indonesia yang bisa menjadi pelaku pelanggaran Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi. Dan, dijamin, penerimaan pariwisata akan meningkat karena kunjungan wisatawan akan meningkat dengan pesat.

Hebat!


Monday, November 03, 2008

civil disobedience from Bali!

From The Jakarta Post
"With the passing of the porn bill on Thursday, we hereby declare that we cannot carry it out because it is not in line with Balinese philosophical and sociological values," (Made Mangku Pastika, Governor of Bali)
That is what I called Civil Disobedience, and it is really a great move from Bali. It could shows the power of "non-violence" movement. This is what we learned from the Great Mahatma Gandhi on how to keep our beloved country in unity and fight for it in a peaceful-non-violence way. And this is the best way as religious people.

Enough seeing and referring to "hardliner" groups with "God's name" behind them, but they keep brutally showing tortures, killing, violence in the name of peace and religion.

Saturday, November 01, 2008

mahal salah, murah JUGA salah...

Dari berita Kompas, tentang penundaan Operasional Bus Lorena (untuk Busway) ditunda.

Yang menarik adalah alasan penundaan karena tarif yang ditetapkan oleh "pendatang baru" yaitu Bus Lorena lebih murah. Konsorsium Busway sebelumnya "merasa" tidak puas dan menggugat. Begini saja deh, jika Bus Lorena tersebut tidak segera dioperasikan artinya penduduk Jakarta yang dirugikan, bukan konsorsium. Jika memang Konsorsium merasa tarif Bus Lorena terlalu "rendah" sehingga Konsorsium dirugkan, mereka harus bisa membuktikan.

Seperti dikatakan oleh Presiden PT Eka Sari Lorena,
”Seharusnya pemerintah provinsi bisa bersikap tegas dalam melihat persoalan ini. Semuanya harus dilihat untuk kepentingan warga Jakarta. Kami menentukan tarif sedemikian rendah bukan tanpa perhitungan
Jadi, apa yang salah dengan kompetisi? Anda mau bayar mahal atau murah? Murah kan!!

RUU Pornografi akhirnya menjadi UU Pornografi...

Berita di Kompas dan The Jakarta Post.

Akhirnya, RUU Pornografi pun disahkan menjadi UU Pornografi. Maka Bangsa Indonesia telah sampailah pada saat yang membahagiakan. Dengan selamat sentosa, diiringi pekik Nama Tuhan yang menggelegar di seantero gedung Dewan Perwakilan Rakyat yang Terhormat, maka UU Pornografi ini disahkan untuk mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemuliaan dan akhlak serta moralitas yang paling mulia di atas muka bumi ini.

Seperti selalu dijadikan dalih oleh para petinggi nusantara ini, bahwa UU Pornografi ini bertujuan untuk "melindungi segenap perempuan dan anak-anak" di Indonesia. Melindungi dari apa? Padahal, judul UU Pornografi tersebut adalah "Pornografi". Bukan "UU Perlindungan Perempuan dan Anak".

Selamat untuk para wakil rakyat yang terhormat... Selamat atas moralitas yang sudah Anda semua junjung. Moralitas sebatas kertas dan pakaian yang menutup tubuh, bukan pikiran yang jernih dan kepentingan yang luas...

Thursday, October 30, 2008

Depok: ganti saja motto-nya?


Beberapa waktu lalu pernah kuposting spanduk yang dimuat oleh Pak Walikota Depok tentang perlunya membudayakan "makan dan minum dengan tangan kanan". Ternyata, pada saat menjelang hari raya Idul Fitri kemarin, spanduk tersebut lagi-lagi muncul di Depok bahkan dalam ukuran yang lebih besar lagi. Istrindaku sempat mengulasnya di sini. Saya sedikit banyak mulai enggan untuk mengabadikan foto spanduk yang super besar itu sehingga tidak ada dalam posting ini. (Catatan: spanduk tersebut sudah turun dan diganti dengan spanduk lain).

Sebenarnya masih penasaran saja, mengapa Pak Walikota Depok memilih motto semacam itu dan memuatnya dalam spanduk yang super besar. Tapi, sebenarnya juga aku mulai malas membahas segala hal yang ditampilkan oleh Pak Walikota karena semakin hari semakin tidak masuk akal. Seperti kebijakan yang terakhir terlihat di sepanjang jalan raya Margonda adalah pelebaran jalan yang ditambah dengan pelebaran pemisah jalan (separator). Bagiku itu cukup aneh. Jika memang melakukan pelebaran jalan agar daya tampung jalan meningkat, tetapi kenapa diikuti pelebaran pemisah jalan juga? Meskipun terlihat sedikit, tidakkah itu malah mengambil sebagian "daya tampung" jalan yang sedianya meningkat?

Yah, terlepas dari rasa penasaran tersebut, Istrindaku ternyata jauh lebih progresif lagi mengikuti pemikiran Pak Walikota khususnya tentang isu "makan dan minum dengan tangan kanan". Dan Istrindaku mengusulkan agar Pak Walikota mengganti motto-nya saja. Silahkan simak tulisannya di sini.

