Thursday, June 26, 2008

Quote of the day: Iman Indonesia

Iman selamanya akan bernama ketabahan. Tapi iman juga bertaut dengan antagonisme. Kita tahu begitu dalam makna keyakinan kepada yang Maha Agung bagi banyak orang, hingga keyakinan itu seperti tambang yang tak henti-hentinya memberikan ilham dan daya tahan.
Tapi kita juga akan selalu bertanya kenapa agama berkali-kali menumpahkan darah dalam sejarah, membangkitkan kekerasan, menghalalkan penindasan.
"Gua", Catatan Pinggir Goenawan Mohammad – Majalah Tempo Edisi. 18/XXXVII/23 - 29 Juni 2008

Quote of the day: Tuhan, Indonesia dan Demokrasi

Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna—dengan mengklaim diri sebagai buatan Tuhan—akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.
Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.
Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya—dan itulah yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.
"Indonesia", Catatan Pinggir Goenawan Mohammad – Majalah Tempo Edisi. 17/XXXVII/16 - 22 Juni 2008.

Wednesday, June 25, 2008

Indonesia nan (lebih) hebat!

Setelah membaca berita ini dan ini, ingin kuhaturkan...

Selamat atas matinya intelektualitas dan kapasitas berpikir para kaum cendekia.
Ketika para cerdik pandai yang sedianya mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan cara-cara yang lebih "beradab" pun efektif, dibandingkan masyarakat yang belum tersentuh pendidikan tinggi, malah membakar dan merusak segala apa yang ada di hadapannya tanpa sempat menimbang apakah tindakan tersebut akan membawa hasil yang penting bagi masyarakat luas. Tidak! Aksi mereka malah menakutkan dan menimbulkan kebingungan atas apa yang sesungguhnya yang ingin dicapai.

Selamat atas hilangnya kemampuan berdialog di kalangan cerdik pandai.
Ketika para kaum cendekia yang seharusnya memiliki kemampuan menyampaikan tuntutan dengan lebih damai dan menjadi panutan bagi masyarakat yang jelas-jelas tidak memiliki figur pemimpin yang mengayomi mereka, malah bertingkah jauh lebih barbar dibandingkan para penjahat kejam sekalian. Tingkah ini tidak bisa dikatakan kejam, melainkan sadis dan tak berperikecerdasan...

Kalian katakan gerakan ini gerakan murni rakyat? Rakyat yang mana? Gerakan ini jauh lebih parah dan hina daripada aksi Front-Front, Laskar-Laskar, dan Komando-Komando itu... Sangat menyedihkan... Ini menunjukkan Indonesia nan (lebih) hebat lagi!

Friday, June 20, 2008

Congratz Ngurah Rai Airport!


"Di Indonesia ini, baru Ngurah Rai saja yang diakui TSA (Transportation Security Administration - USA), yang lainnya belum. Karena itu, kita berharap penerbangan maskapai AS ke Ngurah Rai akan berlanjut bahkan bertambah baik frekuensi maupun jumlah maskapainya," kata Bambang Darwoto, Dirut PT Angkasa Pura I seperti dikutip Antara di Makassar, Jumat (20/6).
This is an example how hard work and consistency in conducting security standard really appreciated, not only by international world but also by own citizen. Even in Ngurah Rai Airport, common citizens and high ranking officer have to follow similar security standard and procedur. Although, it will make stupid government officer angry (See related post here by Aco). But, come on! Security is about obeying the rule and standard. No matter who you are!

I really appreciate Ngurai Rai Airport effort to make this happened. And, congratz! Keep up the good work...

jangan sampai ketahuan Front dan Laskar...


