Wednesday, November 25, 2009

Lesson from parking fine


The picture above is a simple prove for the cost of testing whether a system works or not. Yes, it is a parking fine ticket. I was violating the law by parking on the spot that was not suitable with my parking permission that I have.

The motivation at the moment I did the violation was there should be a window of opportunity to buy some time before the parking check take place. The plan was just park the car for one or two hours then move to find another place to park. Unfortunately, I totally forgot about the strategy I've been set up and I expect that there will be no inspection by parking check officer that day (wrong expectation, I know). So, the inspection happened for sure. Then, I paid the fine.

Personally, this is an expensive way of learning that the system works in this country. Unlike in many developing country (such as my country), where you still have possibility to "bargain" with the system; the law system in most of developed country is quite strict and working well enough. I am not saying that the system working perfectly, but the degree might be significantly high. I other words, it is a reliable system if you wish for good public order.

I am just imagine how could this strict system could be apply in Indonesia? What are the ingredients to have such 'ideal' enforcement to work? Hopefully, this is not only a dream.

Thursday, October 08, 2009

pengadilan atau cerita-cerita seru?

Peringatan: Jika Anda termasuk orang yang tidak tahan cerita-cerita sensual dilarang membaca posting ini termasuk materi-materi yang dikutip di dalamnya.

Judul posting ini dipicu oleh berita tentang kasus Antasari dari salah satu koran ternama di Indonesia. Sehubungan itu, hanya ada satu orang yang ingin aku kecam yaitu Jaksa Penuntut Umum (JPU). Selain itu, ada satu institusi yang juga ingin aku kecam yaitu Pengadilan. Mengapa keduanya patut dikecam?

Aku hanya punya satu hal yang membuatku merasa patut mengecam mereka, yaitu mengapa isi dakwaan yang dibuat HARUS seperti kisah yang ditulis dalam buku stensilan. Berita di koran seperti ditaut di atas menunjukkan betapa pengadilan yang diwakili oleh JPU tidak mampu langsung ke titik persoalan dan dakwaannya sedemikian sehingga keadilan seakan-akan jadi pertunjukkan dagelan (jika belum bisa dikatakan menjurus ke pornografi tulisan dan lisan). Untuk memahami maksudku ini, Anda harus membaca berita tersebut dan mencoba membayangkan: apakah pengadilan adalah tempat untuk membeberkan aib atau menegakkan keadilan?

Jika gambaran pengadilan seperti di berita tersebut, aku rasa pengadilan yang diwakili oleh JPU tidak lebih dari pornografi berkedok pembeberan aib. Atau, JPU sedang membacakan cerita-cerita seru saja...

sungguh-sungguh tidak belajar...

Yang aku ingat, posting beberapa waktu lalu masih berkaitan dengan gempa yang terjadi di Tasikmalaya. Jika Anda membaca artikel yang dirujuk di situ, artikel yang ditulis oleh Putu Setia, sudah dengan gamblang sekali dinyatakan bahwa mencegah dampak yang lebih buruk jauh lebih dibutuhkan daripada sekedar legitimasi bencana dari ayat-ayat suci (di kolom komentar artikel tersebut, masih saja terdapat para komentator yang tak pernah bosan mencungkil ayat-ayat suci). Mencegah dampak yang lebih buruk bisa dilakukan dengan mengkaji kembali bagaimana membangun tempat tinggal yang "ramah" bencana.

Kemudian, datang lagi bencana gempa yang terjadi kali ini di Padang, Sumatera Barat. Sudah jelas, kita semua berduka. Namun, masih saja manusia-manusia "penguasa ayat-ayat suci" tersebut sibuk mencari-cari legitimasi bencana dari ayat-ayat suci yang mereka geluti. Mereka benar-benar bebal dan tak berperikemanusiaan. Entah bagaimana mengajarkan orang-orang yang penuh dengan kebebalan demikian.

Padahal, apa yang ditulis oleh Putu Setia masih tetap relevan dan menjadi keharusan untuk dikaji lebih jauh. Khususnya, terkait dengan bagaimana kita di Indonesia membangun tempat tinggal dan bangunan yang ramah bencana tadi. Bukan rahasia lagi bahwa prosedur dan perencanaan pembangunan hunian dan gedung-gedung di Indonesia penuh dengan praktek manipulasi yang mengabaikan baku mutu dan kelaikan bangunan yang semestinya ada. Hal tersebut sekarang terbukti di Padang. Dan dengan kesadaran tersebut, fokus kita seharusnya tidak hanya gempa, namun juga bencana alam lain yang menjadi rutinitas di Indonesia seperti: banjir, gunung berapi, kekeringan, dan sebagainya; juga tidak hanya terkait dengan tempat tinggal dan prosedur membangun namun juga tata cara kita memanfaatkan sumber daya dan lingkungan kita. Kita harus mulai memikirkan bagaimana strategi hidup di tengah-tengah lingkaran bencana. Bukan hanya berdoa, tapi juga berusaha dan berbuat...

Wednesday, September 16, 2009

Quote of the day: Indonesia adalah...

Dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad,
Kata-kata Suwardi dan Dekker terbukti jadi kenyataan 100 tahun kemudian, pada hari ini. Indonesia bukan sekadar multi kultural, tapi juga inter kultural: tiap orang jadi Indonesia karena memasukkan kebudayaan yang lain ke dalam dirinya. Sebab Indonesia bukanlah ke bhineka an yang bersekat sekat seperti dalam rezim apartheid. Indonesia adalah sebuah proses yang eklektik, bercampur, berbaur dengan bebas.
Sungguh ini merupakan kesadaran yang harus terus ditumbuhkan dan dikembangkan. Menjadi bangsa yang tangguh sekaligus besar, bukan hanya dilakukan secara fisik namun juga secara pemikiran dengan terus menyadari arti proses yang dialaminya. Hidup Indonesia!

Monday, September 07, 2009

mencegah vs merujuk

Dari kolom Cari Angin oleh Putu Setia yang berjudul Misteri Gempa,
Kita sudah diingatkan berdiam di daerah rawan gempa, tapi kita menganggap remeh hal itu dengan mengabaikan persyaratan hidup di daerah rawan gempa. Kita selalu berpikir bahwa bencana adalah nasib sial, takdir buruk yang tak bisa dicegah. Bahkan sebagian dari kita sering menganggap bencana sebagai cobaan dari Tuhan, atau malah kutukan dari Tuhan. Ah, bukankah Tuhan mahapengasih, kenapa harus main kutuk segala?
Meskipun dengan kata-kata yang relatif lugas seperti ini, masih saja ada yang menulis di kolom komentar dengan menghantarkan kata-kata Tuhan. Apakah sedemikian sulitnya untuk paham bahwa "mencegah" dengan perbuatan nyata jauh lebih baik dibandingkan sekedar 'merujuk' pada kata-kata suci?


Tuesday, August 25, 2009

Update clarification

As I posted before, I made clarification on Pendet dance from Malaysian claim. According to recent news, it was a mistake made by the television broadcast. It seems quite an easy confirmation since Pendet dance indeed belongs to Balinese and Indonesia. In this matter, I can accept that Malaysia free from any misconduct.

Unfortunately, this clarification not instantly diminished the label attached to Malaysia regarding stolen culture demeanor on Indonesia. For instance Rasa Sayange song, the clarification still apply...

Clarification not only for Malaysian, but for people all over the world

Given recent news which initiated by blatant Malaysian government over claiming another traditional Indonesian dance, in particular Balinese dance; I want to confirm not only Malaysian but also people all over the world as following:

Pendet dance is originally Balinese and Indonesian own dance. Malaysia never ever create or even own such a beautiful dance. Only Balinese and Indonesian who have capabilities to invent such creative dance and it is already being part of their life from their beloved ancestor.