Dan aku, enggan hati untuk menganalisis dan memberi saran. Cukup mengamati saja apa lagi keanehan dan kegagalan yang sudah diciptakan oleh Pak Walikota:
  1. Margo City berhadapan dengan Depok Town Square - aneh dan sumber kemacetan
  2. Jembatan penyebrangan di depan Margo City dan Depok Town Square - belum selesai dan terlalu mungil sehingga hanya akan mengurangi kemacetan sedikit saja
  3. Angkot Way - gagal total!
  4. Pelebaran jalan dan pelebaran separator - aneh dan merusak lingkungan dengan penumbangan pohon-pohon di jalur hijau bahkan ditambah banjir di beberapa titik di sepanjang jalan raya Margonda
  5. Jalan raya Margonda - tetap macet dan akan semakin macet serta semakin tidak tertib
  6. Baliho dan Spanduk Pak Walikota - semakin banyak dan semakin tidak jelas apa maksud dan tujuannya. Yang jelas, wajah Pak Walikota jadi semakin dikenal bukan kebijakannya yang berhasil
  7. dan masih banyak lagi...

Sudah ah...

* Sumber foto

Wednesday, October 29, 2008

kalau nanti turun, siapkah untuk naik lagi?

Kata Presiden SBY harga BBM akan turun. Berita baik kan?

Tapi, jika nanti harga BBM sudah turun, sudah siapkah kita jika harga BBM harus naik lagi karena fluktuasi harga?

Sekarang pilih mana, harga BBM mengikuti fluktuasi harga yang ada - dengan konsekuensi kita harus berstrategi dalam hal konsumsi BBM dalam mengantisipasi tingkat harga; atau, tetap menikmati subsidi BBM dan ketar-ketir jika harga BBM akan naik - dengan konsekuensi kita akan "menikmati" ketidakpastian dan kenaikan harga barang-barang lainnya jauh sebelum akhirnya harga BBM disesuaikan, seperti sudah selama ini kita alami?

Kalau aku disuruh memilih, biarlah harga berfluktuasi. Setidaknya, aku tidak musti ikut menanggung ketidakpastian situasi ekonomi akibat tarik ulur politik presiden-DPR soal harga minyak. Sudah cukup perekonomian Indonesia dibuat "linglung" oleh politik, dan biarlah ia bergerak secara alamiah tanpa praduga dan spekulasi...

Tuesday, October 28, 2008

Quo vadis "soempah pemoeda"

Sengaja kutulis dengan ejaan lama karena menurutku peristiwa bersejarah tersebut perlu kita definisikan ulang serta diejawantahkan dengan pendekatan baru. Peristiwa "Soempah Pemoeda" perlu mendapatkan nafas baru terutama dari aspek pendefinisian "pemuda" serta apa yang seharusnya diamalkan oleh kohor generasi muda Indonesia pasca kolonialisasi. Ada dua aspek yang patut kita lihat dari kohor generasi muda Indonesia saat ini:

Karakteristik Demografis Pemuda Indonesia
Yang pertama harus kita lihat dari kohor pemuda Indonesia saat ini adalah dari segi kuantitas. Jumlah penduduk muda Indonesia saat ini dibanding kelompok penduduk lain (menurut umur) adalah terbesar. Situasi ini membuat pemikiran serta penghayatan hidup pemuda Indonesia saat ini jauh berbeda dengan pemuda di era kemerdekaan. Pemuda Indonesia saat ini akan lebih sibuk bersaing mempertahankan hidupnya, ditengah persaingan pasar tenaga kerja. Pemuda Indonesia sekarang mungkin akan lebih sibuk "nongkrong" alias berleha-leha karena hidup yang semakin terfasilitasi dengan berbagai kemudahan.

Mutu Modal Manusia Pemuda Indonesia
Yang kedua bisa kita lihat dari kohor pemuda Indonesia saat ini adalah dari segi kualitas. Dengan jumlah penduduk muda yang lebih besar dan ditambah dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk muda yang semakin tinggi maka dapat dikatakan sesungguhnya kualitas pemuda Indonesia di era saat ini telah semakin meningkat. Jika dulu pada saat "soempah pemoeda" dicetuskan, pemuda dari kalangan terpelajar termasuk golongan elit karena belum banyak jumlahnya. Namun, saat ini golongan elit ini mulai menjadi golongan menengah yang cenderung mengarah menjadi kelompok masyarakat "biasa".

Kedua aspek tersebut menunjukkan situasi yang sepertinya sangat berbeda dengan situasi ketika "soempah pemoeda" dicetuskan. Banyak pendapat mengatakan bahwa diperlukan "sumpah" baru dari kohor pemuda era ini. Bisa jadi betul. Namun, bisa jadi tidak diperlukan karena "sumpah" baru tidak relevan dengan kebutuhan dan aksi yang mampu dilakukan oleh pemuda Indonesia saat ini. Artinya, harus ada terobosan baru dan ruang baru bagi pemuda dalam mengejawantahkan peran sosial dan nasionalnya. Oleh sebab itu, fakta yang tak bisa dipungkiri adalah pemuda Indonesia harus diberi peran lebih dalam berbagai sektor kehidupan dan kenegaraan. Kalau tidak, kohor tersebut tidak akan mampu menemukan terobosan dan ruang baru tersebut karena mereka sibuk "bersaing" antar sesama mereka dan dengan generasi sebelumnya yang masih asyik masyuk dengan "sejarah" kebangsaan mereka dahulu.

Kesimpulannya, "soempah pemoeda" masih layak dikutip sebagai bukti peran pemuda Indonesia pada masanya. Namun, pemuda Indonesia berikutnya harus mencari "sumpah" atau "tekad"-nya sendiri yang tak mungkin sama dengan pemuda Indonesia dahulu. Dan jangan paksa mereka menjadi seperti pendahulu tersebut, karena pemuda Indonesia kini telah hidup dan harus bertahan dalam tantangan yang sudah jauh berbeda dengan era terdahulu.