Dari Kompas.Com, artikel yang berjudul Makhluk Bulutangkis Paling Seksi,
... Tampil dengan baju hitam yang kontras dengan kulit yang putih, pasangan ini membiarkan bahu dan sebagian punggung mereka terbuka. Bagian punggung ditutup "hanya" oleh tali yang bersilang.
Karena itulah, meski memberi dukungan kepada Vita/Lilyana, penonton juga tidak mencemooh pasangan gado-gado tersebut. Apalagi keduanya mampu memberi perlawanan yang lumayan sengit kepada pasangan utama Indonesia tersebut.
Adalah pebultangksi Kanada, Charmeine Reid yang mempunyai ide untuk tampil seksi dan beda tersebut. Berusia 34 tahun, Reid adalah seorang yang kerap memberi pelatihan soal bulutangkis kepada murid-murid sekolah di Kanada dan Amerika Utara. "Para peminat bulutangkis di Kanada biasanya beralih setelah mereka lulus sekolah. Biasanya mereka memilih hoki es untuk yang putera atau tenis untuk yang puteri," katanya.
Ah, aku ingin mempertanyakan apakah definisi "seksi" itu? Apakah dengan melihat bahu dan punggung putih sudah bisa dibilang "seksi"? Tidakkah usaha yang ditunjukkan pebulutangkis Kanada tersebut bisa sekedar dianggap sebagai upaya yang logis untuk mengangkat citra olahraga bulutangkis. Seperti dikatakan,
Menurut Reid yang mengenal bulutangkis sejak usia dini, salah satu yang membuat anak-anak Kanada lebih tertarik dengan tenis adalah karena sifatnya yang lebih glamour. "Para petenis puteri dapat tampil lebih modis dengan lebih banyak pilihan gaya. Sementara bulutangkis tampil old fashioned dan klasik," katanya.
Dengan beralasan demikian, kita seharusnya sadar bahwa olahraga di masa sekarang ini selain untuk kesehatan juga merupakan ruang bisnis yang strategis sekaligus 'pencitraan' yang bisa kita terapkan baik untuk perusahaan maupun negara. Lihat saja ketika Italia pertama kali memperkenalkan kostum sepakbola dengan model ketat, yang kemudian menjadi mode baru dalam penentuan kostum sepakbola dunia. Lalu mengapa kita harus "fokus" pada aspek seksi-nya, dibandingkan memahami apa lagi yang bisa kita "manfaatkan" dari bulutangkis? Jika memang selalu kalah dalam pertandingan, setidaknya pebulutangkis Kanada bisa sukses dalam hal design kostum olahraga kebanggaan Indonesia ini. Jangan seperti pebulutangkis Indonesia yang selalu kalah dan kalah lagi... Oh, Taufik...

Yah, memang betul juga sih. Kalau selain di Indonesia, mungkin ini akan benar-benar menarik dan bisa membuat bulutangkis alias badminton semakin populer baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Sebab kalau di Indonesia, jika banyak atlet Indonesia yang tampil sambil "memamerkan" aurat (baca: bahu dan punggung mulus) maka sudah pasti bakalan di demo oleh Front-Front, Laskar-Laskar, dan Komando-Komando itu... Bisa-bisa Istora Senayan dirusak dan dibakar nantinya...

Mudah-mudahan tidak ya...

Thursday, June 19, 2008

firefox 3... Awesome!


Great! That's my first word to describe the feature of Firefox 3. I've already start to enjoy Safari as my web browser in my MacBook, and that enjoyment become more complete after I installed the new Firefox.

I love the new look of it, since it has similarity with Safari that simple yet very functional. One thing that so far still evidence with Firefox - and that is my main reason to continue using Firefox in addition to Safari - is adequate speed to access website that makes me relief since in Indonesia the internet connection mostly uneventful and rather dull. And, I do not know how that Firefox (and Safari) could cope that issue while IE still struggling to open a single web page. Therefore, it is quite acceptable that Firefox claimed to be the fastest, leanest and most powerful browser ever. I couldn't agree more.

Another great thing is the optional local language. At my first download, I was directed to download Indonesia version Firefox 3. As I am not convenience with English-Indonesian translation, then I tried to find out the English version Firefox 3. And there I can see a lot of language option to be downloaded. That's really interesting, I guess. Among other advantage such as customization with add-on feature, great security and malware protection, as well as - my favorite - simple browser with possible modification based on your own need. For me, that is a single indication of "no contest" result.

I do not know how to make a good review, but I would like you to try this new piece of marvel. Please, try it!