Malaysia ought never ever try to claim and justify any dance that originally own and created by Indonesian. Malaysia must immediately quote the authenticity of any cultural activities that originally from any part of Indonesia. Malaysia must avoid any "stolen culture" demeanor, particularly from Indonesia of being used and claimed as Malaysian. Therefore, Malaysia can prove their dignity and sovereignty as a nation.

I urge Malaysian government and people of Malaysia to consider this clarification for the sake of etiquette.

Tuesday, August 11, 2009

Article of the day

From The Jakarta Post: Bali is reaching a crossroad

Bali is reaching a crossroads

Anak Agung Gde Agung , Jakarta | Sun, 08/09/2009 11:35 AM | Opinion

The rejection by the Bali administration to relocate 10 Komodo dragons from their natural habitat in Wae Wulu, West Manggarai, to the island province is a highly praiseworthy decision made for all the right reasons.

For one, forcing the komodo dragons to exist in a possibly harmful alien environment is worthy of mention. Secondly, Bali has shown it will not pursue its own goals as a cultural tourist destination at the expense of something more significant.

The second reason is a very important development in the mind set of Balinese officials, who have up until now only sought the maximum number of tourists by any means possible. The result has been catastrophic for the conservation of Bali's rich culture and environment.

The erosion of Bali's, tradition, culture and natural environment as a result of massive efforts to boost tourist numbers has occurred in a number of ways. The most visible is the overload in infrastructure and overuse of precious natural resources. Roads have become cramped with cars at all hours of night and day, while farmlands have disappeared at a rate of around 1000 hectares per year to make way for hotels, villas and malls.

All of Bali's 37 beaches and eight rivers have undergone serious transformations from their original states through development activities that have illegally violated building codes. Water levels at various points are so low they risk drying up altogether, inviting sea water to seep in. This problem and many more like it were foregone conclusions when the number of hotel rooms, set by French tourist company Sceto at a maximum 22.000 for Bali, exceeded the 70.000 mark. This excludes villas, home stays and condominiums which have mushroomed in quantum leaps these past few years.

The more fatal effect of this overload of tourists lies in the impact it has culturally. As farmlands are converted into tourist infrastructure, alienation not only occurs with the land but also to the temples, rituals, ceremonies and communal life - the essential lifestyle of the people who used to live on that land. The Balinese way of life, culture and tradition has been displaced in the blink of an eye.

Worse still, the hotels that have come to replace the indigenous farmers bring in their wake western values of individualism, meritocracy, efficiency and other modernist traits. These exist in stark contrast to the previous Balinese symbol-oriented society. Needless to say, rapid transformations occur wherever the Balinese language is abandoned for English as a sign of advancement.

Considering this tragic trend, the recent announcement by the Balinese administration that the focus of its tourist industry is cultural is therefore something of a landmark. If seriously adhered to, this could signal the reversal of some of these damaging trends Bali has been enduring.

Now that the intent is there, the administration needs to identify the means by which is plans to achieve its objectives, that is conserving the island*s cultural and natural heritage.

The important point here, as far as tourist management is concerned, is to heed to the basic idea that tourists travel to a place to experience its unique cultural and natural environment. With this in mind, the administration should focus on three strategies.

First, it should aim to preserve and enhance the special cultures, traditions and natural environment of Bali through multifaceted defensive and motivational policies.

Next, it should bring in the right type of tourists who can appreciate the culture and natural environment of the island. It should stop emphasizing the sheer number of tourists arriving and begin advocating for the right kind of people it wishes to host. This will prevent Bali from becoming everything for everybody and eventually nothing for nobody. In short, it will protect it from losing its uniqueness. Those visiting Bali for its unique culture will reinvigorate local pride in culture.

Finally, Bali's key philosophy on life, the Tri Hita Karana, should be strengthened. The premise of the philosophy teaches that man in his every action should always heed his impact on the three main surroundings - his fellow being, his natural environment and his god or morality. In meeting his needs, man should balance them in such a way that the needs of those around him are not impaired.

He should adhere to the way of the Tri Hita Karana, or the "Sacred Balance", which governs behavior to conform to propriety, reciprocity and interconnection, all of which mean honoring heritage and conservation. If Balinese can truly live the way of the Tri Hita Karana, they will refrain from achieving their objectives at the expense of their tradition, culture and environment.

While the clock is ticking fast and Bali is rapidly approaching this crossroads, it is not too late to turn fate around. May the rejection of the Komodo dragons wake the Balinese to the dire danger that their rich heritage faces and galvanize them toward the right course of action.

Dr. Anak Agung Gde Agung is a graduate of Harvard (US) and Leiden (Holland) universities and the Fletcher School of Law and Diplomacy (US). He was a member of the Supreme Consultative Body (MPR - RI, 1999 - 2004) and was a Minister of Societal Affairs under President Abdurrahman Wahid.

Sunday, August 09, 2009

SuperFreakonomics for the suicide bombers

Courtesy of Freakonomics

I would like to buy this book for two main reason: 1) I want to know what will be the new topics discuss by Levitt and Dubner in this book as I already read their previous book - Freakonomics; 2) I have this crazy idea since the last part of the title really relevant with latest incident of bom attack in Jakarta. If I know the bombers and their follower personally, I would like to buy and give this book for them and I hope they really read the chapter about why suicide bombers should buy life insurance.

I guess the suicide bombers actually already have "life insurance" in heaven for doing the bombing, based on their faith and believe. Having said that, I had realized that by reading this book they will not easily being "brain washed" since economic science have no doctrinal teaching approach. But, I still wish to try to change their mind somehow. I am not hate them, just felt sorry for them.

Teroris = Para Pencari Sensasi = Suratkabar

"Pertama, saya belum mendapatkan verifikasi dari jaringan teroris itu sendiri, yang kedua banyak kejanggalan yang terjadi dalam penembakan itu", ujar Al Chaidar saat dihubungi melalui telpon genggamnya"
Jika benar ada orang yang memiliki "pengetahuan" tentang para teroris SEBAIK dan SETEPAT ini, bilakah dia: a) kaki tangan teroris, atau b) teroris sendiri, atau c) sang pencari sensasi...?

Jika a) dan atau b) berlaku, mengapa dia tidak ditangkap?

Namun jika c) yang berlaku, mengapa dia bisa dikutip oleh suratkabar/berita yang cukup ternama?

Tidakkah ini berarti bahwa para teroris sama dengan para pencari sensasi serta sama dengan suratkabar atau kantor berita yang memuat artikel seperti ini?


Friday, August 07, 2009

A note of lament for 'Sam' - the Koala

I was touched by his story a few months ago on how he escape from a disaster. Despite his cute face (Who don't like to see a koala? Poor you!), his experience with his savior give us some meaning about how to have a great relationship in our live.

But, now you're gone and I have this true lament feeling for your death. So long, Sam. Rest in peace...

PS: I really want to see a koala, for sure

Bravo Sandhy Sandoro...

courtesy of The Jakarta Globe

Another Indonesian artist - a singer - who successfully serve the great name of Indonesia in international competition.

Wednesday, August 05, 2009

Another good lesson from Scandinavian

My admiration to Scandinavian has not yet over. In fact, it keep coming on due recent economic crisis where we see how the world, including most of developed as well as superpower countries, facing the global economic downturn. The article titled "Why Scandinavia can teach us a thing or two about surviving a recession" definitely could hinted us few things on how they respond to the crisis. The way Scandinavia respond to economic situation is not only due to the crisis, but also during their "happy" moment.

One good lesson regarding natural resources richness management - as I assumed that Indonesia to some extent also having this kind of advantage - could be cited from Norway

Norway shines especially brightly: unlike Britain, it is saving its North Sea oil and gas revenue into a sovereign wealth fund, not worth 2.384 trillion kroner (£228bn), or 1.4 times its GDP. Only 4% of the fund goes into the national budget, the rest is saved for future generations. So when Norway needed to find money to stimulate the economy, it was able to find it without having to cut public budgets or increase taxes, as Britain is set to do.