Selamat hari "soempah pemoeda" Indonesia...

Monday, October 27, 2008

Newspaper Reading: Indonesian women is a cow?

Wait! I am not saying that literally. It's just symbolic and analogy for Pornography Law (RUU Pornografi) that will be passed very soon in - what so called religious country - of Indonesia. The analogy was presented in the column By The Way in The Jakarta Post with titled Bill Will Drown Women Just Like the Cow.

My favorite line is:
If only they had passed the bill -- which defines pornography as acts that can incite sexual desire; the cow would still be alive by now. There will be no sexy cows prancing about naked in the barn. They would all be covered, to protect them from being raped by zoophiles that would not be able to resist the decadent bum.
I could not agree more with the column and wishing that the RUU Pornografi will be passed very soon and I am looking forward to see Indonesia women being not "free" at all or being drown by the majority if they look beautiful and make male-man sexually attracted. I am also looking forward to see fashion police and special jail or court that will sentenced women for their look and God-gifted body. Do not forget to imagine that the police and judge will be all male-man species.

Saturday, October 18, 2008

selamat jalan Suzanna...

Berita duka ini cukup penting untukku posting kali ini.

Aku bukan penggemar berat beliau. Namun, aku tumbuh besar ditengah masa jayanya. Suzanna Martha Frederika Van Osch Nathalia atau lebih dikenal dengan Suzanna, merupakan salah satu aktris kawakan yang terkenal lewat genre film horor Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa terlepas dari kualitas akting atau ukuran-ukuran serius apa pun dalam dunia perfilman Indonesia, Suzanna telah memberikan kontribusi penting bagi genre film horor Indonesia. Dan sepengamatanku, hingga detik ini belum ada satu aktris pun yang mampu memberikan kesan mendalam dalam film horor Indonesia seperti halnya Suzanna yang tak ayal identik dengan peran 'mengerikan' atau 'tawa seram' yang pada jaman bisa membuat bulu kuduk merinding.

Selamat jalan Suzanna...
Silahkan juga baca Obituari dari The Jakarta Post

Friday, October 17, 2008

Direktif presiden?

Jika Anda melihat harian The Jakarta Post Kamis, 16 Oktober 2008 maka Anda akan menemukan salah satu foto di bagian 'headline' sedang menampilkan Presiden SBY sedang melakukan presentasi di depan kepala-kepala daerah. Ada yang menggelitikku dalam slide yang sedang beliau sajikan. Di situ tertulis, "Direktif Presiden"

Adakah diantara Anda yang mengetahui, apakah kata "direktif" sudah menjadi kata serapan asing ke dalam bahasa Indonesia??

Istrindaku berkata, "Mungkin si pembuat presentasi Presiden SBY tersebut baru saja nonton film Wall-E?". Bagi Anda yang belum menonton film tersebut, dalam salah satu adegannya, ada dialog yang menggunakan kata "Directive" untuk menjelaskan tugas yang harus dilakukan oleh robot yang berperan dalam film tersebut.

Ah, susah untukku menjelaskannya. Bagiku, kata tersebut terlalu "aneh" (jika tidak bisa dibilang "asing") dalam kosakata bahasa Indonesia. Kenapa Presiden SBY tidak menggunakan kata "instruksi" atau "perintah" saja sekalian? Bukankah kedua kata tersebut ada dalam daftar kosakata bahasa Indonesia?

Mulai dari Met Lebaran...

Pertama, aku ingin menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi saudara-saudariku serta teman-teman sekalian yang merayakannya. Semoga segala pikiran dan perbuatan yang semakin baik lagi akan kian kuat hadirnya dalam kehidupan kita di masa depan.

Banyak hal yang terjadi yang menyebabkan posting ini baru bisa di publikasikan. Mulai dari kesibukan selama periode libur lebaran hingga kesibukan yang sudah menunggu pasca libur lebaran. Aku akan coba menyampaikan risalahnya sebagai berikut:

Libur Lebaran dan Mudik
Libur Lebaran tahun ini aku tidak berpartisipasi sebagai pemudik. Biasanya, seperti yang sudah biasa aku dan istrinda lakukan di tahun-tahun sebelumnya, kami mudik ke tanah kelahiran istrindaku di Madiun. Namun, tahun ini kami memutuskan tidak melakukannya karena berbagai alasan. Jadi, kami hanya bisa menikmati pengalaman mudik lewat televisi.

Meski demikian, kami cukup menikmati suasana lengang di Jakarta. Terutama istrindaku, tahun ini merupakan kali pertama ia merasakan suasana libur Lebaran di Jakarta dan tampaknya hal tersebut sangat membahagiakan bagi dia ketika kami berjalan-jalan atau berkunjung ke keluarga-keluarga kami di Jakarta dan sekitarnya; Jakarta terasa begitu nyaman dan indah karena kurangnya kemacetan, rendahnya polusi, dan terasa jauh lebih tertibnya para pengguna jalan raya. Andaikan Jakarta bisa seperti saat libur Lebaran setiap harinya... minimal tertibnya saja, tidak perlu macetnya berkurang drastis... Mimpi kali yeee...

Airborne Disease
Memasuki Lebaran hari ke-2, datanglah saat-saat yang tidak membahagiakan. Selama dua hari berturut-turut, aku mengalami demam yang cukup tinggi diikuti oleh beberapa gejala nyeri dan pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Di akhir pekan, akhirnya aku menuruti saran istrinda untuk memeriksakan diri ke dokter. Setelah tes darah dan urin ternyata didapati aku mengalami infeksi bakteri yang cukup serius sehingga harus menelan sejumlah obat.