Wednesday, June 18, 2008

Source of public transport inefficiency: Organda?

Organda is the Organization of Land Transportation Owners. Recently they issues a new decree on increasing taxi fares. However, the taxi company not directly follow the decree. The taxi company still postponed the new fares. In my opinion, Organda decision to increase taxi fares immediately is lack of arguments and seems useless. Aco said it ridiculous.

The interesting story behind taxi operators' delayed decision is their simple argument,
"I've lost several passengers already due to the fuel price increases. The new fares will just make it worse,"
That argument is simply acceptable. The taxi driver quite understand that they have been forcing to accept that their passengers unwilling to take taxi for a moment due to adjustment process after fuel price hike. How come Organda never think that consumer need some adjustment first before willing to pay new fares? Speaking to that kind of query, I have sort of stupid conclusion up until now that the source of public transport inefficiency in Indonesia, particularly Jakarta, is Organda. Why?

Organda is the source of inefficiency because they set up transport fare by creating an concensus among operators. That means the operators (producers) control the market. To some extent, they can set up fares above the market equilibrium that possibly lower then their concensus fares. Moreover, they also have power to decide how many buses or transport mode allowed to operate in particular route.

The last event that lead me to this findings is when Organda refused public tenders for Busway operation. They refused the tenders because Organda demand that PT Primajasa and PT Lorena - neither of which belong to Organda group - not to be included in busway operations. In fact, both company offer lower cost of operation.

"Primajasa offered a rate of Rp 9,536 (approximately US$1) for every kilometer its supplied buses traveled on Corridor 4 (Pulo Gadung, East Jakarta, to Dukuh Atas, Central Jakarta), and Rp 9,371 per kilometer on Corridor 6 (Ragunan to Kuningan, both in South Jakarta).


Lorena submitted a bid of Rp 16,661 per kilometer to operate busses on Corridor 5 (Kampung Melayu, East Jakarta, to Ancol, North Jakarta) and Rp 9,443 on Corridor 7 (Kampung Rambutan to Kampung Melayu, both in East Jakarta)."
If that fact correct, than it is obvious that efficient company undoubtedly could serve at least the same quality as Organda groups did but with lower fares. That means Organda possibly charge a bit higher fares because they intended so. From consumers point of view, we could pay lower fares as if efficient operators or organization operates as such an efficient way.

How come nobody realize that we support non-efficient organization to serve us in transportation sector - such as Organda? Why we should accept such unfair situation?

If it is only just a desperate threat...

After reading this news, you may say to me that its only just a desperate threat. Or, you may say it would not be happen again as the security force should be more prepare and our nation already have experience to handle such threat. Really?

When you read such statement,
"... Everyone knows that the armies of Allah are (everywhere)"
then how can I am not supposed to be worried? The armies just shown up a few days before and beaten up others people. They already walking around and shown their existence clearly. Even though they were not set up a bomb, but who knows and can guarantee that they will not set up one very soon?

Now you may say that I am unfair and subjective. To be honest, its getting harder not to do so. When every moment you read newspaper and see by ones own eyes, how this group evolving and becoming stronger then such unfair and subjective perspective somehow become my common knowledge. I am still willing to open my mind with "good-supporting" arguments, but everybody have giving me none... Not even a single good reason for me not to let the stigma growing...



Friday, June 13, 2008

kenapa harus kaget?

Berita yang menggelikan untukku tentang Kapolda Bali yang baru, Irjen Tengku Ashikin Husein, di kompas.com sebagai berikut

Kepala Kepolisian Daerah Bali Irjen Tengku Ashikin Husein terperanjat ketika berjalan-jalan ke Kuta. "Wah, banyak turis tak pakai baju. Udah gitu jalan-jalan lagi naik motor!" katanya.
Maklum ia baru dua minggu menjadi Kapolda di Bali setelah jadi Kapolda Sulawesi Tengah. Bahkan ia sempat bertanya kepada petugas lalu lintas apakah ada aturan yang bisa menilang seseorang yang berkendaraan tanpa baju. "Ini sudah kelewatan. Benar memang mereka memakai helm ketika berkendaraan, tetapi sudah tidak sopan lagi ketika mereka tidak berbaju atau minim sekali hanya pakai baju renang," ujarnya.
Karenanya ia mencoba memikirkan aturan agar berbaju sopan dalam berkendaraan di jalan raya. Alasannya menyangkut kesopanan. Hanya saja Kapolda asal Aceh ini pun masih bingung bagaimana sanksinya.