The bottom line of this strategy is to keep the economic transformation go on in sustainable pace and put the point of view in longer term by doing saving today for future better endowments. With a lot of natural resources that Indonesia have, this kind of strategy worth to be consider and to apply as it will definitely prevent the worse of another possible shocks as well as serve our future generations with sufficient wealth.
Let's change our perspective first and save for the better future...

Monday, July 27, 2009

No title

Membeku niat ketika setiap pertanyaan menjadi kelam. Waktu mentari tenggelam lebih cepat, terlalu cepat hangat menguap dibawa surya yang terburu-buru pergi berlalu. Dingin kembali menyergap dan tak ada celah untuk melepaskan diri. Terperangkap dalam kebekuan dan sepi kini bagai sejarah abadi. Ia hanya diingat oleh segelintir pikiran yang tak lama juga tinggal sejarah.

Terasa sekali pola pikir liar kebingungan. Antara pasti dan bimbang, di mana batasnya? Tak seorang pun bisa menjawab atau beri tuntunan. Hujaman keraguan tak putus dan sedikit pun tak surut memanggil. Keriangan waktu kemarin tak perlu waktu hingga sehari untuk menunggu mengambil langkah seribu.

A-27/07/09

Monday, July 20, 2009

Join the Indonesia Unite


I am officially join the Indonesia Unite. By doing this, I am not only gathering in a group who have similar understanding about how we deal with terrorism. I also believe that by keep our positive thinking and never ending effort to promote peace as well as mutual understanding about how to defense our "peaceful" spirit of Indonesia, we will be able to stand up proudly as Indonesian citizen.

We are a citizen of a big country, and we will not easily being threaten by terrorist. And who ever try out our spirit with their coward deeds of terror and fears attack, will receive never ending effort and struggle to promote more peace from our Indonesian brothers and sisters.

Don't be afraid, mate!

Last weekend, I have small conversation with friends who was becoming afraid to visit Indonesia after last Jakarta booming incident. They - a couple - wish to visit Bali and probably some other places in Indonesia, but due to the booming they received travel warning from their government and they decided to re-schedule their trip as well as their destination.

Well, I feel sorry for them but I understand their situation and feeling. The best thing I can say to them are as follow:

We can not be sure if all part of Indonesia is dangerous. And it is pretty sure that in all over the world there is always a small possible dangerous thing to happen, including small traffic accident or stomach ache if you eat hot-spices food. But, I believe that Indonesia in general still a save place to visit.
If you feel that your people become target of terrorist as many expert - and your government - believed to be so, then I strongly recommend you not to visit and hang around the most common tourist site, such as famous beaches, big hotels and cafes, as well as malls and shopping centers. Instead, you should come, visit and enjoy our local people as well as their traditional activities. By doing this, you are not only able to witness how peaceful Indonesia is but also helping more Indonesian with their business.
Try to get information from local airport staff or taxi driver on any cheap but decent motels or cottages which close to local community. Visit their traditional markets and interact with them. I can guarantee you will get the most peaceful and friendship welcoming atmosphere from Indonesian people - children, youth, worker class group and elderly - on your visit to Indonesia.
If you do follow my suggestion, I can guarantee you that Indonesia is not as dangerous as you and your government think of. And if you really at the end visit Indonesia, I believe you will find out that Indonesia is a beautiful country with kind and great people who will always love peace and friendship with every people from around the world. So, don't be afraid, mate! You will be save.
Do I already sound like promotor for Indonesia Visit 2010?

Thursday, July 16, 2009

...masalahnya tetap ada di DPR

Artikel di kompas yang berjudul Plus Minus Menteri "Profesional" dan "Parpol" membuatku ingin membuat kesimpulan yang sama sedari dahulu hingga sekarang. Kesimpulan itu adalah yang akan selalu menjadi masalah dan sumber dari segala masalah adalah DPR.

Jika kita mempekerjakan seorang menteri, terlepas apakah mereka kalangan profesional atau parpol, sedianya kita menilai kinerja dan kapasitas kerja yang dimiliki. Semua itu bisa dilihat dari pengalaman dan atau capaian kerjanya selama ini. Jika memang ada program kerja yang patut dikaji, bukan berarti kemudian menteri yang berlatar belakang profesional tidak mampu atau sebaliknya yang berlatar belakang parpol pasti lebih cakap.

Seharusnya Indonesia mulai melakukan penilaian dan apresiasi pekerjaan setiap pejabat negara berdasarkan prestasi yang telah dicapai. Dengan demikian, Indonesia juga bisa membudayakan budaya "mengundurkan diri" jika gagal dalam mengemban tugas. Jangan seperti anggota DPR yang sudah tidur di ruang sidang, menerima gaji dan fasilitas yang berlimpah tapi tidak berkontribusi langsung pada pelaksanaan pembangunan.

Tuesday, July 14, 2009

incumbent=petahana (?)

Ehm, aku harus mulai membiasakan (atau mengingat?) terjemahan bahasa Indonesia tersebut.


Monday, July 13, 2009

Transformers 2: Revenge of the Fallen

"I am Optimus Prime, and I send this message so that our past will always be remembered. For in those memories, we live on".

My first impression is: great robot story BUT with too (quoting my wifey words) "corny" human story.

Transformers 2 is good movie. For me, it is quite as expected since one of the executive producer is Steven Spielberg. The robot fights and variations served us with more complicated and more fantasies at the same time. There are several new robots and it make us confused. Well, for me I know a bit better to recognize them as Transformers animation is one of my childhood favorite movie. If you are one of Transformers fans, than this movie is not bad to watch. Just to enlighten our dream about cool-cars-robots.

However, I am a bit annoying by the human story. They act corny with too many sensual stuff. I am really disappointed to witness Megan Fox (as Mikaela Banes) at the first scene of this movie acting "out of my sense". How come she paint brushed a motorcycle tank with seductive view? Totally strange and unnecessarily attractive. She made several sensual poses in the movie and somehow it undercast her true-quality acting. There are more scene and setting that made me think, maybe we do not need human in Transformers. Let's the robot owned their screen by themselves.



Excel: Our cherrie from "the market for lemon"


Meet our new family member. Her name is Excel, originally from Hyundai Excel. This is the evidence of our participation in 'the market for lemon'. Although we got her from such market, she is not a lemon instead she is a cherrie. Yes, indeed. She is quite a good and well conditioned used car, and we felt in love at the first time we saw her. And lately, she's already become important part of our daily routines in Canberra.

We consider Excel as cherrie due to several aspects that to some extent able to cope the problems of lemons market. First, the previous owner provide us with all information regarding Excel's past history. We know that she is the first hand car and regularly serviced in local authorized service center from her complete records, including service billing expenses. She also looks good in condition, started from external (paint colour, for example) as well as interior conditions (cleanliness on dashboard, door trim, etc).

Second, the previous owner also fair enough by revealing some of Excel's "unfortunate" conditions. Such conditions including some scratch in front bumper, broken handle at the back chair, and several minors. All of those problems definitely will not affecting Excel's performance and other can be solved by purchasing the parts at the service center. It is not necessarily to do very soon.

In respect to first and second reasons, Excel's previous owner succeed to diminish the asymmetrical information with respect to Excel quality. In this case, we certainly sure that Excel is not "perfectly" lemon. And since she is already become our family member, we will consider her as "Excel the cherrie". You are all welcome to ask for her ride when you have a chance.


Friday, June 26, 2009

R.I.P. "The King of Pop" - Michael Jackson


It is quite shocking to read this morning news about Jacko. I believe, he is one of the living legend in music industry that until his last breath trying so hard to make his existence in music obvious. Despite of all scandals, freak behavior and all of 'nasty' stuff (you can find in many tabloids), he is still one of the best musician that earth ever had. It is hard to find a musician with such quality and able to keep his music soul running all over the century.