Namun, persoalannya tidak berhenti hingga disitu. Ternyata gejala penyakit yang kualami seperti melakukan gerilya dalam perlawanannya. Setelah demamku teratasi dan nyeri di salah satu bagian tubuhku berkurang, timbul gejala lain yang semuanya berujung pada infeksi di mulut dan tenggorokan. Dokter ke sekian yang kukunjungi menyebut penyakit yang kualami sebagai "airborne disease", karena besar kemungkinan aku terinfeksi bakteri ini lewat udara saat aku sedang dalam kondisi fisik yang relatif lemah. Yah, apa pun penyebabnya, hingga posting ini terbit aku masih menyimpan gejala batuk-batuk dan gatal di tenggorokan setelah sebelumnya terjadi sariawan di hampir seluruh bagian mulut. Kesimpulan yang kudapat dari pengalaman ini adalah jangan sekali-sekali meremehkan kondisi tubuh kita sendiri. Jagalah sebisa mungkin.

TOEFL dan GRE
Pasca liburan dan setelah hari kerja telah tiba, ada dua peristiwa yang penting yang harus aku lewati dengan kondisi yang belum sempurna. Peristiwa tersebut yaitu TOEFL test dan GRE test. Kedua tes tersebut harus aku jalani sebagai prasyarat untuk memenuhi kesempatan emas di masa depan. Belumlah patut kuuraikan detilnya di sini, karena belum pasti. Tapi, yang pasti TOEFL dan GRE test yang baru saja kujalani hasilnya tidaklah memuaskan. Terutama GRE yang baru pertama kali kulakukan cukup membuatku panik dan panik. Yah, biar bagaimana pun, sudah aku hadapi dan aku sekarang sedang mempersiapkan diri untuk mengambil test ulang agar hasilnya bisa lebih baik lagi. So help me God!

Ok, sementara itu dulu risalah beberapa minggu lalu. Sebenarnya ada beberapa hal yang juga ingin kukomentari tapi sudah banyak yang membahas. Mulai dari Paul Krugman yang memperoleh Hadiah Nobel dibidang Ekonomi, krisis ekonomi global, hingga fenomena musim hujan yang mulai datang namun sudahkah Jakarta siap menghadapi ritual banjir? Mudah-mudahan, aku bisa segera menulis lagi.

Tuesday, September 23, 2008

aging justice...

Bilamanakah keadilan mengalami penuaan (aging)? Jawabnnya adalah seperti Undang-Undang yang baru saja disahkan oleh (lagi-lagi) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Meminjam terminologi dari ilmu Demografi, dengan disahkannya UU ini maka Indonesia telah mengalami fenomena 'aging' lebih awal yaitu di sektor peradilan. Istilah kerennya, "aging justice".

Mengapa "aging justice" ini bisa menjadi masalah yang kritis?

Pertama, dari aspek beban ketergantungan. Dengan semakin banyaknya hakim yang berusia lanjut, maka beban ketergantungan secara ekonomi bagi lembaga peradilan tentunya akan semakin meningkat. Yang paling sederhana misalnya terlihat dari tunjangan kesehatan. Tak bisa dipungkiri bahwa meningkatnya umur juga berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan 'kesakitan' (morbiditas) dari para hakim. Jika dipandang dari aspek beban ketergantungan ekonomi, pola demikian akan memberi dampak pada meningkatnya biaya ekonomi dalam bentuk: meningkatnya biaya kesehatan yang harus dibayar institusi peradilan untuk para pejabat mereka, dan meningkatnya manfaat yang hilang (biaya) atas tidak terselesaikannya kasus-kasus hukum yang seharusnya bisa diselesaikan tepat waktu.

Kedua, dari aspek biaya regenerasi. Dengan semakin banyaknya hakim yang berusia lanjut, maka proses regenerasi akan berjalan lambat. Hal tersebut tidak saja berimplikasi pada rendahnya tingkat regenerasi dalam artian sedikitnya jumlah hakim muda yang potensial untuk menjadi pemimpin di masa depan; melainkan juga hakim-hakim muda yang potensial tersebut akan semakin sulit untuk berkembang dan menjadi lebih baik karena dalam lingkup institusi mereka masih terkungkung oleh "budaya" dan "mentalitas" yang sudah tidak muda lagi. Biaya regenerasi tersebut misalnya biaya akibat hambatan senioritas, biaya pengembangan dan kreatifitas, dan biaya hambatan untuk belajar hal-hal baru.

Secara umum, seharusnya kita sadari bahwa saat ini Indonesia sedang memiliki proporsi penduduk "muda" yang jauh lebih besar. Artinya, Indonesia bisa menuai manfaat dari adanya perkembangan dari pemikiran-pemikiran muda yang segar. Inilah manfaat sosial (non-ekonomi) dari tingginya jumlah penduduk muda (young population) - istilah kerennya "demographic dividend". Persoalannya, kita mau menuai keuntungan tersebut atau tidak? Dan, di lembaga peradilan kita sangat jelas tidak ingin menuai keuntungan tersebut.

Ya sudah...

Sunday, September 21, 2008

Stigma tentang DPR...