Hal tersebut menunjukkan beberapa hal berikut:
Pertama, Pak Kapolda Bali sungguh tidak memahami situasi dan lingkungan di Pulau Bali. Jika hanya soal telanjang saja, apalagi hanya memakai baju renang tidaklah mengherankan. Tidak ada orang yang "terangsang" dan "tergoda" dengan fenomena turis yang telanjang atau hanya mengenakan bikini. Apakah dengan berpendapat demikian, Bali akan dijadikan "Serambi Mekkah" kedua setelah Aceh?

Kedua, Pak Kapolda Bali jelas sekali berpandangan umum bahwa telanjang dan berpakaian renang di jalan raya adalah budaya yang umum dilakukan di Bali. Pertanyaan yang penting di sini adalah apakah di setiap ruas jalan di Bali para turis sering berkendaraan atau berjalan-jalan tanpa pakaian atau pakaian minim? Pasti tidak, Pak Kapolda. Yang Pak Kapolda lihat itu kan di kawasan Kuta, yang notabene kawasan pantai. Kok Pak Kapolda tidak mengerti sih?

Seharusnya, Pak Kapolda Bali berbincang-bincang dan mengenal para turis yang berkunjung di Bali. Mengapa mereka melakukan hal demikian? Jangan lupa, Pak Kapolda Bali, bahwa para turis tidaklah seharian penuh telanjang atau berpakaian minim. Umumnya, mereka berperilaku demikian setelah dari atau akan menuju pantai untuk berjemur. Bukankah karena pantai yang indah dan panas sinar matahari yang terik untuk menggelapkan warna kulit mereka, para turis mau berkunjung ke negeri yang damai seperti Bali? Apakah Pak Kapolda Bali tidak tahu fakta tersebut? Untuk itu warga Bali juga sudah maklum dan mengerti sekali. Tetapi kenapa Pak Kapolda Bali harus kaget? Tumben yah melihat perempuan telanjang tanpa harus sembunyi-sembunyi takut ketahuan istri dan anak buah...

Ada-ada saja... Wong menahan nafsu diri sendiri yang tidak bisa, kok alasan cara berpakaian sopan dijadikan program penting dalam lalu lintas. Cara pikirnya persis kayak Front-Front dan Laskar-Laskar itu saja sih...

Thursday, June 12, 2008

Joger ternyata ekonom...

Oleh-oleh dari Joger Bali,

Dari kalimat di kaos Joger tersebut, terselip pemahaman tentang kebijakan ekonomi yang "pro-poor" alias berpihak kepada kelompok penduduk miskin, tanpa perlu berpikir seperti kelompok komunis yang 'menghapus' kelompok penduduk kaya sehingga terjadi pemerataan. Dengan kata lain, Joger menganjurkan bahwa dalam mengentaskan kemiskinan haruslah fokus langsung pada penduduk miskin saja. Jadi, jika kita ingin memberlakukan kebijakan subsidi maka haruslah subsidi yang langsung diterima oleh mereka yang membutuhkan. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Joger ternyata ekonom...?

Jika kita membaca kalimat berikutnya di bagian lain (lihat di bawah) ternyata Joger masih berhumor-ria dengan pendekatan ekonomi normatif tentang cara mencapai keadilan dan kemakmuran dengan mengendalikan hawa nafsu secara wajar. Wah, macam orang-orang yang selalu teriak soal moralitas saja... Padahal orang miskin dan kurang mampu lebih membutuhkan solusi ekonomi dibandingkan moral. Paling tidak, Joger masih konsisten dengan pendekatannya yang secara "riang" menawarkan sesuatu yang lebih damai dibandingkan demonstrasi dan kekerasan. Mungkin para ekonom komentator dan tokoh agama perlu belajar bagaimana menyampaikan pandangan dan ideologinya secara damai kepada Joger.