I am not a big fans of him, but I remember and do like some of his song. And, again, for me there are none of todays musician that able to beat his greatness. So, may you rest in peace, Jacko. Thank you for your music...



Monday, June 22, 2009

My support to my beloved Indonesia


You should see at the bottom of the my new shoes box to guess what I mean by "support" is.

I need a walking shoes and this shoes should have additional function for hiking as well. I do not want to have several shoes for different purposes. After few hours looking for different type of shoes and various price tags, I end up with this one.

I like its model and functionality. But, the most thing that makes me "proud" is that the best shoes that fit with my foot and my interest is made in Indonesia. Ok, you may say that I am a bit chauvinist or irrational. But, what can I say? This shoes really fit in and it rise me with another feeling - my patriotism (or anti-neoliberalism?? what the hell!).

There are other types of them (from the same brand), but they are made by Vietnam or China. My nationalism mixed up with my needs, and somehow both of them agreed on one point. I love good product, with affordable price and I hope Indonesian industries keep on trying to make their goods (export) to be as good as the one that I bought today.

Merdeka!


Saturday, May 16, 2009

Untitled

Oh, Hyang Agung... berikanlah kami kedamaian...

Jangan biarkan aku menemukan kesalahan orang-orang selain aku, namun
biarkanlah aku terus menemukan hanya kesalahan yang menjadi milikku seorang.

Jangan biarkan aku mengkerdilkan kehidupan, namun
biarkanlah aku terus mengembangkan kehidupan bagi segenap makhluk berikut semestanya.

Jangan biarkan aku tak sedikit menyadari kehadiranmu dan seluruh umat tanpa kecuali, namun
biarkanlah aku menemukan dan menikmati setiap cuil hadirmu bersama mereka sekalian umat manusia.

Abadikanlah sebuah doa sederhana untuk semua selain diri sendiri...

bersama angin malam

Tadi malam, dalam perjalanan sepiku, angin malam menyapa sendu. Ia mencari di mana seharusnya boleh berada. Ia mengiringiku di sisi jendela, menerpa halus dengan desir bisikannya di telinga. Mengajakku berbincang... Dan lepas tengah malam dalam perjalanan sepiku, hanya angin malam lah ternyata ingin mengajakku berbincang.

Angin malam tak pernah boleh berhenti, ia harus terus berhembus. Itu yang dijeritkan dan dituntut oleh dia dan mereka. Ia tak pernah diberi pilihan, hanya hukum alam yang coba ia jalani. Mengisi ruang yang belum terisi atau keluar dari ruang yang sudah penuh terisi. Ia yang menjaga keseimbangan, tapi tak ada satu pun yang pernah menghiburnya. Aku tak bisa mengucapkan apapun padanya, tidak pujian pun kasihan. Aku pun secara tak sadar sering merasa demikian. Mungkin karena itulah, seiring malam kian dalam dan perjalanan sepi belum pula berhenti mendatang, kian dekatlah kami berdua.

Selebihnya, aku sedang tak ingin berbagi dengan kalian tentangku bersama angin malam. Kami berdua begitu saling mengerti. Jangan kalian tanya kenapa, aku tak yakin bilamana kalian bisa mengerti sedikit pun.

Tuesday, May 12, 2009

Jual Cepat: LCD Monitor 17"

Jual LCD Monitor bekas dengan kondisi sangat mulus, merk Acer 1716W LCD Monitor. Kardus, kabel tambahan dan buku manual masih ada. Detil spesifikasi dan review bisa dilihat di sini. Harga penawaran Rp. 1juta.

Jika berminat silahkan hubungi per telpon atau email.

Update: jika ingin lihat foto asli dari LCD dimaksud silahkan lihat dibawah ini. Maaf untuk distorsi lampu kilat kamera-nya.

Update (27 Mei 2009): SOLD!

Jual Cepat: 2 External Harddisk

Ada 2 jenis External Harddisk bekas yang ditawarkan di sini.

Pertama, external harddisk kecil (seukuran saku) 2.5" dengan kapasitas 100GB. Cocok untuk yang senang membawa-bawa banyak file. Kondisi sangat baik. Harga penawaran Rp. 250ribu.



Kedua, external harddisk 3.5" dengan kapasitas 250GB. Merk Freecom, dengan kipas pendingin yang kebisingannya rendah. Ada tombol on-off dan lampu indikatornya. Adaptor listriknya cukup kecil, dan ukurannya tidak terlalu besar serta tidak terlalu berat (bonus tas berbahan parasut untuk membawanya). Cocok untuk backup di kantor atau rumah. Spesifikasi lengkap bisa lihat di sini. Kondisi mulus dan terawat. Harga penawaran Rp. 750ribu.


Jika berminat, silahkan hubungi per telpon atau email.

Update (27 Mei 2009): SOLD! - kedua-duanya

Jual Cepat: Uninterruptible Power Supply


Jika ada yang membutuhkan sebuah Uninterruptible Power Supply (UPS), merk ProLink kode produknya: UPS ProLink Pro-650P. Kondisi masih baru, karena belum sempat digunakan, manual dan kabel masih lengkap. Cuma tidak ada kardusnya saja. Harga penawaran: Rp. 500ribu.

Spesifikasi:
Capacity 650VA, Input Voltage range: 140 ~ 285V, Phase: Single + GND, Frequency range: 40 ~ 70Hz, Output Voltage Range: 220VAC + 17%–22%, Frequency: 50Hz ± 1Hz (Battery Mode), Battery Type: 12V7AH – 1pc, Backup Time: 8 – 20 minutes depending on load, Charging time: 90% capacity after 8 hrs charging, Net Weight: 7kgs, Dimension: 41 x 16.4 x 22.6 mm (HxWxD).

Jika berminat hubungi per telpon atau email.


Sunday, May 03, 2009

Obituari: Saung04


Pada awalnya kami adalah sekumpulan penghuni suatu blok di sebuah perumahan bernama Permata Depok Regency (PDR). Kami mendapati sebidang tanah yang tidak diurus oleh sang developer – PT Citrakarsa Hansaprima. Tanah tersebut tampak kumuh serta dihuni ilalang yang tinggi dan lebat serta berbagai hewan melata. Saluran airnya penuh sampah yang terjebak arus air yang tak mengalir. Letak tanahnya tinggi sehingga mewujud tebung yang kerap longsor ketika hujan deras berkunjung. Saluran airnya yang lebar selalu meluap dan menimbulkan banjir jika hujan deras datang. Kami melihat kesia-siaan yang abadi di tanah tersebut. Kami merasakan ketidakpedulian sejati dari Sang Developer. Dan kami pun merasa harus berbuat sesuatu. Maka muncul kemudian ide mendirikan Saung.

Awalnya kami belumlah begitu saling dekat mengenal satu dengan lainnya. Kerja bakti pertama kami di tanah Saung adalah pembuka pertautan dan kerjasama para penghuni. Tanah Saung kami pedulikan dengan membersihkannya dari ilalang liar. Sampahnya kami sisihkan dan merapikannya agar tak menumpuk. Tanah longsornya kami jaga dan awasi agar mampu menampung air tanpa harus longsor setiap kali hujan datang. Setelah semua senda gurau dan peluh keringat, di atas tanah tersebut berdirilah sebangung saung sederhana kami.