Membaca berita dan pernyataan anggota DPR seperti berikut:
"Lebih lanjut, Mahfudz [Ketua FPKS] menambahkan, disahkannya RUU [Pornografi] ini merupakan hadiah terindah bagi PKS di Bulan Ramadan ini. Ia pun meminta agar publik tidak lagi disibukkan dengan perdebatan norma, namun fakta sosial yang harus diperhatikan"
Semakin memperkuat stigma yang sudah melekat di diri setiap anggota DPR. Dalam bayangku dan kesanku saat ini, stigma yang paling kuat saat ini melekat tentang DPR adalah: "pemborong undang-undang", "makelar undang-undang", "tukang jual-beli kepentingan politik", "pembual ulung", "manusia-manusia yang paling tidak setia di jagad bumi Indonesia", dan masih banyak lagi.

Stigma-stigma tersebut terbukti dari hari ke hari dengan ditandai misalnya seperti kutipan berita di atas. Betapa DPR tidak mampu menetapkan prioritas dalam pekerjaannya, kecuali uang itu sendiri. Jika ada uang, pasti mereka menyelesaikan tugas-tugasnya dengan segera dan tanpa banyak cing-cong. Sementara, tugas menyusun undang-undang yang penting, seperti undang-undang pemilu yang sebentar lagi akan dilangsungkan malah tak kunjung selesai. Eh, malah ngurusin pornografi. Apakah sudah terlalu terangsangnya mereka hingga perlu mengatur semua 'rangsangan' tersebut?

Apalagi, di masa-masa seperti sekarang ini. Mereka semua sudah terlalu sibuk memperkenalkan diri untuk pemilu 2009. Mohon maaf, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian. Jika melihat gelagat dan pembelajaran yang kalian tunjukkan selama ini, rasanya aku ingin golput saja. Aku merasa DPR tidak berguna sama sekali. Lebih baik biarkan Presiden saja yang melakukan semua pekerjaan. Lebih mudah menyalahkan 1 orang presiden daripada segerombolan orang yang mengaku "wakil rakyat", tapi tidak pernah mengenali siapa yang mereka "wakili". Well, kalian jelas mewakili satu hal, bukan? UANG!

Tuesday, September 16, 2008

cara yang efektif memberi amal...

Setelah membaca berita tentang tragedi yang menyebabkan 21 Orang Tewas Saat Pembagian Zakat, aku jadi berpikir bagaimana cara yang efektif memberi "bantuan" (baca: amal) kepada fakir miskin?

Sebelumnya, aku memiliki hitung-hitungan sederhana sebagai berikut:
Aku membayangkan jika seorang individu setengah kaya dan atau kaya raya, bersedia memberi "bantuan" (baca: amal) sebesar Rp. 500,- per hari.
Jika aku asumsikan, individu tersebut "membantu" setiap hari kerja, maka dalam satu bulan jumlah total bantuan yang bisa dikumpulkan adalah:
Rp.500,- x 20 hari kerja/bulan = Rp. 10.000,-.
Kemudian, sekarang kita bayangkan jika dalam satu komunitas RT atau RW bersedia membantu sejumlah tersebut. Jika aku mengasumsikan lagi, dalam satu RT atau RW ada 30 KK (kepala keluarga) saja yang bersedia membantu, maka total dana yang terkumpul menjadi:
Rp.10.000,- x 30 KK = Rp. 300.000,-

Jika saja setiap bulan kita bisa mengumpulkan dana tersebut, kemudian bandingkan dengan jumlah amal yang ingin dibagikan. Jika setiap fakir miskin menerima Rp. 30.000,- per orang, maka dengan mekanisme pengumpulan di atas, kita bisa membantu sebanyak:
10 orang fakir miskin.
Jika mereka menerima Rp. 20.000,- per orang, maka kita bisa membantuk sebanyak:
15 orang fakir miskin.
Dan yang penting adalah jika kita melakukannya secara berkala setiap bulannya, maka kita bisa membantu fakir miskin setiap bulannya. Jika jumlah bantuannya ditingkatkan hingga maksimal Rp.1.000,-, kita bisa melakukan 'trade-off': apakah menambah jumlah dana bantuan per orangnya atau menambah jumlah orang yang ingin dibantu.

Perhitungan yang kubuat ini tidak untuk muluk-muluk yang berambisi membantu seluruh fakir miskin di satu kabupaten atau kecamatan. Melainkan, untuk membantu fakir miskin secara berkelanjutan di lingkungan terdekat kita - misalnya RW atau Kelurahan dan yang penting bukan hanya saat hari raya saja. Cara membagikannya pun lebih tepat sasaran, karena yang kita berikan jelas-jelas warga yang kita lihat dan - mungkin - kenal. Jadi, bukan sekedar amal untuk mengejar surga sehari saja. Jika pola penggalangan dana ini dilakukan, maka beberapa manfaat yang bisa diambil adalah:

1. Lebih transparan dan mudah dikelola
Dengan jumlah dana yang tidak terlalu besar, maka mudah bagi kita untuk mengawasi dan mengelolanya. Tidak perlu banyak orang untuk mengatur pembagian uangnya, dan bisa menggunakan mekanisme rapat warga atau berkeliling ke rumah warga yang layak menerimanya. Tidakkah itu lebih mudah verifikasinya?

2. Lebih berdampak kohesif bagi masyarakat
Dengan mekanisme demikian, warga masyarakat menjadi tahu dan mengenal lingkungannya. Pengetahuan tersebut bukan hanya sekedar administratif atau kewilayahan, tetapi juga secara sosial. Warga jadi mengenal siapa saja 'saudara' se-lingkungan yang memang membutuhkan bantuan karena kondisi mereka yang kronis.