Bravo Joger!




Wednesday, June 11, 2008

Indonesia nan hebat!

Aku ingin mengucapkan Selamat! untuk Indonesia nan hebat:

Selamat atas musnahnya kebebasan beragama di Indonesia.
Dengan diterbitkannya SKB tentang Ahmadiyah, maka lenyap sudah jaminan bahwa di Indonesia Anda berhak menganut agama dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar. Dengan kata lain, sekarang Anda yang tidak mayoritas tidak sepenuhnya dibela oleh siapa pun. Bersiap-siaplah untuk mengalami tindak kekerasan dan pengurasakan jika tidak sesuai dengan mayoritas.

Selamat atas kekalnya kekerasan dan kekuatan massa di Indonesia.
Dengan masih beredarnya organisasi dan kelompok masyarakat ekstrim terutama yang mengumandangkan nama Tuhan dalam setiap aksi mereka, serta lebih mengedepankan kekerasan dan pengurasakan dalam menjalankan keyakinan mereka. Ketika pemerintah memilih tidak membubarkan mereka, maka pemerintah secara sadar tetap mendukung aksi kekerasan dan kekejaman atas nama Tuhan.

Dengan demikian, lengkaplah sudah segala kemuliaan, keagungan, dan kehebatan negeri yang "Berketuhanan", "Beriman", dan "Toleran" ini. Sebuah negeri yang bernama "Indonesia"...

Monday, June 09, 2008

Dari Ngurah Rai Airport...

Ini aku ketik di bandara udara Ngurah Rai Bali. Yang menyenangkan ketika menulis ini adalah bahwa aku melakukannya dengan memanfaatkan fasiltas HotSpot gratis yang disediakan oleh Bandara Ngurah Rai. Bagiku, ini merupakan suatu yang luar biasa. Setidaknya, aku baru kali ini secara sengaja menemukan bahwa ada airport di Indonesia yang menyediakan fasilitas akses internet gratis seperti halnya yang sudah dilakukan oleh bandara-bandara udara internasional di negara-negara maju lainnya. Aku kini sedang menduga-duga apakah di bandara udara Internasional Soekarno-Hatta fasilitas ini tersedia. Mohon dicatat, tersedianya fasilitas HotSpot ini bukan hanya yang tersedia di fasilitas executive lounge saja.

Namun, terlepas dari penemuan 'menarik' ini aku mengalami kekesalan atas rencana liburan sekaligus acara keluargaku di Bali kali ini. Gangguan yang sangat signifikan dialami oleh istriku, sedemikian sehingga kami harus mengurangi hari kunjungan kami dan yang lebih menyebalkan adalah semua terjadi karena "keegoisan" koordinator proyek yang tidak konsisten dalam menginformasikan pekerjaan yang dibebankan atas istriku. Selain membatalkan dan mengubah jadwal perjalanan kami (serta kehilangan momen-momen berharga dengan keluarga besar), kami juga harus membayar sejumlah biaya karena kejadian tersebut. Namun, yang kami peroleh hanyalah permintaan maaf dan pembatalan lanjutan atas apa yang sudah kami tentukan sebagai komitmen kami. Entahlah, bagaimana cara melukiskannya dengan kata-kata. Tetapi yang jelas, kami berdua benar-benar lelah dan kecewa atas semua peristiwa ini. Sungguh-sungguh lelah dan kecewa...

Sunday, June 08, 2008

Quote of the day: Talking to God!

Of course, talking to God is important, but if they think praying five times a day or going to Church every Sunday, or even everyday, is enough to allow them climb the stairway to heaven, maybe they should think again.
From The Jakarta Post article titled By The Way: FPI too busy talking to God. The article might be very "provocative" but for me it is really intuitive. And I am personally not subjective for particular religion, but it can be apply to anyone who think that they are very religious.