Awalnya dari bambu-bambu yang disusun bersama menjadi bangunan seluas 3 x 3 meter persegi. Resmi selesai pembangunannya dan mulai digunakan pada tanggal 20 Maret 2008. Bolehlah dianggap hari ulang tahun atau hari jadinya. Kami mengisinya dengan berbagai ragam kegiatan dan cerita yang penuh kesan: rapat RT (kami akhirnya memiliki status RT sendiri yaitu RT 04 RW 10); persiapan perayaan 17 Agustus-an di tingkat RW; arisan perdana; tempat pengajian anak-anak; permainan karambol; rapat penolakan UPS; demo menuntut tanggung jawab dan janji developer yang tak pernah ditepati; perayaan tahun baru 2009; dan berbagai kegiatan yang terus menambah semangat kekeluargaan dan keakraban kami. Suatu kesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. (Lihat selengkapnya di sini)

Namun akhirnya tibalah saatnya perpisahan. Si Tuan Tanah – PT Citrakarsa Hansaprima – si pemilik alias developer yang abai akan nasib dan kondisi si tanah memintanya kembali tanpa suatu kesan apapun. Meski sedih dan kecewa tapi kami pun merelakannya. Bukan hanya karena memang kami tidak berhak atas tanah tersebut. Melainkan, karena biar bagaimana pun, Saung telah memberikan kami pelajaran dan semangat yang tiada seorang pun bisa mengambilnya. Saung boleh tidak ada lagi tapi kebersamaan kami akan tetap terjalin erat.

Saung 04 telah resmi ditutup dan dibongkar. Kami kembalikan ia kepada yang berhak tapi tiada peduli. Kami pasti akan merindukannya. Dan kenangan terbaik tidak akan terlupakan. Ia bukan sekedar Saung biasa. Ia adalah Saung lambang kebersamaan warga RT 04 RW 10 Perumahan Permata Depok Regency. Selamat jalan Saung, terima kasih atas semua suka dan cerita di bawah naunganmu.


Update: Koleksi lengkap foto-foto perpisahan dengan Saung04. Terima kasih Pak Dion untuk dokumentasinya.

Wednesday, April 08, 2009

'golput'

A nice post in a Young Economists' Talk@ Starbucks as it tried to relate free coffee promotion by starbucks with 'not using my vote' preference (in Indonesian language commonly called "Golput" - Golongan Putih or Non-Color Group).
The Starbucks free coffee promotion is one classic example on how incentives works. During non-working day due to general election, they try to attract customers attention by inviting them to Starbucks. The same situation also apply with the general election (April 9, 2009), where most of the candidates also tried to attract voters' attention and wish to get vote as much as possible. The main problem with the candidates is that they not clearly offered the incentives to the voters to vote them. In my opinion, I am not getting any idea on why I have to vote them. You may take a look the reasons why I am not preferred any of the candidates at all here and here.

Regarding the picture above, it should be very clear for many of you that not using my vote is my right. In fact, by not using my vote I am creating a constructive incentives for political actors to be better. Why? Because if I consciously using my preferences then I should expect the best candidates will appears and not only the "free-riders" type of candidates. Thus, this year I will let the "nonsense" candidates playing in the political arena but I will not vote for them. Rather, I might be going to the Starbucks to enjoy the free coffee as it is more beneficial for me definitely. I will enjoy my coffee while I am waiting for potential candidates and better election systems in Indonesia to be working well together. Finger cross!

Happy vote my fellow Indonesian!

Monday, March 30, 2009

keuntungan dibalik penderitaan

Sumber foto: kompas.com

Silahkan kritis dan mengolah pehamaman Anda semua dengan segenap hati nurani dan pikiran jernih, di negeri manakah ada kesenangan dan keuntungan yang diambil saat bencana baru saja terjadi? Hanya di negeri Indonesia...
Entah mengapa orang Indonesia sangat senang menengok "penderitaan". Yang lebih ironis, orang Indonesia sangat senang menengok "penderitaan" orang lain. Betul! Indonesia memandang setiap peristiwa 'tragis' tak lebih daripada 'hiburan'. Dan karena itu, banyak pihak yang bisa mengambil keuntungan atas penderitaan yang timbul dari peristiwa tragis tersebut. Mengapa harus menyempatkan diri untuk datang bersama seluruh keluarga besar ke lokasi bencana, hanya untuk melihat-lihat, membuat komentar, ngobrol ini itu, dan bahkan berfoto di lokasi? Tapi mengapa sulit untuk Indonesia disiplin membuang sampah? Mengapa sulit untuk tidak membuang sampah ke saluran air, apalagi danau dan sungai? Mengapa sulit Indonesia mengakui bahwa penyebab semua bencana yang datang belakangan ini adalah karena perilaku masa bodoh yang dipupuk dengan suburnya.

Aku tak percaya bahwa bencana yang belakangan rutin menyambangi Indonesia adalah karena kehendak Tuhan. Aku tidak percaya semuanya datang karena alam yang murka. Aku tidak percaya bahwa itu semua karena nasib. Tapi aku percaya semuanya datang karena Indonesia masing-masing egois. Dan kebiasaan ini benar-benar menyebalkan... Sangat menyebalkan!

Silahkan katakan aku sinis, tapi aku merasa persamaan matematis berikut ini sangat mewakili mental dan semangat Indonesia tentang bencana:


Saturday, March 28, 2009

sekali lagi alam bersabda...

Turut berduka dan sangat terpukul membaca berita bencana Situ Gintung. Doa sudah pasti teriring bagi para korban agar dilapangkan jalannya dan bagi yang selamat agar segera pulih dan tabah menghadapi bencana ini.

Namun demikian, doa dan kepedulian saja tidak cukup. Tidak cukup untuk mencegah bencana serupa tidak terjadi lagi. Pesan yang jelas hadir setiap hari di negeri Indonesia ini adalah alam telah bersabda dengan menunjukkan betapa tidak pedulinya kita - umat manusia Indonesia - akan potensi yang dimiliki negerinya sendiri. Kita terlalu sering tidak peduli (ignorance) bahwa kita terlalu asyik dengan penguasaan dan kenyamanan. Kita lupa bahwa alam kita manfaatkan hingga batas-batasnya terlampaui. Dan alam, bukan melawan balik, melainkan menunjukkan ketidakmampuannya untuk terus menyenangkan umat manusia Indonesia terus menerus.

Kita bisa sebut curah hujan yang tinggi sebagai penyebab jebolnya tanggul di Danau Situ Gintung. Tapi, apakah menyalahkan curah hujan yang tinggi akan mencegah kejadian serupa tidak terulang? Tidak. Karena bukan itu penyebab utamanya. Pendangkalan yang terjadi di danau tersebut tidak kurang sebabnya karena ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah akan kinerja situ tersebut. Situ Gintung bukan tempat yang kekuatannya tak terbatas, dan kita sudah melampui batas tersebut.

Apakah kita masih diam dan tidak peduli? Bukan hanya pada kasus situ, danau, bendungan, atau sistem irigasi lainnya. Melainkan pada daya dukung lingkungan terhadap pesatnya "pemuasan" yang ingin didapat oleh manusia. Cobalah sedikit merenung dan melihat di sekitar kita, sudahkah kita memperhatikan kerusakan lingkungan yang timbul akibat perbuatan kita sehari-hari selama bertahun-tahun?

Wednesday, March 25, 2009

Renungan Hati dalam Sunyi: "Selamat Tahun Baru Caka 1931"


Kutipan sederhana oleh Gede Prama dalam artikelnya yang berjudul Bunga Tidak Pernah Bersuara,
"Hidup serupa bawang merah. Di luar kotor kecoklatan. Tatkala dibuka jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tambah dibuka tambah putih. Dan, tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh."
Jika Anda baca artikel tersebut, maka tidak ada kata-kata suci di sana melainkan suatu ajakan untuk melihat ke dalam diri sendiri secara utuh. Memahami hati adalah memahami keseimbangan, bukan penguasaan atau pengendalian. Bukan didorong oleh doktrin atau hukum-hukum semata, melainkan kesadaran tertinggi dalam memahami hubungan suci antar sesama manusia, antar manusia dan alam, serta manusia dan Tuhan.

Selamat Datang Tahun Baru Caka 1931,
Selamat Datang Nyepi,
Selamat Datang Damai...
bagi seluruh umat manusia dan semesta alam.




Artikel menarik lainnya (in English), lihat di sini.