3. Tidak perlu lembaga besar dan jauh lebih berkelanjutan (sustainable)
Karena lebih mudah dikelola, maka tidak perlu dibentuk badan atau lembaga khusus yang mengumpulkan dana tersebut. Dengan sistem yang sederhana ini, maka keberlanjutannya ada di tangan warga masing-masing. Jika memang masih merasa ingin membantu, maka terus dijalankan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan cakupannya diperluas jika memang ada yang perlu dibantu tapi diluar skema bantuan yang ada.

Pertanyaan yang penting kemudian, siapa saja yang harus dibantu dengan memberikan bantuan tunai seperti ini? Berikut ini adalah kriteria yang bisa kuusulkan yang paling sederhana dan paling membutuhkan:
1. Janda berumur di atas 45 tahun yang memiliki anak usia sekolah SD, SMP atau SMA dan tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak memiliki modal usaha.
Kalau Anda membaca karakterisik 21 korban tewas saat pembagian amal tersebut, mayoritas adalah kelompok tersebut. Cobalah Anda perhatikan, adakah kelompok masyarakat tersebut di lingkungan Anda? Jika ada dan cukup banyak, cobalah berpikir mengapa tidak mulai mencoba membantu mereka?
2. Anak-anak usia sekolah SD, SMP atau SMA dari keluarga yang orang tuanya tidak memiliki pekerjaan tetap, atau orang tuanya cacat.
Kelompok ini merupakan prioritas yang harus dibantu dalam konteks untuk terus melangsukan pendidikan mereka agar kelak mereka bisa keluar dari perangkap kemiskinan yang dialami oleh orang tua mereka. Kelompok ini tidak bisa dibantu hanya dengan "amal" sekali setahun.

Sekali lagi, cara "membantu" kaum fakir miskin yang kuusulkan tersebut bukan untuk sekedar "beramal" dalam rangka merayakan hari raya. Cara tersebut kupikir merupakan cara yang paling "harus" dibandingkan sekedar menjalankan "perintah agama". Membantu seharusnya bukan hanya "tanpa pamrih" namun juga memenuhi azas "manfaat" yang jelas. Jika kita hanya membantu sekali setahun, maka belum tentu tahun depan kita bisa membantu mereka lagi. Mengapa demikian? Karena mungkin mereka sudah meninggal karena kelaparan atau penyakit sehari setelah mereka menikmati uang amal tersebut. Dan yang penting, anak atau cucu mereka mewarisi 'keegoisan' kita yang hanya mau membantu sekali setahun tersebut.


Monday, September 15, 2008

Sesuatu yang besar datang menghampiri

Belakangan ini, aku sering mengalami beberapa hal yang membuatku berpikir betapa "keberuntungan kerap datang dengan ketidaknyamanan dan kebingungan yang mutlak." Atau ada istilah lain yang lebih langsung - to the point - yaitu "blessing in disguised".

Saat ini, aku sedang berada dan mengalami situasi tersebut. Tawaran pekerjaan yang cukup 'penting', baik dari sisi peluang di masa depan maupun renumerasi, datang dan mulai kukerjakan. Karena demikian penting, tentulah ia menuntut perhatian dan curahan kontribusi yang tidak sedikit. Di saat bersamaan, aku juga mendapatkan kesempatan yang penting bagi karir dan kualitas karir tersebut di masa depan, dalam bentuk peluang untuk melanjutkan sekolah. Pihak "sponsor" telah berkenan memilih dan mendukung cita-cita untuk melanjutkan sekolah tersebut, dan selanjutnya masih harus berjuang untuk memperoleh berkenannya sekolah yang ingin kutempati belajar.

Hal menarik yang terjadi di sini adalah bagaimana semua hal tersebut datang secara bersamaan dan membuatku harus melakukan "ekstra" atau harus melakukan "trade-off". Sejauh ini, aku masih berusaha memilih untuk melakukan "ekstra" dibandingkan "trade-off". Mengapa? Karena jika aku langsung memilih "trade-off", artinya aku secara sadar menghilangkan 'blessing in disguised' yang masih mungkin kualami. Segala hal yang baik, pada akhirnya bisa kita rasakan. Hanya masalah kapan dan bagaimana datangnya. Mudah-mudahan, aku masih bisa terus melakukan "ekstra"-"ekstra" lainnya agar terus aku diberkati dengan 'blessing in disguised' berikutnya. Apapun bentuk dan pengejawantahannya...

Terima kasih, Hyang Agung...
Terima kasih atas segala pembelajaran yang coba Kau tunjukkan kepadaku, dan untuk tiada henti mengajariku melihat "yang terbaik" dari apapun yang ada di hadapanku - yang lalu, kini, dan akan datang...

Friday, September 12, 2008

... artinya seluruh masyarakat Bali divonis "bersalah"

Dari berita di Kompas:
"Deni Aryasa dituding meniru dan menyebarluaskan motif fleur atau bunga. Padahal motif ini adalah salah satu motif tradisional Bali yang kaya akan makna. Motif serupa dapat ditemui di hampir seluruh ornamen seni di Bali, seperti gapura rumah, ukiran-ukiran Bali, bahkan dapatditemui sebagaimotif pada sanggah atau tempat persembahyangan umat Hindu di Bali.

Ironisnya, motif tradisional Bali ini ternyata dipatenkan pihak asing di Direktorat Hak Cipta, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Republik Indonesia pada tahun 2006 dengan nomor 030376. Pada surat keputusan Ditjen Haki, tertulis pencipta motif fleur adalah Guy Rainier Gabriel Bedarida, warga Prancis yang bermukim di Bali. Sedangkan pemegang hak cipta adalah PT Karya Tangan Indah milik pengusaha asal Kanada, John Hardy."