Thus, I recommend you to read the article and be ready to be angry and querying at the same time.

Thursday, June 05, 2008

After 9 months... the violence continued

Ah, just 9 months punishment in jailed. Even that he and the rest of the group will be walking free and yelling again their freedom and rights to do more violence.

This is just a simple but strong evidence that in Indonesia, the more you do the violence then the more you will get the license to do that. For almost 10 consecutive years doing such activities, not even a single leader against it. In fact, the security force (read: police department) used them as "partner in crime". That is why, there are none of the security force leader insisting to ban this group. Moreover, there are more supporter of them.

What a pathetic society... It feels like watching another predictive-and-boring soap opera. You know how the story will end, and you know they will make the same story again later in the next episodes. The irony is there are still so many audience that loved the drama.

The people of this country is totally sick! The leader even more sick and deranged! Especially the religious leader, they even the source of disaster... I prefer corrupter rather than people who screaming God's name all along the way.

Monday, June 02, 2008

quote of the day: faith and majority

The following two quotes are from Mahatma Gandhi:


If the majority of the people are selfish and untrust-worthy, how can democracy work?
and
A living faith cannot be manufactured by the rule of majority


Indonesian mobocracy

Mahatma Gandhi once said,
"Democracy is an impossible thing until the power is shared by all, but let not democracy degenerate into mobocracy"
According to The Free Dictionary, the meaning of mobocracy is

mob·oc·ra·cy (mb-kr-s)
n. pl. mob·oc·ra·cies
1. Political control by a mob.
2. The mass of common people as the source of political control.
With so much street demonstrations in Indonesia, could we call the current political system in Indonesia as mobocracy?

You can find so many mobocrats from various political parties, religious group, even students, and undoubtedly the marginalized groups. We understand for the later group, they don't have channel to share their aspirations or problems since the government never hear or listen to them. But how about leaders from political parties, religions, and even the - supposed to be smart - scholars of students?? They should have ability to find better way then mobocracy...

And what is the outcome of this Indonesian mobocracy practices? Well, we can easily seen that in the form of street fights, violence, police arrests, and hundreds of casualties. Who cares?!

Siapa yang sesat sesungguhnya?

Membaca berita hari ini semakin membuat stigma di kepalaku kian sulit untuk kuhapus. Bicara tentang "sesat", bicara tentang "kemurnian", bicara tentang "iman" dan bicara tentang "keyakinan" selalu berujung pada kekerasan dan tindak kekejaman terhadap sesama manusia. Apa yang sebenarnya dicari? Surga di akhirat sana? Berarti hukum ekonomi tentang trade-off sungguh bekerja di sini: jika ingin surga di akhirat maka kau harus ciptakan neraka dan kekejaman di muka bumi. Siapa pun yang menantang dan menghalangi harus dimusnahkan.

Di harian kompas hari ini, tertulis pernyataaan sebagai berikut:
”Mengapa mereka mengadakan aksi mendukung organisasi kriminal. Mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang.”
Apakah selalu semua harus diselesaikan dengan "perang"? Aneh, di mana bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa jika Tuhan sendiri ternyata tidak mengajarkan untuk berdamai?

Nah, jika kelompok-kelompok tersebut bicara tentang "aliran sesat" dan "ajaran sesat". Tidakkah merekalah sebenarnya yang merupakan "aliran sesat" dan menganut "ajaran sesat" karena lebih mengedepankan kekerasan, kekejaman, pengurasakan, dan perang di atas perdamaian dan dialog?

Yang lebih ironis, ke manakah para pemimpin dan pemuka agama? Mungkin mereka sedang mengumpulkan pundi-pundi surga mereka dengan terus mengucapkan doa tiada henti sambil menyelipkan sedikit agitasi ke celah-celah sempit otak dan hati para umatnya...


update: dengan daftar tindak kekerasan sepanjang ini, cukup mengherankan juga bahwa mereka dibiarkan berkembang di wilayah yang konon mengaku religius, toleran dan cinta damai. Belum lagi tindakan yang tidak tercatat dan tidak dilaporkan. Ah, memang hebat negeri ini...