Wednesday, March 18, 2009

Status 7: Pekerja tak dibayar

Cerita menarik dari Harian Republik tentang Survey Statistik Tenaga Kerja:
Setelah diberlakukannya integrasi sistem peng-upah-an di Universitas terkemuka di negara Republik selama 3 bulan, secara kebetulan kantor statistik di negara Republik baru-baru ini juga melakukan survey angkatan kerja untuk mengetahui dampak krisis ekonomi global terhadap ketenagakerjaan di negara tersebut. Salah satu pertanyaan yang diajukan dan diidentifikasi adalah status/kedudukan pekerjaan utama selama seminggu sebelum survey dilaksanakan.

Ketika beberapa staf pengajar di Universitas terkemuka terpilih dalam sampel survey, analisis statistik menemukan banyaknya Status No.7 (lihat gambar) yang dilingkari atas dasar jawaban para staf pengajar tersebut. Hal tersebut mengejutkan para pemerhati statistik dan membingungkan. Mengapa hal tersebut terjadi?


Untung saja, salah seorang pemerhati data tersebut saat ini juga sedang melanjutkan studi di Universitas terkemuka dan mengetahui bagaimana nasib para pengajar di sana. Si pemerhati plus mahasiswa menjelaskan bahwa fenomena tersebut timbul karena waktu pelaksanaan survey yang bertepatan dengan telah diberlakukannya integrasi sistem peng-upah-an di Universitas terkemuka yang memunculkan fenomena banyak pengajar di sana yang belum menerima upah mereka hingga 2 bulan lamanya atau tidak menerima upah yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Padahal, pertanyaan dalam survey hanya mencakup satu minggu sebelum survey. Itulah sebabnya banyak ditemukan status 7 di Universitas terkemuka negara Republik karena saat ini para pengajar tersebut menjadi "pekerja yang tak (belum) dibayar" hingga lewat dari seminggu sebelum survey.

Kesimpulan lain yang disajikan oleh si pemerhati plus mahasiswa tersebut adalah bahwa ternyata krisis ekonomi menyebabkan teralokasinya dana yang seharusnya untuk membayar upah para pengajar ke proyek-proyek mercusuar di Universitas terkemuka. Selain itu, pimpinan Universitas terkemuka menganggap profesi sebagai pengajar di perguruan tinggi tidaklah ada bedanya (indifference) dengan guru di tingkat sekolah menengah. Ditengarai, jika keadaan ini berlanjut dapat disimpulkan bahwa menjadi guru sekolah akan jauh lebih sejahtera dibandingkan menjadi pengajar universitas. Namun untuk menyimpulkan bahwa akan terjadi migrasi profesi dari pengajar universitas ke guru sekolah masih dianggap terlalu prematur dan sulit disahihkan mengingat data yang belum memadai dan terlalu terbatasnya cakupan data. Penelusuran dan perhitungan yang lebih teliti dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang mungkin berdampak pada struktur ketenagakerjaan di negara Republik. Selain itu survey ulang juga diduga bisa mempengaruhi hasil tersebut.
Jika dilihat secara keseluruhan, perubahan status pekerjaan dari para pengajar perguruan tinggi tidaklah terlalu memiliki dampak relatif terhadap kepemimpinan dan kekuasaan yang ada di tingkat Universitas, bukan? Seperti halnya di tingkat pusat atau negara, kekuasaan dan hegemoni di Universitas juga tidak berbeda jauh. Kecerdasan dan intelektualitas tidak terlalu berperan jika membahas kekuasaan dan hegemoni.



Galungan & Kuningan


Selamat Hari Raya
Galungan & Kuningan

Semoga segala kebaikan dan kedamaian datang dari segala arah...
demi kesejahteraan dan kebahagiaan semesta alam serta isinya.

Tuesday, March 17, 2009

I choose to use my conscious brain

Well, I found a legitimate scientific support for my preference on today's legislative election. Tirto Susilo, a doctoral candidate in the Pschology Department at the ANU wrote in The Jakarta Post, that in order to make decision for instance vote for legislatives mainly involving two brain systems:
I believe, I choose to use my conscious brain. And using that rational system, I found more cons with all the candidates on today's election. And for all of you who still believing your intuitive system, just echoing what Tirta had warned, "beware of those faces". And I would like to add further, "beware also of their numbers and party's symbol".

Monday, March 16, 2009

jadi pemilih yang tidak cerdas deh...


Iklan tersebut mengatakan "pemilih yang cerdas, memilih wakil yang berkualitas". Karena bagiku sulit memilih wakil yang berkualitas, maka aku bukanlah pemilih yang cerdas kan. Poin utamanya adalah bagaimana mengukur kualitas wakil rakyat yang ratusan banyaknya? Terlebih lagi, apakah kualitas yang tampak pada saat kampanye tidak akan berubah nantinya setelah mereka terpilih?

Karena aku bukanlah orang/pemilih cerdas, maka aku tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Dan karena tidak mampu menjawab, maka aku tidak akan bisa menemukan wakil yang berkualitas. Dan karena aku tidak akan mampu memilih yang berkualitas maka aku bukanlah pemilih yang cerdas. Dan, karena aku bukan pemilih yang cerdas, maka aku tidak perlu memilih kan? Daripada aku yang tidak cerdas malah memilih wakil yang tidak berkualitas?

Selamat menikmati hari pertama kampanye Pemilu 2009, 16 Maret 2009...

Integrasi sistem peng-upah-an


Alkisah, di suatu era dimana terdapat pemimpin baru di sebuah Universitas terkemuka di negeri Republik. Sang Rektor dengan gagah berani mencanangkan sebuah kebijakan yang disebut Integrasi Sistem Remunerasi (baca: Peng-Upah-an) yang konon dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi di Universitas terkemuka tersebut. Tanpa perlawanan dan diskusi yang berlarut-larut, semua warga dan anggota Universitas tersebut mengikuti sistem baru nan hebat itu.

Dahulu, sebelum sistem 'hebat' tersebut dijalankan, jalannya sistem peng-upah-an secara kasat mata dirasakan cukup lancar dan tidak ada masalah yang sistemik pada tingkat fakultas. Entah bagaimana sistem non-integrasi tersebut dijalankan, namun secara pasti berbagai bentuk balas jasa seperti honor, upah dan sebagainya di Fakultas dibayarkan dengan mekanisme yang cukup lancar. Tidak ada keterlambatan dan semua pihak menerima jumlah yang sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Tidak ada keluhan atau pun hal-hal yang dirasakan mengganggu. Yang pasti, warga fakultas menerima apa yang menjadi hak mereka atas kewajiban yang telah dilaksanakan tepat pada waktunya.

Kini, sudah 3 bulan sejak Sang Rektor memaksa terlaksananya sistem integrasi tersebut. Tanpa persiapan yang memadai dan kesigapan dari sumber daya manusia di tingkat pusat (baca: Rektorat), sistem tersebut dijalankan dan mulai menuai berbagai intrik, masalah, dan ketidakadilan. Yang paling dirasakan saat ini adalah terlambatnya remunerasi dibayarkan (baca: ditransfer) kepada yang berhak. Selain ketidaktepatan waktu, masalah lain yang timbul adalah jumlah yang diterima juga tidak jelas, jika tidak bisa dibilang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Padahal, pada saat Sang Rektor berkampanye dan menjual idealisme-nya, beliau berjanji akan meningkatkan kesejahteraan dalam bentuk menaikkan upah para pengajar.

Namun, apa lacur. Belum lama menguasai tampuk pimpinan beliau malah mengurangi "balas jasa" para pengajar bahkan membayarnya secara terlambat. Sebagai contoh, "balas jasa" beberapa dosen yang secara rajin mengajar di bulan Februari lalu sama sekali belum dibayarkan sepeser pun hingga lewat pertengahan bulan Maret ini. Tanpa penjelasan atau pemberitahuan perihal sebab musabab hal ini, banyak para dosen yang harus menerima kenyataan bahwa mereka bekerja tanpa dibayar hingga hampir 2 bulan lamanya. Ada lagi beberapa pengajar yang menerima transfer balas jasa mereka, tapi jumlah yang diterima tidak sampai sepertiga dari perhitungan jumlah kelas yang dia ajarkan. Artinya, mereka dibayar tidak sesuai dengan kewajiban yang sudah mereka laksanakan. Kembali, tidak ada penjelasan atau pemberitahuan mengapa jumlahnya tidak sesuai.