Anda mungkin ikut menghujat Malaysia kita mereka mengklaim lagu "Rasa Sayange" atau melarang lagu-lagu Indonesia diputar radio-radio Malaysia. Tapi apakah Anda juga ikut menghujat ketika membaca berita tersebut? Dan pertanyaan yang penting adalah siapa yang akan Anda hujat?

Aku pribadi ingin menghujat Direktorat Hak Cipta. Mereka memang benar-benar institusi yang korup dan tidak mengenal perikemanusiaan dan perikebangsaan. Hanya silau dan tergiur oleh uang, mereka dengan mudah mengesahkan pendaftaran motif dari negeri sendiri. Tidak ada yang aneh dalam proses tersebut karena Direktorat tersebut sudah jelas hanya melaksanakan "kepuasaan" mereka sendiri atas dasar uang yang mereka terima dari si pemegang hak cipta.

Selain itu, aku juga ingin menghujat Pengadilan Negeri Denpasar khususnya dan sistem peradilan di Indonesia pada umumnya. Bagaimana mungkin mereka melanjutkan tuntutan dari suatu produk hukum - keputusan Dirjen HAKI tentang paten tersebut - yang cacat tidak hanya dari sudut pandang legal tapi juga kemanusiaan? Bagaimana mungkin pengadilan bisa menganggap bahwa si seniman bisa dijadikan tersangka atas suatu hal yang sudah menjadi darah daging mereka dan seluruh masyarakat Bali? Jika sampai Deni Aryasa dinyatakan bersalah, itu artinya sama saja dengan mengvonis seluruh masyarakat Bali yang rumahnya memiliki ornamen Bali. Sungguh suatu kekejaman yang tak terperi...

Ini membuktikan secara nyata bahwa korupsi adalah agama yang dianut oleh orang-orang di Dirjen HAKI dan sistem peradilan Republik Indonesia.

Silahkan baca juga berita terkait, juga ini.

Tuesday, September 09, 2008

Bagaimana caranya menurunkan angka kecelakaan motor?

Aku mencoba menjawabnya di KaFE Depok: How to make the motorist behave?

Faktanya: insiden kecelakaan yang melibatkan pengendara motor terus meningkat. Penyebabnya ditengarai kurangnya disiplin dari para pengendara motor dan kurangnya sarana prasarana khusus, misalnya jalur khusus untuk motor.

Namun, menurutku hal tersebut lebih disebabkan oleh perilaku para pengendara yang kurang memahami resiko mengendarai motor yang relatif lebih tinggi. Oleh karena itu, aku mengusulkan untuk mengkompensasi resiko mengendarai motor yang tinggi tersebut biaya untuk memperoleh surat ijin mengemudi (SIM) motor harus lebih mahal. Dengan harga SIM yang lebih mahal, bisa menjadi sebagai efek untuk menunjukkan bahwa mengendarai motor tidaklah semudah naik sepeda dan mengandung resiko yang tinggi. Sehingga hanya para pengendara dengan kemampuan yang cukup yang berhak mengendarai motor.

Begitu...

filosofi makan cabai...

Dari Tajuk Rencana Kompas (9 September 2008),

"Pada masa pangan dan energi menjadi komoditas mahal seperti sekarang ini, masuk akal orang terpanggil untuk mencari solusi, mencari jalan keluar.

Di bidang pangan, salah satu upaya yang dilakukan adalah menemukan benih unggul. Namun, upaya ini tak bisa dilepaskan dari praksis ilmiah, yang di dalamnya ada prosedur yang harus diikuti dengan saksama, seperti riset dan pengembangan, pengujian laboratorium dan pengujian di lapangan, yang tidak jarang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Jelas itu menuntut ketekunan dan kesabaran, meneguhkan kearifan yang sudah sering kita dengar, bahwa tidak ada sukses dan karya besar yang instan."


Bottom line: kita harus selalu ingat dan sadar untuk tidak mengikuti filosofi hidup "makan cabai". Jangan pernah berpikir bahwa segala sesuatu bisa cepat, secepat kita merasakan pedas setelah menggigit cabai rawit. Apalagi untuk masalah yang terlalu lama kita abaikan karena ketidakpedulian kita, yaitu masalah energi dan pangan.


Ah, Malaysia lagi Malaysia lagi... Mereka patut dikasihani

Ah, Malaysia lagi...
Dulu memukuli para pekerja asal Indonesia hanya karena memang terlalu banyak pekerja asal Indonesia. Mengapa demikian? Karena orang Malaysia tidak mencukupi untuk pekerjaan-pekerjaan yang bersedia dikerjakan oleh orang Indonesia. Jadi, cukup mengherankan jika pekerja Indonesia mau bekerja di Malaysia tapi kemudian dipukuli dan disuruh pulang setelah bekerja di Malaysia. Bagai habis manis sepah di buang.

Ah, Malaysia lagi...
Di Indonesia kita biasa mendengarkan musisi asal Malaysia dan kita mengapresiasi musik mereka dengan antusias. Siapa yang tak kenal Sheila Madjid, Amy Search, atau bahkan Siti Nurhaliza? Pernahkah kita melarang mereka tampil di Indonesia? Pernahkah kita larang lagu-lagu mereka diperdengarkan di radio-radio Indonesia? Untuk apa?! Karya seni hanya bisa diapresiasi jika memang layak kita apresiasi. Musik memiliki penggemar dan mereka memiliki selera sendiri. Jadi, jika kemudian Malaysia ingin membatasi musik Indonesia diperdengarkan di Malaysia, itu sama saja menunjukkan kedunguan sekaligus ketakutan yang luar biasa dari suatu bangsa yang mengaku "Truly Asia". Sungguh patutlah kita kasihani...