Pihak-pihak berkepentingan dan terkait sudah ditanya, namun jawaban mereka selalu berputar di hal-hal teknis: kesalahan transfer di bank, antri dan menunggu giliran, rekapitulasi dari fakultas belum lengkap, dan sebagainya. Bahkan ada yang menjawab tidak tahu. Tidakkah ini berarti bahwa sistem integrasi ternyata belum siap dijalankan secara penuh? Pertanyaan tersebut boleh digunakan untuk mengganti pernyataan bahwa mungkin sistem tersebut gagal total. Yah, hanya Sang Rektor nan hebatlah yang bisa menjawab dengan pasti mengapa sistem 'hebat' yang beliau tawarkan tidak mengganggu transfer upah beliau sendiri melainkan menghambat pun memotong upah dari para stafnya yang langsung berhadapan dengan para mahasiswa.
Anda pasti bertanya, apa mungkin ada universitas yang demikian di Indonesia? Jika Anda bertanya pada para pejabat di negara Indonesia, mereka pasti akan menjawab tidak ada. Dan mereka akan mengatakan bahwa universitas tersebut ada di negara tetangga Indonesia yang bernama negara Republik.

Iya, negara Republik sebagai negara tetangga Indonesia mempelajari apa yang dialami oleh Indonesia dan bagaimana Indonesia selama ini menjalankan pemerintahannya. Mungkin, negara Republik mempelajari bahwa sistem desentralisasi atau otonomi daerah yang dijalankan oleh Indonesia tidak berhasil mengangkat kesejahteraannya, maka negara Republik mencoba melakukan eksperimen dengan Universitas terkemuka mereka dan menerapkan sistem sentralisasi (atau "Integrasi") agar tidak mengalami seperti apa yang dialami oleh negara Indonesia. Sang Rektor Universitas terkemuka di negara Republik tersebut dengan bangga menjalankan berbagai program sentralisasi nan hebat tersebut, dan mengklaim bahwa kebijakan tersebut akan membawa perbaikan dan kemajuan bagi Universitas. Namun, menurut berita dari harian-harian terkemuka di negara Republik, yang terjadi justru sebaliknya.

Sebuah kisah yang menarik, bukan? Aku akan tetap memberi kabar terbaru dalam posting selanjutnya.


Wednesday, March 11, 2009

Just my two cents for Berly's article

Berly made a very good article in The Jakarta Post that you should read here.

Somehow I feel that he emphasizing reason no.2 of why I would not vote for legislative election this year. Although he did not clearly mentioned that he also share my perspective on being non-voter this year, like he said
"Don't get me wrong, I am serious about my civic responsibility and never miss voting in elections, even when I was studying abroad. I have every interest in exercising my rights and ensuring the next government is competent and responsive to people's needs"
Thus, in this matter I assumed he will vote and he know for sure who is that candidate. Right, my friend?

On the other hand, at the end of his article he suggest "Use the money well, introduce us to the candidates". However, I believe with such a tight schedule (read: not enough time available), the candidates will race with every possible way to make sure that we - the voter - to vote them no matter how well we know them. What I mean is their main objective now it to get as many vote as possible. After that, who cares...

Anyway, Berly indeed wrote a very good opinion in this article. Bravo!


Monday, March 09, 2009

Kenapa aku 'ogah' milih?

Kenapa aku tidak ingin menggunakan hak pilih-ku tahun ini? Aku tidak ingin memilih, terutama untuk calon anggota legislatif karena beberapa alasan berikut ini:

1. Terlalu banyak banyak partai
Terlalu banyak jelas tidak menyenangkan. Membingungkan dan membuat peluang berbuat kesalahan menjadi lebih tinggi. Selain itu, banyaknya partai saat ini tidak mencerminkan perbedaan yang signifikan, melainkan hanyalah variasi kemasan yang ujung-ujungnya tidak memberi pengetahuan atau pilihan yang signifikan. Tidak ada satu pun partai yang secara unik mengusung program mereka sendiri, semua partai pasti memiliki irisan ideologi atau pun program dengan partai lainnya. Tidak heran, banyak partai yang sebenarnya adalah sempalan dari partai-partai yang sudah ada sebelumnya.

2. Terlalu banyak calon legislatif
Calon legislatif sendiri merupakan sosok yang "misterius". Siapa yang benar-benar mengenal calon legislatif yang akan dipilih kecuali dia tetangga kita sendiri atau teman karib? Meskipun kita benar-benar mengenal si calon legislatif, namun satu suara kita belum secara pasti dapat menjamin bahwa si calon legislatif bakalan dapat tempat di anggota dewan semata-mata karena perlu dukungan suara yang tidak sedikit. Jika pesaing (baca: calon legislatif lain) juga banyak dan dikenal, berarti kita sebenarnya tidak memilih calon legislatif karena kemampuan mereka melainkan lebih karena kita kenal mereka atau tidak. Hal ini menurutku menjadi kontraproduktif, karena kenal calon legislatif tidak bisa menjamin bahwa dia memang benar-benar mampu menjadi anggota dewan. Sama saja seperti ikut undian...

3. Stigma buruk anggota legislatif
Aku pribadi mungkin cuma sedikit dari sekian banyak orang yang mengetahui dan mengikuti catatan buruk yang ditunjukkan oleh anggota legislatif, kemudian memberi label bahwa semua anggota legislatif adalah buruk. Aku pribadi benar-benar sudah 'mati rasa' dan sulit untuk diyakinkan bahwa anggota legislatif itu diperlukan saat ini. Untuk apa memiliki anggota legislatif yang arogan dan kerja tidak beres (banyak rancangan undan-undang yang tidak selesai dibahas), tapi menerima gaji yang sangat besar, mendapat fasilitas kelas satu di negeri ini, bisa tidur di tengah rapat atau madol dari jadwal sidang, sibuk lobi-lobi politik bukan mendengarkan aspirasi rakyat, dan... korup pula! Apakah tidak ada anggota legislatif yang baik? Oh, ada tapi mereka sudah tenggelam di tengah perilaku umum anggota yang lain ATAU mungkin mereka sudah ikut serta - suka atau tidak - karena harus bertahan hidup.

Jadi, untuk pemilihan anggota legislatif aku sudah berpikir pragmatis dan sulit menerima argumen apa pun. Ketiga hal di atas terlalu kuat dan semakin terbukti bahkan hingga menjelang pemilu beberapa hari ke depan. Silahkan jika karena pemikiran dan pendapat ini aku akan dianggap berdosa atau tidak peduli dengan nasib bangsa. Jika aku berdosa, maka sudah jelas aku sendiri akan dihukum. Dan jika aku dianggap tidak peduli dengan nasib bangsa, aku merasa sangat peduli makanya aku tidak ingin memperparah 'ritual' politik yang tidak memberi nilai tambah apa pun kepada negeri ini. Lebih baik aku menunggu pemilu presiden, mudah-mudahan akan ada calon benevolent dictator bagi Republik. Jika ada calon demikian, aku akan menggunakan hak pilihku...


contreng=rumit + tidak ekonomis + sulit

Sangat setuju dengan si penulis - Putu Setia. Meskipun aku tidak setuju dengan istilah "sistem yang cerdas", karena aku tidak pernah mampu membayangkan dibagian mana "kecerdasan" suatu sistem yang beralih dari suatu metode yang relatif sederhana dan mudah digunakan oleh berbagai kalangan (mencoblos) ke suatu metode yang relatif rumit, tidak ekonomis, dan sulit digunakan oleh kalangan tertentu (contreng).