Wednesday, August 27, 2008

I Don't Wanna Say Goodnight

Akhirnya, kutemukan juga lagu yang sejak lama kucari-cari. Meskipun di YouTube disebutkan penyanyinya adalah Planet 3, sedangkan setahuku penyanyi aslinya adalah The Sweet.

Biar bagaimanapun, silahkan nikmati lagu kesayanganku berikut ini:




The Sweet Lyrics
I Don't Wanna Say Goodnight Lyrics

Quote of the day: politik sinetron Indonesia

Ketika politik jadi versi lain dari sinetron, ia menjangkau orang ramai—tapi bukan karena sesuatu imbauan yang menggugah secara universal. Kalaupun ia berseru mengutuk ketidakadilan, itu pun hanya berlangsung untuk satu episode. Sejarah manusia yang dulu terdiri atas kemarahan dan pembebasan diganti dengan sesuatu yang jinak. Kini cerita manusia tetap masih gaduh, tapi itu kegaduhan suara merdu, tangis + ketawa galak yang palsu, dan bentrokan yang akan selesai ketika sutradara (atas titah produser, tentu saja), berseru, ”Cut!”

Nihilisme itu memang bisa asyik. Ia memperdaya.


Catatan Pinggir - Majalah Tempo Edisi. 25/XXXVIII/25 - 31 Agustus 2008

Tuesday, August 26, 2008

pemilikan versus penggunaan

"Tarif empat jenis pajak kendaraan bermotor akan dinaikkan dan satu jenis retribusi baru akan diterapkan sebagai bagian dari kebijakan penurunan konsumsi bahan bakar minyak. Pemerintah menginginkan daerah berperan optimal dalam penghematan BBM."
Dari berita Kompas tersebut, sebenarnya ada yang patut kita perhatikan. Menurutku, kita harus membedakan antara konsep "pemilikan" versus "penggunaan". Jika pemerintah ingin berupaya menekan tingkat konsumsi BBM, seharusnya yang menjadi fokus adalah penggunaan bukan pemilikan. Maksudku begini:

Secara ekonomi, pajak dan retribusi kendaraan bermotor lebih menargetkan pada biaya "pemilikan". Artinya, sebagai instrumen ekonomi pajak dan retribusi yang dipungut sekali dalam setahun bahkan dengan tingkat yang paling mahal sekali pun hanya akan mengurangi kepemilikan kendaraan bermotor. Hal tersebut tidak dapat menjadi jaminan bahwa penggunaan kendaraan akan berkurang. Dengan kata lain, hal tersebut juga tidak akan menjamin bahwa tingkat konsumsi BBM akan berkurang. Oleh sebab itu, kebijakan ini memang rentan dampaknya pada industri otomotif dalam bentuk penurunan tingkat permintaan terhadap kendaraan.

Jika pemerintah memang ingin menurunkan tingkat konsumsi BBM - yang dituduh terbesar untuk kendaraan bermotor - maka seharusnya pemerintah fokus pada bagaimana caranya mengurangi "penggunaan" kendaraan bermotor. Artinya, silahkan saja individu atau penduduk memiliki mobil atau motor sebanyak yang mereka inginkan. Namun, jika ingin menggunakannya mereka harus "membayar" biaya penggunaan jalan raya yang semakin 'langka'.

Ingat, jumlah dan panjang jalan tidak meningkat dalam tingkat yang sama dengan tingkat penggunaannya (baca: jumlah mobil dan motor yang beredar di jalan). Jalan raya menjadi relatif lebih langka dari sisi ketersediaanya. Kelangkaan menunjukkan secara relatif semakin mahalnya 'jalan' untuk digunakan oleh kendaraan bermotor. Oleh karena itu, harus dipikirkan instrumen ekonomi apa saja yang bisa diterapkan untuk mengurangi "penggunaan" kendaraan bermotor?

Menurutku, ada beberapa solusi untuk mengurangi tingkat "penggunaan" kendaraan bermotor:
  1. Menyediakan sarana transportasi umum yang lebih baik, memadai, lengkap dan terintegrasi. Ini untuk menampung yang melakukan substitusi dari pengguna kendaraan pribadi.
  2. Menerapkan "biaya" yang lebih tinggi untuk aspek penggunaan kendaraan pribadi, antara lain: jalan tol, parkir di lokasi-lokasi tertentu, dan pembatasan penggunaan pada jam-jam tertentu.

Khusus untuk solusi kedua, salah satu contoh radikal dari kebijakan yang bisa adalah menaikkan tarif parkir di mal-mal mewah dan besar serta menurunkan tarif parkir di pusat-pusat transportasi umum seperti stasiun kereta atau terminal bus untuk kompensasi bagi penduduk yang menggunakan kendaraan pribadi hanya untuk penghubung dari rumah ke tempat-tempat transportasi umum. Pendapatan dari tarif parkir yang semakin tinggi bisa dialihkan untuk mendukung (baca: subsidi) transportasi massal yang - sedianya - terus ditingkat ketersediaan dan kualitasnya.

Bagaimana? Ada yang tidak setuju?