Relatif rumit karena bentuk dan ukuran menjadi sensitif dan bisa mempengaruhi hasil. Mencontreng kurang jelas, maka akan tidak sah. Mencontreng kelebihan juga tidak tepat. Bentuknya tidak sesuai bisa jadi juga tidak sah. Dan seterusnya.

Sangat tidak ekonomis karena harus membeli sejumlah ballpoint atau spidol atau alat tulis lain yang mana pasti relatif mahal (bandingkan dengan bambu, kayu, atau sebatang paku yang bisa dibeli dengan sangat murah bahkan gratis). Apalagi jika kemudian bekerja tidak sebagaimana mestinya, misal karena habis tintanya, kering, atau rusak maka biaya lagi dan akan mempengaruhi proses pemilihan.

Sulit digunakan karena - seperti disebut juga oleh Putu Setia dalam artikelnya - bagi para buta huruf atau masyarakat yang kesulitan baca tulis maka metode ini jelas tidak "bersahabat" untuk mereka. Dan, mereka ini lah yang rentan menjadi media "politik uang".

Memang di Indonesia ini unik. Lembaga pemerintahan dan lembaga tinggi negara banyak manusia-manusia hebat yang pintar, beragama dan beriman, tapi tidak mampu membuat hidup lebih "sederhana, sesuai fungsi dan manfaatnya, dan berguna bagi masyarakat luas". Banyak orang-orang pintar tapi keblinger.


Saturday, March 07, 2009

tajuk rencana Kompas yang bagus...

Tajuk Rencana dari Kompas hari ini seharusnya kita pahami secara mendalam ke dalam relung hati kita. Bukan hanya karena isu korupsi besar-besaran yang masih dilakukan oleh berbagai aparat pemerintah dan lembaga tinggi negara, namun lebih karena "apakah kita masih menganggap semua itu perilaku atau sebuah aib?". Seperti disebutkan dalam Tajuk tersebut,
Sebaliknya kita kembangkan kebiasaan permisif terhadap perilaku tercela, menyebut misalnya apa yang menimpa mereka yang tertangkap tangan korup, yang diadili karena korupsi, sebagai orang sedang ”apes”.

Sedemikian besar narsisisme menjadi bagian dari kehidupan kita, sedemikian parah dan sulitnya menegakkan hukum. Padahal, hukum tidak punya arti tanpa moralitas.

Sekali lagi, kita sudah terlalu lama menganggap berbagai perilaku "tercela" - sebut saja korupsi, tidak disiplin, dsb - sebagai suatu hal yang biasa. Berbagai sebutan dan anggapan disodorkan, mulai dari "apes", "sial", "tidak paham", dsb. Namun, selama kita terus berkelit dan menghindar dari fakta bahwa kita belum meneguhkan hati dan sikap untuk perilaku yang lebih baik, maka kebiasaan permisif selama ini akan jadi sesuatu yang kelak kita terima secara lumrah dan mungkin akan masuk sebagai salah satu adat istiadat Republik.



Friday, March 06, 2009

angka abadi...

Hari ini aku dan istrinda mengenang "angka abadi" kami yang memasuki tahun ke-7.
Happy "Hari Jadian", sayang...

*silahkan simak juga di sini.


Monday, March 02, 2009

Liputan menarik tentang Rokok dan Kemiskinan

Salut untuk Bung Abdillah!

Apple merambah sepak bola?

Dari Tempointeraktif.Com


Jadi, produk Apple tidak hanya untuk musik dan kesenangan saja. Melainkan bisa jadi akan mulai menjadi bagian dari strategi pertandingan olahraga dunia kelak. Sangat setuju bahwa ini merupakan suatu inovasi. Bravo untuk Apple dan juga untuk Manchester United!

Berita terkait bisa dilihat lagi:



Quote of the day: Kalimat suci...

Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.
Mungkin pada mulainya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguits itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.



Sunday, March 01, 2009

Safari 4 Beta: First Impression...

When I read the news about Safari 4 Beta here, I was curious and wondering how great this new browser could be? Currently, I am quite comfortable with Firefox and I believe its still the greatest internet browser ever exist so far. In addition with "Beta" label, I am just underestimating the Safari 4 and try it just more than a week after I downloaded it. But, I would like to change my mind now...

Apple claimed that they serve 150 new features in the Safari 4 Beta. Since I am not that tech-geek, honestly I do not understand most of the features. However, if you feel the same way as basic user like I do, these 3 main features makes Safari 4 Beta obviously soon become the interesting browser ever.

First, the browsing and navigation feature of Top Sites. As you can see in the screen shot, Safari 4 can display your favorite websites and display them with Matrix style as a wall of stunning graphical previews. With a single click on the icon look like bunch of small tile, you can see this list of sites, arrange them according to your order or number of sites and you may choose them if you wish to visit them. I really love this features as it is fast, cute, but still functional indeed. If you really do not get the real functionality of this features, using it will gives you a cool way of browsing in front of your friends.

Second, cover flow feature in History view. If you visited several web pages during the day, you may wish to take a look at them again sometimes later. In my case, sometimes I forget the address or the detail so it may take hours to search and try to find them. In Safari 4, you can display my history using Cover Flow, and I can flip through my search result as easily as I am flipping my iTunes album art. It saves a lot of time and it as nice to see the cover page detail to make sure that I re-visited the correct web pages one more time.

Third, the speed of Safari 4 is awesome! I can not show any prove visually about this speed. But as I am still using Firefox at the same time when I tested the Safari 4, I found out that if I browse my Google Reader together both using Firefox and Safari 4, the webpage is pop up and show off completely faster in Safari 4. Some other reviews in fact claimed that Safari 4 is four times faster than Firefox. Try yourself for sure, definitely!

I am still experiencing serious problem every time I tried to visit my Hotmail page. It keep on going to hang or stop responding if I click my inbox. But, Hotmail is the only page that having this trouble. Since Safari 4 still in beta version, hopefully Apple will overcome this issue very soon and make sure that there are no pages having similar issues like my Hotmail.

Thus, if you wish to have fast and fun yet innovative browser you should try the Safari 4. I wish Apple will finalize it very soon and make them the competitive browser for Firefox. Having more than one great application is always a good things to experience with in our life.

This is my first impression on Safari 4 beta. It maybe bias since I am a new dedicated Apple fanboy. But, for more neutral review, check this comprehensive review here.


Bahasa politik...

Dari harian kompas hari ini (1 Maret 2009),
Kini aku mengetahui bagaimana sesungguhnya "bahasa politik" yang digunakan di Indonesia. Dan bagiku, itu bukanlah bahasa yang biasa. Jika definisi dan wujud bahasa politik memang seperti yang diperagakan oleh Effendi serta anggota-anggota DPR lainnya, maka politik di Indonesia sungguh merupakan panggung yang penuh dengan pembelajaran buruk. Panggung politik Indonesia tak ubahnya seperti panggung caci maki dan tidak ada hal yang patut ditiru di dalamnya. Terlebih jika Effendi dan kawan-kawan seprofesi-nya merasa bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa yang biasa, maka tidaklah perlu lagi kita menengok kepada para wakil rakyat tersebut. Seperti dikatakan oleh Eep Saefullah Fatah berikut:
Jika sekali kita setuju dengan Effendi dan kawan-kawan seprofesinya, maka kita akan terus merutinkan kebiasaan dan peradaban tak kenal etika seperti yang terus secara konsisten ditunjukkan oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) saat ini... dan mungkin juga untuk seterusnya.

Maka itu, mengapa kita masih perlu memilih wakil rakyat? Aku sudah merasa tidak perlu untuk memilih wakil rakyat. Mereka semua menyedihkan dan tak layak hadir sebagai panutan pun disebut sebagai wakil lembaga tinggi dan tertinggi negara. Mereka sungguh patut dikasihani...